
Julia menarik napas panjang dan menatap ke arah Julian yang saat ini tengah membawakan tasnya ke kelas. Pria itu sengaja menjadi suruhan Julia agar adiknya bisa merasa senang. Tentu saja apa yang dilakukan oleh Julia itu hanyalah sebuah permainan saja dan ia tak benar-benar ingin mengerjai Julian.
"Julian, sini tas ku. Lihat semua orang menatap ke arah mu. Aku membencinya, sebenarnya apa yang hebat dari mu sehingga menjadi idola sekolah? Aku benar-benar merasa jijik dengan mereka yang tidak pandai menilai," sindir Julia kepada fans Julian yang tengah menunggu pria itu di depan gerbang. Wajar saja karena Julian adalah idola sekolah dan merupakan most wanted di sekolah ini.
Sebagai kembaran Julian, Julia tidak tahu di mana letak menariknya Julian. Setahunya pria itu memiliki kekurangan di matanya dan bahkan tidak ada nilai plus sama sekali.
"Lihat yang mengidolakan ku banyak dan itu artinya bukan mata ku yang buta tapi melainkan mata mu yang tidak bisa melihat betapa tampannya kakak mu ini." Mendengar kalimat narsis dari Julian membuat perut Julia terasa diaduk-aduk dan tak bisa menatap Julian jika tidak tertawa.
"Kau benar-benar kocak. Kau lebih baik menjadi seorang komedian ketimbang menjadi seorang idola sekolah seperti ini."
Julian pun menghela napas panjang. Ia kemudian mengikuti alur yang diinginkan oleh adiknya dari pada ia tersudutkan oleh wanita itu. Baiklah, lagi-lagi di sini adalah salahnya. Ia juga tak mengerti kenapa disalahkan oleh perempuan itu terus menerus seakan-akan memiliki dendam pribadi yang sangat dalam.
Julian meninggalkan Julia begitu saja. Julia yang melihat Julian meninggalkannya lekas mengajar pria itu dan mensejajarkan langkahnya dengan pria tersebut. Ia tahu jika terdapat kekesalan yang sangat mendalam di wajah Julian yang membuatnya ingin tertawa namun sebisa mungkin ditahan oleh Julia.
"Kau tahu jika diri mu saat ini benar-benar sangat lucu. Aku ingin tertawa rasanya." Julian menarik napas panjang. Ia berusaha untuk sabar menghadapi sosok adiknya yang ini walaupun hatinya sudah sangat panas.
"Untung kau adalah kembaranku. Jika kau orang asing sudah lama aku akan mematahkan lehermu," sarkas Julian dan lalu kemudian masuk ke dalam kelas dengan aura yang sangat kesal.
Laki-laki tersebut pun beberapa kali menghela napas gusar dan lalu kemudian duduk di tempatnya. Sedangkan ia tak sama sekali melirik ke arah Julia saking kesalnya kepada wanita itu.
Tak lama bel masuk pun berbunyi. Namun perasaan Julia sungguh tidak enak. Wanita itu tak melihat dari tadi pagi Alaska. Ia pun menatap ke arah jam tangannya dengan perasaan yang sangat risau. Julia menggigit bibirnya dengan perasaan takut.
"Ada apa dengannya?" Di tengah heningnya dirinya, tiba-tiba guru sudah berada di depannya dan mengabsen nama mereka satu-satu.
"Alaska!!" teriak ibu guru dan ia menatap ke arah kursi kosong yang ada di depannya. Namun tampaknya Ya sudah mengetahui kenapa Alaska tidak masuk.
Julia sangat penasaran dan menunggu hingga absen tersebut selesai dan barulah menanyakan sebenarnya ada apa dengan Alaska.
"Baik anak-anak buka halaman seratus dua belas!"
Julia terus memikirkan Alaska yang tidak tentu arah tersebut. Ia pun memutuskan untuk bertanya kepada Ibu gurunya Setelah melakukan banyak pertimbangan.
"Ibu! Kenapa Alaska tidak masuk?"
"Tidak ada kabar darinya. Maka dari itu saya mengalpakan dia," ucap ibu gurunya tersebut dengan nada yang dingin membuat Julia terkejut.
Ia pun semakin khawatir dengan Alaska.
"Tidak biasanya Alaska tidak masuk." Julia pun melirik ke arah Julian dan meminta agar pria itu mencari tahu ke mana Alaska.
Pada malam itu Alaska pulang ke rumahnya dengan membawa uang pemberian dari Julia. Ia mengetuk pintu rumahnya yang reot tersebut dengan rasa bahagia.
Tapi seketika itu juga wajahnya menjadi muram akibat tak mendapatkan sahutan dari dalam. Sebenarnya Alaska bisa saja langsung masuk ke dalam rumahnya akan tetapi ia lebih mengutamakan adab dan menunggu ibunya menyahut dari dalam. Akan tetapi tidak ada sahutan sama sekali dari dalam gubuk reot tersebut. Seketika itu juga perasaan Alaska tidak enak selalu kemudian ia membuka pintu tersebut dengan paksa.
Ketakutannya pun benar-benar terjadi. Alaska melihat ibunya tergeletak di lantai dalam keadaan tidak sadarkan diri. Perasaan bahagia olehnya begitu saja digantikan dengan perasaan penuh kekhawatiran yang sangat mendalam.
Laki-laki tersebut lantas merujuk ibunya ke rumah sakit terdekat. Untungnya ada orang yang rela memberikan tumpangan kepada Alaska agar mengantarkan ibunya ke rumah sakit. Alaska benar-benar sangat berterima kasih kepada orang itu yang telah menyelamatkan ibunya.
Alaska pun menunggui sang ibu yang harus dirawat di rumah sakit. Untungnya Ia mendapatkan uang dari Julia sehingga sedikit meringankan beban rumah sakit. Pada pagi ini ibunya telah membuka mata dan menata ke arah Alaska yang tertidur sembari menggenggam tangannya.
Perempuan itu terharu dengan apa yang dilakukan sang anak semata wayang. Tidak hanya ada Alaska tapi suaminya pun rela libur bekerja hari ini demi bisa menemani sang istri di rumah sakit.
"Mama," ucap Alaska dan menatap ke arah ibunya.
"Kau membawaku ke rumah sakit Alaska? Kau tahu bahwa kita sama sekali tidak memiliki uang. Jadi bagaimana kita bisa membayar rumah sakit?" tanya ibunya dengan penuh rasa bersalah karena menambah beban Alaska yang harusnya tenang belajar.
"Mama tenang saja. Aku mengajari teman ku melukis dan dia kebetulan memberikan uang untuk ibu."
Ibunya tersenyum lebar dan bangga kepada anaknya. Alaska memang benar-benar cahaya bagi keluarga mereka. Alaska sendiri tidak tahu bagaimana perasaan ini yang begitu mendalam kepada ibunya.
"Ibu adalah pahlawanku. Sudah sepantasnya aku membahagiakanmu dan membalas budi setiap yang kau berikan."
Ibunya menghela napas panjang dan lalu kemudian mengusap kepala sang anak dengan penuh kasih sayang. Tidak ada sedikitpun rasa benci di hatinya kepada anak ini. Semua yang dilakukan oleh Alaska demi kebaikannya.
"Apakah wanita itu? Aku senang sekarang kau bisa memiliki teman. Tapi aku juga merasa khawatir, wanita itu kemarin anak orang kaya, kan? Aku tahu dia juga salah satu anak dari bos ayah mu. Mama takut jika keluarganya tidak bisa menerimamu."
"Ibunya sudah memberikan izin aku membantu anaknya melukis. Lagi pula ini adalah demi kebaikannya, kan?" Betul juga apa yang dikatakan oleh anaknya tersebut.
Alaska ia diterima baik oleh keluarga perempuan itu maka ia sudah bisa tenang. Sebab dia tahu betul bagaimana orang kaya bertindak yang bisa merendahkan orang di bawahnya.
______
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.