
Tugas membuat video adalah hal yang paling menyulitkan bagi mereka. Terlebih lagi mereka bertiga tidak ada yang benar dan selalu saja melakukan kesalahan saat membuat video sehingga harus take beberapa kali. Julia sendiri sudah muak dengan temannya tersebut. Terutama dengan Julian yang selalu saja tidak ingin mengalah kepadanya dan melimpahkan semua kesalahan yang terjadi di kelompok ini hanya kepadaNya seorang.
Jadi bagaimana bisa ia tenang jika di kelompok terdapat Julian yang bersikap seperti itu. Beberapa kali ia mengeluh kepada Alaska agar setuju mengeluarkan Julian dari kelompok. Tapi nyatanya tidak semudah itu, Alaska tahu jika Julia hanyalah sebuah masalah pribadi dengan Julian.
"Sudahlah. Lebih baik kita take sekali lagi. Makanya jangan ada yang ketawa kalau buat video," nasehat Alaska yang dari tadi pusing dengan kelakuan duo kembar tersebut.
"Dia dia yang salah," ucap Julian yang tidak ingin mengalah dari adiknya itu.
Lagi-lagi disalahkan oleh Julian, sudah pasti membuat darah Julia mendidih. Perempuan tersebut mengepalkan tangannya dan lalu kemudian memicingkan matanya.
"Dari tadi kau yang selalu tertawa tapi kenapa aku yang disalahkan? Kau memang tidak bisa menyadari dirimu sendiri, hebat kau." Tampaknya kali ini Julia tidak bercanda. Wanita itu pergi begitu saja dan meninggalkan lapangan tempat di mana mereka untuk melakukan pembuatan video.
Alaska menarik napas panjang dan melirik ke arah Julian yang mulai merasa bersalah melihat adiknya yang terlihat benar-benar marah.
"Padahal aku hanya bercanda, karena melihat dia marah sangat menggemaskan. Tapi aku tak menyangka jika ujungnya akan seperti ini."
Alaska sendiri orang yang paling tahu mengenai hati Julian terhadap Julia. Kembaran Julia itu sangat menyayanginya. Ia sengaja menjahili Julia karena ingin mendapatkan perhatian dari kembarannya tersebut.
"Seharusnya kau bisa lebih dewasa lagi, kau tahu sendiri jika wanita itu menggunakan hati dan lebih mudah tersinggung. Jadi kurangi bercandamu. Apalagi yang kita lakukan ini adalah hal yang serius."
Sebagai orang yang paling peka di kelompok itu, Alaska pun berlari menghampiri Julia dan lalu kemudian mencegat jalan perempuan tersebut yang hendak pulang ke rumah.
Melihat Alaska berdiri di depannya kontan membuat Julia berhenti menanjak sepedanya. Julia pun terdiam dan lalu kemudian menatap ke arah Alaska dengan tatapan tajam.
"Kenapa? Kau mau menyalahkan ku juga seperti Julian?"
"Tidak," ucap Alaska singkat. "Tapi kita ini kelompok, jadi tidak boleh egois. Kalian adalah adik beradik seharusnya kau paham juga dengan hati Julian yang sesungguhnya."
Julia diam dan tidak mau mendengarkan Alaska. Namun kejadian tak terduga mengejutkan wanita itu. Tiba-tiba Julian datang dan memeluk tubuhnya. Jarang-jarang Julian seperti itu kepadanya.
"Julia? Maafkan aku, aku mohon kepadamu. Tadi aku hanya bercanda, percayalah Julia." Julian memperlakukan Julia dengan sangat lembut. Hal itu membuat Julia tanpa sadar hanyut dalam bisikan Julian.
Dari tatapan matanya saja sudah tampak sinyal bahwa ia telah memaafkan kembarannya itu. Julia pun tersenyum lebar dan lalu kemudian membalas pelukan sang kakak.
"Maafkan Julia juga," ujar Julia dengan sangat tulus. "Tapi, ini semua memang karenamu."
Ya begitulah wanita, setelah minta maaf bukannya sadar tapi malah kembali menyalahkan Julian. Namun tidak ingin memperkeruh suasana dan Julian juga tahu Ini salahnya lantas hanya mengusap puncak kepala adiknya itu.
"Iya ini semua salahku, jadi ayo kita kembali membuat video."
"Hm baiklah."
Melihat kakak beradik itu sudah bermaafan membuat Alaska sedikit tersenyum. Setidaknya ia bisa menjadi penengah di antara keduanya.
____________
"Alaska, bagaimana videonya bagus tidak?" tanya Julia yang melihat Alaska tengah duduk di bangku taman.
Alaska yang melihat Julia duduk di sampingnya lantas melirik sebentar sebelum akhirnya menyerahkan ponsel milik Julia kepada perempuan itu.
"Lumayan bagus videonya, siapa yang mengedit video ini? Apakah kau bisa mengedit?" tanya Alaska kepada wanita itu.
"Biar aku saja yang mengedit videonya, kebetulan aku bisa mengedit video."
Alaska menganggapi dengan tersenyum tipis dan hendak pergi akan tetapi ditahan oleh Julia. Alaska melirik sebentar ke arah wanita itu dan mengerutkan keningnya.
"Ada apa?"
"Kau ingin pulang karena ingin bekerja, kan? Bagaimana jika aku memberimu pekerjaan jadi kau tak perlu capek-capek harus menjadi kuli bangunan."
Alaska terkejut dengan permintaan Julia itu. Bukan tidak ingin, hanya saja ia tahu diri. Selain itu ia juga tidak pantas untuk mendapatkan pekerjaan hanya karena dikasihani.
"Tidak perlu, aku bisa sendiri. Aku tidak perlu belas kasihanmu."
"Kudengar jika kau bisa melukis, apakah aku boleh diajari melukis olehmu? Aku dulu juga ingin melukis, tapi aku tidak bisa." Alaska terkejut dengan permintaan Julia itu. Dari mana Julia mengetahui jika dirinya bisa melukis, setahunya tidak ada orang yang mengetahui bahwa ia bisa melukis. Antara rasa tidak percaya Alaska hanya tertawa kecil.
"Aku tidak bisa melukis," bohong Alaska dan hendak berjalan meninggalkan Julia.
Julia yang sudah tahu dengan kehidupan Alaska setelah menguntit pria itu diam-diam pun merasa tidak percaya jika laki-laki itu bisa berbohong kepadanya. Julia menarik napas panjang dan lalu kemudian mengejar Alaska.
"Kau jangan berbohong kepadaku, aku tahu semuanya Alaska. Bahkan kau sendiri bisa melukis tapi kau merahasiakannya karena tidak memiliki alat untuk melukis. Jika kau mengajariku melukis, maka kau bisa melukis di tempatku juga."
Sejujurnya tawaran itu sangat menggiurkan bagi Alaska. Tapi entah kenapa ia lagi-lagi berpikir tidak ingin menerima tawaran tersebut.
"Aku merasa tidak enak."
"Kita bertiga sekarang adalah sahabat, apakah kedekatan kita selama ini tidak dianggap sebagai seorang sahabat di matamu, salahkah aku ingin kau mengajariku."
"Bukan apa-apa, hanya saja Aku orang biasa. Kau dulu mau minta aku mengajarimu. Kau bisa mencari orang yang lebih hebat dari ku," ujar Alaska yang lagi-lagi memberikan penolakan.
"Jika aku hanya ingin minta diajari olehmu bagaimana?"
"Baiklah, itu artinya aku tidak memiliki pilihan lain."
Seketika itu juga senyum Julia mengembang. Wanita itu memekik senang dan lalu kemudian berlonjak kesenangan. Padahal dalam hatinya tidak ingin melukis sama sekali. Cuman karena tuntutan orang tuanya yang ingin Ia memiliki bakat non akademik terus memenuhi pikirannya sehingga ia pun memutuskan untuk Alaska mengajarinya. Selama ini ia tidak ingin memenuhi tuntutan dari orang tua tersebut karena menurutnya tidak ada guru yang mengajarinya dan pasti itu juga sangat membosankan.
Kebetulan sekali orang tuanya juga memberikan tantangan kepada Julia. Jika ia bisa menguasai di bidang non akademik maka dirinya akan mendapatkan hadiah dari orang tuanya. Ya Jadi itulah alasan kenapa Julia ingin belajar melukis.
_________
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.