Alaska

Alaska
Part 49



Julia duduk termenung di dalam kamarnya. Kenapa pria itu harus kembali lagi dalam kehidupannya? Julia baru saja ingin melupakan pria itu namun ia kembali muncul dalam hidupnya. Hal itu sungguh sangat menyakitkan untuk Julia.


Julia pun tanpa sadar meneteskan air matanya. Perempuan itu sangat lemah dengan keadaan dan percintaannya yang sangat mengenaskan. Ia tertawa gelak dan lalu kemudian menarik napas panjang. Dirinya benar-benar sangat memalukan. Saat ini penampilannya urak-urakan. Menertawakan diri sendiri memanglah pilihan yang terbaik untuknya.


"Jangan membuat ku selalu merasa sakit seperti ini. Apakah kau masih mencintai ku? Atau kau hanya ingin mempermainkan ku?" tanya Julia dalam hati dan lalu menarik napas gusar.


Perempuan itu seakan tengah kehilangan arahnya dan berusaha untuk mengembalikan hidupnya yang dulu sebelum bertemu dengan pria itu. Namun sangat disayangkan itu hanyalah angan semata yang tak pernah bisa digapai oleh wanita itu.


Julia kemudian beranjak dari tempatnya dan kemudian mengambil ponselnya. Ia membuka galerinya dan foto-foto ia dan Alaska masih tersimpan di galeri itu. Sungguh sangat disayangkan pria itu sudah merusak kepercayaan yang pernah diberikan oleh Julia.


"Apakah hidup ku memang selucu ini? Aku bahkan sama sekali tak pernah dipermainkan, dan aku selalu saja diberikan apa yang aku inginkan. Tapi dia merusak hari-hari ku dan membuat ku tidak bisa melakukan apapun selain merasa sakit hati. Kenapa kau Setega itu dengan ku?"


Julia kemudian tersenyum sakit. Ia pun menutup ponselnya dan berusaha menjauhkan bayang-bayang Alaksa yang masih melekat pada dirinya. Semoga saja Tuhan mau memaafkan apa yang telah ia lakukan tersebut dan bahkan karena pria itu ia juga telah berani melawan orang tuanya.


"Julia."


Julia pun membuka pintu dan lalu menatap ke arah Julian yang datang. Ia sama sekali tak berbicara dan air mata yang tadi terus saja membasahi pipinya seketika lenyap begitu saja entah kemana. Tapi sangat disayangkan sekali bahwa Julia tida akan pernah bisa berbohong kepada Julian. Pria itu tahu bahwa Julia baru saja menangis.


Julia pun menggeram dalam hati. Siapa yang sudah membuat adiknya sampai seperti ini. Ia tak akan pernah memaafkan orang tersebut dan harus membalas apa yang telah orang itu perbuat kepada adiknya.


"Julia, ada apa dengan mu?"


"Hah?" Julia pun bengong dan menatap ke arah pria itu seraya mengerutkan keningnya. "Maksud mu? Aku tidak mengerti. Oh iya aku ingin bertanya ada apa kau datang ke kamar ku? Tidak seperti biasanya. Apakah ada yang ingin kau katakan? Cepat katakan."


Julia pun menghela napas dan kemudian menyandarkan tubuhnya ke tembok kamar Julia sembari melipat tangan di dada. Tatapannya sangat intens ke arah Julia membuat Julia yang ditatap seperti itu oleh kakaknya kebingungan dan sekaligus salah tingkah.


"Kau berbohong Julia. Siapa yang sudah membuat mu menangis?" tanya Alaska pada wanita itu.


Julia pun menggidikan bahunya seolah tak terjadi apapun.


"Kau aneh sekali. Sudah aku katakan jika aku baik-baik saja kau masih tidak mengerti. Sebenarnya yang aneh di sini siapa?" tanya Julia yang tidak habis pikir dengan pria itu.


Alaska pun tertawa gelak menertawakan Julia yang tetap saja tidak ingin jujur, padahal kondisinya sudah seperti ini.


"Akting mu sangat bagus. Aku salut." Kemudian hal yang tak terduga pun terjadi kepada diri Julia.


Secara mengejutkan pria itu mengambil ponselnya dan lalu Julia yang melihat itu terkejut dan hendak merebut ponsel miliknya.


Tapi sangat disayangkan sekali jika postur tubuhnya yang sangat pendek dan kalah dari Julian hingga pria itu dengan sesuka hatinya malah mempermainkan dirinya.


"Berikan ponsel ku! Kau tidak tahu dengan privasi orang, kah? Dasar Julian!!"


"Privasi? Kita ini adalah saudara kembar. Tidak ada privasi, lagipula apa yang ada di ponsel mu ini sehingga kau tidak berani aku membukanya."


Skak mat, Julia tidak bisa melawan sang kakak dan ia pun terpaksa membiarkan agar pria itu membuka ponselnya.


"Ini polanya apa?"


Julia tidak ingin memberitahu sama sekali dan tetap bungkam. Tapi ia tak sadar ketika Julian meletakkan ponselnya di depan wajahnya hingga wajahnya tersebut pun tersensor.


Akhirnya Julian bisa membuka ponsel wanita itu. Hal yang paling pertama yang ia lihat dari ponsel Julia adalah foto wanita tersebut dengan Alaska.


Julian terdiam dan dengan sesuka hatinya pria itu lalu kemudian menghapus foto tersebut. Julia yang melihat kelakuan saya anaknya Julian itu langsung panik dan menatap laki-laki itu tajam.


"Apa yang sudah kau lakukan kepada foto itu? Kenapa kau malah menghapusnya?" marah Julia dan kemudian merebut ponselnya secara paksa.


"Julia, kau tidak akan pernah bisa melupakan pria itu jika foto-fotonya ada di galeri. Lupakan Alaska dan kita tidak akan pernah ke Indonesia lagi."


Ck, apakah pria itu tidak tahu jika Alaksa bahkan berkuliah di Harvard. Ia hanya diam dan tak menjawab kakaknya.


"Walaupun dia yang menyelamatkan mu saat ingin bunuh diri tapi tetap saja kau tak boleh bertemu dengannya suapaya mama jangan marah."


"Aku tidak butuh pendapat mu," ucap Julia kesal. "Sana pergi kau! Kau hanya menggangu pemandangan kamar ku saja."


Kemudian Julia mengeluarkan pria itu secara paksa dari dalam kamarnya. Ia benar-benar sangat membencinya kala melihat sosok pria itu yang berada di dalam kamarnya.


_______


Julia sedang berada di dalam perpustakaan untuk menyelesaikan beberapa tugas kuliahnya yang harus diantar hari ini juga. Gara-gara sibuk memikirkan pria itu ia hampir lupa dengan kewajiban kuliahnya.


Julia ingin fokus mengerjakan soal dan lalu memasang earphone ke telinganya seraya menyetel musik. Ia pun lebih tenang saat mengerjakan tugas.


Julia meneliti tugas yang telah ia buat tersebut. Kemudian wanita itu tersenyum lebar melihat tugasnya yang hanya tinggal sedikit. Tapi entah kenapa soal nomor terakhir adalah hal yang paling sulit hingga membuat pusing kepalanya.


"Haduh, bagaimana menjawab soal ini. Kenapa aku sangat pusing sekali?" tanya wanita itu kemudian mengercutkan bibirnya.


Ia masih tidak menyadari bahwa ada kertas yang sudah berisi jawaban sekalian plus dengan cara pengerjaannya. Julia tersenyum lebar dan kemudian dengan semangat berterimakasih kepada orang baik tersebut.


"Terimakasih kau su...." Julia langsung berhenti mengucapkan kalimatnya tersebut saat melihat orang yang telah membantunya itu.


Julia pun langsung hilang mood dan lalu kemudian memungut tugas-tugasnya dan laptopnya membawa pergi barang-barangnya tersebut. Saat melihat pria itu entah kenapa hatinya sangat tidak tenang.


Julia menyentuh dadanya yang terus berdegup kencang. Sesekali ia sangat merasa kesal dengan perasaan yang sama sekali tidak bisa menolak kehadiran Alaska. Apalagi ya sudah lama tidak bertemu dengan laki-laki itu sehingga membuat dirinya merasakan rindu yang sangat mendalam.


"Kenapa aku harus bertemu dengannya kembali sih? Dia benar-benar sangat menyebalkan dan aku sama sekali tidak menyukainya."


"Kenapa kau tidak menyukaiku? Oh iya jika kau membutuhkan bantuan soal aku siap membantumu kakak tingkat." Kemudian Julia pun menatap ke arah laki-laki tersebut dan ternganga. Ia tak menyangka bahwa Alaska akan mengikutinya sampai ke sini.


"Kenapa kau terus mengikuti ku?"


"Mungkin karena aku ingin terus bersamamu."


Seketika itu juga wajah Julia langsung memerah padam dan menatap menyala ke arah laki-laki tersebut. Ia mengepalkan tangannya dan kemudian pergi begitu saja. Tapi sangat disayangkan kemanapun Julia berusaha untuk menjauhi pria itu pasti Alaska akan mengejarnya.


Akan tetapi Julia juga tidak sebodoh itu. Wanita tersebut memilih untuk masuk ke dalam kelasnya sehingga Alaska pun tidak bisa mengikutinya sampai ke dalam. Akan tetapi pria tersebut hanya melewati kelas itu seraya melemparkan senyum manisnya ke arah Julia.


Ane yang melihat Alaska memberikan senyum manis kepada Julia langsung berteriak heboh. Ia belum mengetahui siapa pria tersebut bagi Julia.


"What? Demi apa? Dia tadi tersenyum kepadamu."


Julia kemudian mengangkat bahunya acuh tak acuh. Wanita tersebut juga tak peduli dengan apa yang telah dilakukan Alaska.


"Buat apa memikirkan pria itu? Dia adalah orang iseng. Kau tidak boleh mencomblangi aku dengannya."


Kemudian Julia pergi begitu saja meninggalkan Ane yang masih berdiri di depan pintu. Tampak sekali bahwa wanita itu tidak mengerti dengan ucapan Julia. Padahal dia juga iseng untuk meledak wanita itu dan bahkan tidak ada berniatan ingin mencomblanginya. Tampaknya hanya Julia yang terlalu berpikir berlebihan kepadanya.


Kenapa wanita itu sangat aneh sekali sih? Aku benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikirannya.


"Julia ada apa dengan pemikiranmu itu? Aku sama sekali tidak ada berniatan seperti itu."


_________


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.