
Julia menatap suaminya yang saat ini sedang terbaring lemah di atas ranjang. Sepertinya pria itu sangat sulit sekali untuk mengurusi semua masalah yang terjadi akhir-akhir ini di kantor. Julia sungguh merasa tidak tega dengan Alaska apalagi sampai sekarang pria itu belum juga diterima di dalam keluarganya.
Ia bingung bagaimana membuat Alaska akur dengan ibunya karena hanya wanita itu yang belum merestui hubungannya. Julia sungguh sangat mengharapkan dapat bertemu dengan ibunya dan membuat mereka akur dengan suaminya.
Julia yang termenung tidak menyadari bahwa Alaska sudah bangun. Pria itu memandang ke arah Julia dengan tatapan sayu seraya mengucek matanya.
"Kau belum juga tidur? Apa yang membuat mu sampai seperti ini?" tanya Alaska pada Julia yang membuat wanita itu terkejut dan menatap ke arah Julia.
"Alaska," ucapnya dengan suara yang serak dan berusaha untuk kembali pada kesadarannya.
"Kau ada masalah?"
Julia pun menggelengkan kepalanya. Wanita itu menahan napasnya karena membayangkan hal-hal yang tidak ingin terjadi kepada hubungannya dengan Alaska.
"Alaska, aku berpikir bagaimana caranya agar kau bisa bertemu dengan ibu ku dan meminta restu dengan dia baik-baik." Alaska menganggukkan kepalanya. Bagi dirinya tidak ada masalah sama sekali jika harus bertemu dengan ibu Julia. Ia sudah dari lama ingin saling berbaikan dengan wnaita itu. Hanya saja Christy yang selalu enggan berbaikan.
"Terserah mu saja. Aku tidak masalah dengan apa yang kau lakukan. Tapi apakah dia mau berbaikan dengan ku? Atau kita datang dengan percuma nantinya seperti sebelum-sebelumnya?"
Julia menarik napas panjang. Ia tak tahu harus melakukan apa kepada ibunya agar bisa berbaikan dengan Alaska. Sampai sekarang Ia pun belum memiliki cara untuk membuat keduanya saling berdamai.
Sukar sekali untuk bertemu dengan ibunya apalagi di hari tuanya seperti ini ia sering kali marah-marah walaupun tubuhnya sudah sangat rapuh.
"Sudahlah, jangan dipikirkan lagi masalah itu. Aku akan berusaha sebagaimana mungkin untuk meyakinkan ibumu. Aku tahu sampai sekarang dia tidak ingin bertemu denganku. Aku akan menjelaskan kepadanya bahwa kau sekarang baik-baik saja. Dan itu artinya aku menjagamu dengan sangat baik. Satu lagi, akhir-akhir ini tubuhku seringkali kelelahan."
Julia memandang ke arah Alaska dengan tatapan horornya. Wanita itu jelas sangat panik sekali. Iya juga tahu bahwa ginjal yang dimiliki oleh dirinya tersebut ada lagi nggak milik Alaska.
"Alaska, apakah benar bahwa ginjal yang ada pada diriku sekarang adalah milikmu?" Alaska terkejut bukan main saat Julia bertanya hal semacam itu.
Iya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk merahasiakannya dari Julia akan tetapi wanita itu tetap saja mengetahuinya.
"Dari mana kau tahu?"
"Aku mengetahui ini dari Julian. Tidak mungkin kan Julian berbohong kepadaku."
"Ya kau benar. Julian tidak mungkin berbohong kepadamu."
Julia benar-benar tidak menyangka bahwa Alaska bisa melakukan hal semacam itu yang mana akan membahayakan kesehatan pria tersebut sehingga pantas saja jika pria tersebut sering kelelahan dan juga sakit-sakitan.
"Kenapa kau melakukan itu? Apakah kau sama sekali tidak peduli dengan kesehatan mu tersebut?" tanya Julia dengan tatapan tajamnya.
"Bukan maksud ku seperti itu. Tapi keadaan waktu itu sangat darurat dan aku harus mendonorkan ginjalku agar kau bisa selamat dan berada disampingku sekarang."
"Tidak hanya itu yang kau harahasiakan Alaska." Alaska pun menundukkan kepalanya dan ia tahu salah karena telah merahasiakannya dari Julia. "Aku tahu jika kau di penjara. Tapi kenapa kau tidak ingin mengatakannya kepadaku dan malah merahasiakannya sampai sekarang."
Alaska menggelengkan kepalanya. Akhirnya rahasia yang selama ini ia jaga pun terbongkar. Bukan keinginannya untuk merahasiakan hal tersebut, tapi keadaannya sangat terpaksa di mana ia tak ingin Julia bertengkar dengan keluarganya hanya karena dirinya.
Alaska ingin perempuan tersebut menjalin hubungan yang baik dengan ibu kandungnya.
"Seharusnya kau mengerti dengan keadaan. Bukan maksudku seperti itu, kau tahu juga kan apa yang aku maksud dan kenapa aku merahasiakannya. Aku rasa Kau bukanlah orang bodoh untuk mengetahui alasan yang sebenarnya."
Benar apa yang dikatakan oleh Alaska, dia tidak bodoh dan ia sebenarnya tahu betul apa tujuan Alaska yang sebenarnya. Tapi entah kenapa hatinya tetap tidak terima dan berusaha untuk mengatakan bahwa ia lah yang benar.
"Baiklah jika begitu, aku tidak akan marah pada mu."
Julia pun menarik napas panjang dan kemudian merebahkan tubuhnya. Dari tadi ia belum juga tidur sehingga membuatnya sangat mengantuk sekali sekarang.
__________
"Apakah Nenek mau bertemu dengan ku?" tanya Axel dengan tatapan sedihnya.
Julia pun menggenggam erat tangan Axel dan meyakinkan pria itu. Axel pun tak kuasa menahan rasa sakitnya yang sangat dalam di dalam hatinya tersebut. Selama ini ibunya depresi dan bahkan sampai gila tapi Christy tidak pernah kasihan kepadanya. Apalagi Axel juga sama sekali tak pernah mendapatkan kasih sayang yang seharusnya ia miliki.
"Anak tampan, seharusnya kau tidak usah takut seperti ini. Semuanya pasti akan baik-baik saja. Aku akan menyakinkan nenek mu."
Alaska dengan sangat berani dan tega mengatakannya. Kemudian pria itu pun lantas masuk ke dalam kamar Christy.
Christy yang melihat kedatangan menantu dan juga cucunya langsung membuang wajah. Julia pun menundukkan kepalanya dan menatap ke arah Alaska dan juga anaknya tersebut dengan pandangan tidak enak.
"Kalian harus bisa memaklumi nenek mu."
"Nenek. Bagaimana kabar mu? Apakah kau baik-baik saja, dan apakah kau merindukanku?"
"Pergi kau anak haram!" teriak Christy yang sudah sangat emosi sekali. Napasnya pun sampai menggebu-gebu.
Alaska tak sampai hati saat melihat anaknya yang dimarahi seperti itu oleh Christy.
"Apa salahnya? Dia hanyalah anak yang tidak sengaja hadir. Aku yang seharusnya paling bersalah," ucap Alaska dan kemudian tiba-tiba berlutut di depan Christy. Tentu saja hal tak terduga seperti ini cukup mengejutkan.
"Alaska! Apa yang kau lakukan. Kau tak pantas untuk berlutut." Julia berusaha untuk membantu pria itu berdiri.
Namun Alaska sama sekali tidak ingin berdiri dan mengaku salah kepada Christy. Christy melihat hal tersebut sebenarnya dalam benda kecilnya sangat merasa terharu dengan Alaska. Tapi hanya saja ia enggan untuk mengakuinya.
"Nenek. Jika aku salah karena telah hadir membuat hubungan mu dan Bunda retak maka hukumlah juga aku. Karena aku benar-benar sangat bersalah kepada kalian. Aku merasa malu dengan diri ku."
Julia menangis dan hatinya hancur berkeping-keping saat harga diri suami dan juga anaknya direndahkan di depan orang tuanya.
Julia pun menatap ke arah Christy dengan memohon.
"Mama kenapa kok sama sekali tidak ingin mendengar permintaan maaf mereka? Apa yang kurang dari Alaska? Bahkan dia sudah berjuang dan juga telah menjadi orang yang sukses sesuai dengan standar suami idamanmu. Cucumu juga adalah anak yang pintar. Kenapa kau masih belum bisa menerimanya? Kau tahu perbuatanmu saat ini membuat hatiku sangat sakit."
"Julia! Mama lebih lagi merasa sakit hati. Kau tahu Nak, gara-gara dia kau harus menjadi orang yang tidak normal dan juga harus dirawat bertahun-tahun di rumah sakit. Kau kehilangan ingatanmu, Selain itu karena dia juga kau menjadi orang gila."
"Maafkan saya," ucap Alaska yang paling disalahkan di antara sekarang.
"Ma!"
"Sudahlah. Pergilah kalian. Aku memaafkan mu, tapi aku belum ingin melihat wajah kalian. Melihat wajah kalian rasanya benar-benar sangat menyebalkan. Aku sendiri tidak tahu kenapa bisa memiliki anak pembangkang sepertimu. Tidak kau Julia, Julian juga seperti itu. Tapi masih untung Julian bisa aku kendalikan tidak sepertimu yang terus saja keras kepala seperti ayahmu."
"Mama, maaf karena tidak bisa menjadi anak yang baik untukmu. Tapi percayalah aku akan berusaha untuk menjadi orang yang terbaik."
Julia berusaha untuk meyakinkan ibunya tersebut bagaimanapun caranya ia juga harus berdamai dengan ibunya. Bermusuh-musuhan seperti ini sungguh tidak nyaman rasanya. Seharusnya ada dari antara keduanya yang mengalah. Julia ingin mengalah dari ibunya.
"Baiklah. Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Aku juga sudah sangat muak sekali," ucap Christy dan kemudian membuang wajahnya.
"Tapi Mama, apakah kau memaafkan keluarga ku?"
Christy memandang ke arah anaknya tersebut dan juga orang yang dibencinya yang belum juga pergi. Ia memang tak memiliki pilihan lain selain untuk menyetujui hubungan Alaska dan juga Julia. Mereka juga sudah memasuki kepala empat dan itu artinya mereka benar-benar cinta sejati dan tidak bisa dipisahkan.
________
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA