
"Bagaimana hari ini? Sepertinya kau sangat bersemangat sekali. Apa yang sudah membuat mu sampai seperti ini?" tanya Alaska pada wanita itu yang menang terus saja sumringah tanpa henti. Tampaknya ada hal yang tak bisa dilupakan oleh Julia hingga membuatnya terus-terusan tersenyum.
"Kau tahu, ternyata Ayah sudah mengetahui hubungan kita. Dia juga sudah tahu bahwa ada aset mu di perusahaan AJ Company. Kau tahu Ayah sama sekali tidak marah dan mendukung hubungan kita. Yah walaupun rupanya Mama masih belum tahu dan kemungkinan tidka akan pernah mendukung." Raut wajah Julia langsung berubah drastis.
Wanita itu terdengar menghela napas dan senyum yang dari tadi dilihat oleh Alaska tak ada lagi di wajah wanita itu.
"Tidak apa-apa. Tidak usah dipikirkan. Baiklah, sekarang apa yang kau inginkan?" tanya Alaksa untuk menghibur wanita itu.
Julia pun menggelengkan kepalanya. Wanita itu tetap merasa sedih karena keluarganya tidak bisa menerima sepenuhnya. Hubungan mereka juga sudah berjalan dua tahun lebih dan 1 tahun lagi Julia akan wisuda.
Wanita itu menatap ke arah Alaska dan kemudian menepuk pundak pria itu.
"Kau kapan akan pulang ke Indonesia? Apakah aku boleh ikut?"
"Pulang yah? Mungkin 1 Minggu lagi karena memang harus melihat kondisi Mama yang semakin buruk."
Julia menatap sedih ke arah Alaska. Pria itu selalu saja tersenyum, akan tetapi berbanding terbalik dengan perasaannya yang terus saja mengkhawatirkan keadaan di Indonesia.
"Sampai saat ini aku belum benar-benar bisa berpikir dengan jernih. Semoga saja mama bisa sembuh secepatnya."
"Jika aku ikut ke Indonesia apakah tidak bisa? Barangkali aku bisa menemani mu dan meminta restu kepada orang tuamu. Hubungan kita juga sudah berjalan cukup lama, mungkin sebentar lagi akan ke tahap yang lebih serius. Aku juga berharap agar kau juga lebih serius mengenai masalah ini, seharusnya kita sudah memikirkan masa depan kita berdua nanti."
Padahal Alaska belum kepikiran sampai di situ. Namun Julia juga ada benarnya. Apalagi wanita itu sangat membutuhkan kepastian ketimpangan janji manis yang diberikan. Mungkin Alaska akan memikirkannya lagi dan meminta restu dari orang tuanya.
"Kau ada benarnya Julia. Baiklah mungkin nanti aku akan meminta restu dari Mama saat pulang. Semoga saja Mama mengizinkan kita. Tapi mama sudah mengetahui hubungan kita."
Mata Julia pun membulat tak menyangka. Alaska sama sekali tidak pernah mengatakannya. Akan tetapi sekarang dia tiba-tiba mendapatkan kabar yang seperti itu. Sungguh mengejutkan bagi dirinya.
"Apakah itu benar? Kenapa kau tidak mengatakannya kepada ku? Padahal aku sangat senang sekali dan ingin segera berkunjung ke rumah orang tua mu."
Alaska pun menggelengkan kepalanya. Julia tidak perlu pergi ke rumahnya nanti sebab wanita itu semakin disibukkan dengan tugas kuliahnya. Seharusnya Julia memikirkan mengenai tugas kuliah tersebut.
"Tidak usah pikirkan aku Julia. Pendidikan mu sekarang sangat penting apalagi kau akan menyiapkan skripsi tentunya itu sangat tidak mudah kan bagi mu. Maka dari itu lebih baik kau tinggal di sini saja sja fokus dengan kuliah mu."
Jika Alaksa berkata seperti itu, Julia bisa apa? Ia pun menundukkan kepala dan mengangguk. Ia akan selalu patuh dengan apa yang diucapkan oleh Alaska.
"Apa boleh buat. Aku pun terpaksa menyetujuinya."
Julia menarik napas panjang dan menatap ke arah wnaita itu dengan tatapan yang sangat menggemaskan bagi Alaska.
"Sudahlah. Jangan terlalu dipikirkan. Sekarang kita harus pulang."
_________
Julia mendatangi apartemen Alaksa. Ia masuk ke dalam apartemen milik pria itu dan menatap ke arah Alaska yang sedang sibuk mengerjakan tugas kuliahnya. Wanita itu kemudian menghampiri Alaska dan memeluknya dari belakang.
Alaksa sangat terkejut ketika mendapatkan pelukan yang sangat tiba-tiba itu. Akan tetapi ia tetap tersenyum dan kemudian menatap ke arah Julia dengan pandangan penuh dengan kasih sayang.
"Ada apa lagi?"
"Kau katakan kepadaku, kau pasti akan kembali lagi ke Amerika, kan?"
Alaska pun menganggukkan kepalanya. Itu memang benar dan ia akan kembali ke Amerika setelah pulang ke Indonesia. Tapi entah kenapa pertanyaan wanita itu sangat aneh baginya.
"Kenapa kau berpikir seperti itu? Seperti terjadi sesuatu. Tenang saja, aku akan selalu menjadi orang yang hadir di setiap mimpimu. Maka dari itu janganlah merindukan aku."
Bagaimana mungkin ia tak merindukan pria tersebut. Jelas-jelas harinya saja selalu dipenuhi oleh laki-laki itu. Namun entah kenapa sangat sulit untuk menghapus bayang-bayang Alaska dari dirinya. Kehadiran pria itu terus menggerogoti jantungnya dan membuatnya merasa tidak percaya diri bisa ditinggalkan oleh laki-laki tersebut ke Indonesia.
"Kau janji tidak akan melupakanku, kan? Aku sangat takut ketika kau pulang ke Amerika tapi malah tidak mengingat ku."
Wajah Julia dan Alaska sangat dekat dan hanya beberapa centi meter saja. Kemudian Alaska pun semakin mendekatkan wajah yang hingga bibir mereka saling bertaut. Julia menikmati segala permainan yang dilakukan oleh Alaska.
Wanita itu sangat bahagia ketika terus bersama Alaska seperti ini. Bahkan Alaska seperti jantungnya dan ia tidak bisa hidup tanpa pria itu. Julia pun menuntut balik Alaska hingga keadaan mereka benar-benar sangat panas.
Kemudian Alaska pun membawa tubuh Julia ke panjangnya dan kemudian memperdalam aksi mereka hingga ke tahap yang lebih jauh. Sehingga malam itu terasa sangat panjang dan juga spesial bagi mereka berdua.
Lagi pula Alaska harus melakukannya sebab ia akan pergi ke Indonesia dan selalu merindukan wanita itu. Julia juga sudah sangat percaya kepada Alaska makanya Ia melakukan hal itu kepada laki-laki tersebut.
____________
Julia menatap sedih ke arah bandara yang mana Alaska semakin mengecil di pandangannya. Kemudian pria itu pun naik ke pesawat. Hati Alaska benar-benar berdenyut saat melihat wanita tersebut yang menangis melepas kepergian dirinya.
Melihat Julia yang seperti itu membuat Alaska semakin tidak tega untuk meninggalkannya. Kemudian pria itu berbalik dan berlari ke arah Julia.
Julia sendiri tidak menyangka bahwa Alaska akan melakukan itu kepadanya. Kemudian mereka pun saling berpelukan kembali dan saling melepaskan. Walaupun itu sangat sulit tapi sungguh benar-benar menyakitkan bagi mereka berdua.
Kemudian Alaska pun mencium kening Julia dengan sangat dalam. Lalu meletakkan keningnya di kening wanita tersebut. Alaska menyentuh pipi Julia dan kemudian tersenyum lebar. Ia juga menghapus air mata wanita itu yang terus terisak. Sungguh tidak tega melihat Juli yang seperti itu. Hati kecilnya sangat sakit.
"Julia, sudahlah. Jangan menangis seperti ini lagi. Aku menjadi tidak bisa untuk meninggalkan mu. Aku selalu ada untuk mu. Kau tak usah khawatir dengan itu."
Julia pun menganggukkan kepalanya. Ia tahu akan hal tersebut dan tidak akan membuat Alaska terbebani dengan dirinya. Akan tetapi perasaan ini selalu saja menggerogoti jiwanya dan membisikkan kepada Julia bahwa ia harus menahan laki-laki tersebut.
"Kau harus cepat pulang. Jika tidak ingin pulang ke sini lagi maka bawa aku ke Indonesia." Alaska terkekeh dan kemudian menggelengkan kepalanya.
"Jangan berpikir seperti itu. Tidak mungkin aku meninggalkanmu di Amerika sendirian, kau dan aku seharusnya saling bersama. Tidak usah terlalu dipikirkan. Aku pasti kembali, apakah kau percaya kepadaku?"
Julia pun menganggukkan kepalanya. Air matanya kembali deras saat pria itu memeluk tubuhnya dengan sangat kencang. Entah kenapa ini sangat menyakitkan bagi dirinya.
"Baiklah. Aku minta maaf dengan kesalahan yang sudah aku perbuat untuk mu."
Alaska melepaskan pelukan mereka. Laki-laki tersebut memandang ke arah belakang Julia yang rupanya juga ada Julian di sana. Pria tersebut melemparkan senyum manisnya kepada Julian dan kemudian direspon oleh lelaki itu.
"Julian!"
Julia pun menolehkan kepalanya dan terkejut jika mendapatkan kakaknya yang ada di sana. Ia pun mengerutkan keningnya.
"Alaska."
Kemudian dua lelaki yang saling bersahabat itu pun saling berpelukan untuk melepas rindu yang sangat mendalam. Yulia yang menjadi saksi persahabatan mereka dari dulu sampai sekarang merasa sangat terharu.
Apalagi kakaknya tersebut sudah menerima keputusannya. Menurutnya kakaknya adalah pahlawan bagi dirinya dalam hubungannya dengan Alaska.
Alaska juga sangat berterima kasih kepada pria itu. Setelah itu kemudian Julian pun melepaskan pelukannya dengan Alaska karena sebentar lagi Alaska akan berangkat ke Indonesia.
Julia menarik nafas panjang dan terpaksa melepaskan Alaska begitu saja walaupun hati kecilnya terus menolak. Alaska kembali masuk ke dalam pesawat yang sebentar lagi akan berangkat.
Julia melambaikan tangannya saat Alaska yang menatapnya dari jendela pesawat. Kemudian wanita tersebut tersenyum lebar membuat alasan merasa lebih tenang.
"Terima kasih Julia, aku selalu bahagia dengan mu."
Kemudian tidak lama pesawat pun berangkat. Julian dan Julia hanya bisa memandang ke udara melihat pesawat tersebut yang mulai mengudara.
_________
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.