
Hari ini Julia dan Julian mendatangi rumah sakit tempat di mana orang tua Alaska dirawat. Ia menatap prihatin kepada pria itu yang tengah membantu orang tuanya untuk makan. Sementara itu Alaska belum menyadari kedatangan Julia dan Julian yang menjenguk orang tuanya.
Ia terlalu fokus dengan apa yang tengah dikerjakan olehnya sekarang. Akan tetapi Lela tak sengaja menatap ke arah kedatangan Julia dan Julian. Ia yang sudah bertemu dengan keduanya terkejut karena mereka datang bersamaan. Namun setelah diperhatikan lebih lama lagi mereka sangat mirip dan apakah mereka saudara kembar?
"Alaska," ujar sang Ibu sembari menggerakkan tangan Alaska. Akan tetapi tampaknya Alaska tidak mengerti dengan kode yang diberikan ibunya tersebut.
"Ada apa Ma?"
Lela kembali menggerakkan tangan anaknya dan menunjuk ke belakang. Alaska yang merasa sangat penasaran lantas membalikkan tubuhnya dan ia terdiam melihat kedatangan Julia yang bersama Julian. Laki-laki tersebut hanya bisa terdiam sembari menundukkan kepalanya.
Julia yang paling perhatian lantas segera menghampiri Alaska dan menatap ke arah pria itu dengan tatapan berkaca-kaca.
"Kenapa kau tidak mengatakannya? Pasti kau banyak ketinggalan pelajaran. Kau selalu saja begitu tidak mementingkan kesehatanmu sendiri dan dirimu. Seharusnya kamu memberitahu kami agar kami tidak merasa khawatir kepadamu dan terus memikirkan apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa kamu tidak bisa peduli dengan temanmu sendiri? Panah kita masih teman mu di mata mu Alaska?" tanya Julia yang berapi-api karena sudah terhasut perasaan amarah yang sangat mendalam di dadanya.
Julian lantas menyenggol tubuh Julia agar wanita itu tidak melanjutkan ucapannya. Jujur saja Julian merasa malu dengan sikap Julia yang begitu semena-mena di depan orang tua Alaska.
"Ini bukan saatnya untuk kau bertengkar. Ini rumah sakit nanti saja membicarakan itu."
Julia menarik napas panjang yang lalu kemudian mendongakkan kepalanya untuk menahan air mata yang hendak keluar.
"Baiklah aku yang salah di sini. Aku tahu apa yang telah aku lakukan ini benar-benar sangat keterlaluan. Entahlah aku hanya merasa kesal tadi. Maafkan aku Alaska, Aku tidak bisa bersikap yang layak kepadamu."
Alaska tersenyum dan menganggukkan kepala. Julia pun memandang ke arah ibunya Alaska yang memperhatikan pertengkaran mereka tadi. Julia melihat dengan jelas betapa Lela sangat mengkhawatirkan anaknya dan juga Julia. Selain itu ia juga merasa bersalah kepada Julia karena anaknya.
"Maafkan Alaska," ucap Lela yang merasa tidak enak hati kepada Julia.
Julia tersenyum penuh ketulusan kepada ibunya Alaska dan hal itu memicu Alaska juga turut tersenyum sendiri. Namun ketika asyik dengan apa yang tengah ia lakukan, Alaska tidak menyadari Julian tiba-tiba datang dan menepuk pundaknya beberapa kali.
Ia melirik Julian melalui ujung matanya dan kemudian membalas tepukan di pundak Julian.
"Terima kasih sudah mau datang untuk menjenguk ibuku. Sepertinya dia sangat senang sekali kau datang ke sini, apalagi kau membawa Julia."
Akan tetapi Julian menyadari satu hal. Kenapa Julia tampak sangat akrab dengan ibunya Alaska padahal setahunya Julia tidak pernah bertemu dengan ibunya Alaska. Jadi sebenarnya ada apa dengan Alaska dan juga Julia. Kenapa hubungan kedua insan tersebut sudah sangat jauh tanpa pengetahuannya.
"Dari mana Julia mengetahui ibumu? Mereka terlihat sudah saling kenal."
Alaska menatap ke arah ibunya yang tengah berinteraksi dengan Julia dan tampak sangat bersahabat.
Bagaimana tidak Julian tidak memiliki refleks seperti itu, sebab ia masih tak percaya bisa-bisanya adiknya bertingkah di luar nalar. Ia sendiri juga tidak menyangka bahwa adiknya bisa bersikap demikian.
"Anak ini benar-benar nakal. Pantas saja dia harus diberi pelajaran yang lebih oleh Mama. Dia sudah melanggar privasi orang lain. Apakah masih pantas anak ini dibiarkan," gumam Julian dengan sangat berapi-api sembari menatap ke arah adiknya dengan tatapan tajam.
Tapi untungnya Alaska berpihak kepada Julia saat ini. Ia menghadang tangan Julian yang hendak mengepal. Laki-laki tersebut juga mengingatkan kepada Julian bahwa tak boleh memperlakukan Julia secara berlebihan.
"Sudahlah. Biarkan saja mereka saling mengenal. Lagi pula Mama juga sangat terlihat bahagia bersama Julia. Mungkin itu adalah takdir di mana mama bisa merasa memiliki teman dan satu frekuensi seperti Julia. Kamu juga tidak bisa melarang Julia melakukan apapun yang dia inginkan."
Julian memandang serius ke arah Alaska. Bisa-bisanya pria itu terpengaruh oleh Julia. Baru kali ini ia melihat Alaska seperti ini, biasanya Alaska tampak terlihat sangat cool dan susah untuk berinteraksi dan bergaul dengan orang lain. Namun kali ini bukan hanya berinteraksi tapi ia juga membela seorang Julia yang notabennya adalah seorang wanita di mana ia tak ingin dekat dengan seorang wanita dulunya. Itulah prinsipnya dulu sebelum ia mensukseskan orang tuanya.
"Kau benar-benar berubah setelah mengenal adikku. Aku tidak tahu pelet apa yang sebenarnya dia miliki. Bahkan orang sepertimu saja sampai terpelet olehnya," ucap Julian sembari menggelengkan kepalanya.
Di situ juga lah Alaska baru menyadari apa yang terjadi pada dirinya. Ia pun baru sadar bahwa dirinya tak seperti dulu lagi. Dunianya tak akan langsung berubah setelah bertemu dengan Julia. Sebelumnya tidak ada warna kini semenjak kehadiran wanita itu ia semakin mudah tersenyum dan kehidupannya tampak berwarna.
"Mungkin karena aku selama ini tidak pernah berinteraksi dengan orang lain karena orang selalu meremehkan ku, dan tiba-tiba Julia dan kai datang dalam kehidupanku memberikan aku kebahagiaan yang tidak pernah aku dapatkan. Mungkin itu yang membuatku selalu tersenyum," ucap Alaska secara asal.
Julia memandang ke arah Alaska lalu ia menghampiri pria itu.
"Apakah kalian masih memiliki uang? Aku ada beberapa uang dari tabunganku. Kau bisa menggunakannya untuk membantu biaya rumah sakit ibumu."
Seketika itu juga Alaska menggelengkan kepalanya. Ia tak ingin terlalu banyak berhutang Budi kepada wanita ini.
"Aku tidak bisa berhutang dengan orang lain. Aku juga tidak ingin kau terlalu mengasihani ku. Aku hanyalah orang biasa. Lagi pula orang sepertiku tidak pantas mendapatkan biaya yang sangat banyak itu."
Julia pun memandang ke arah Julian untuk meminta bantuan pria tersebut. Akan tetapi Julian juga bersikap acuh dan tidak mau ikut campur dengannya. Keputusan hanya ada di tangan Alaska.
"Ayolah. Kau harus mendapatkan dana segera untuk biaya pengobatan rumah sakit ibumu. Kau tidak ingin dia kenapa-napa, kan? Anggap saja ini bayaranku untukmu selama ini."
"Aku sudah dibayar ibumu. Uang dari aku mengajarimu juga sudah dipakai untuk biaya rumah sakit. Jadi aku tidak ingin berhutang Budi lebih banyak darimu," ucap Alaska yang berubah menjadi dingin.
_________
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.