Alaska

Alaska
Part 33



Akibat terlalu lama ber video call-an dengan Alaska membuat Julia tertidur hingga sampai siang. Wanita itu mengucek matanya ketika sinar matahari terus memaksa untuk masuk ke dalam netranya. Perempuan itu sempat kebingungan kenapa bisa terjadi hal itu kepadanya dan rupanya hari sudah sangat siang.


Saking tidak percayanya dengan apa yang ia lihat kemudian Julia pun menatap ke arah jam. Di dekat jam tersebut benar-benar menampilkan kenyataan bahwa ia bangun kesiangan.


"Gawat, gawat. Kenapa aku bisa bangun sampai ke kesiangan seperti ini sih? Jika Julian si mulut pedas itu mengetahuinya pasti dia akan marah-marah denganku."


Julia pun langsung bergegas pergi ke kamar mandi dan segera membersihkan tubuhnya secepat kilat. Sebab pria itu pasti akan masuk ke dalam kamarnya untuk mengecek keadaannya. Ia sendiri muak diperhatikan terus-menerus oleh Julian seperti ia adalah orang lumpuh. Ia ingin bebas sendiri.


Tidak membutuhkan waktu lama, dengan cara mengebut akhirnya ia pun sudah selesai membersihkan tubuhnya dan langsung mengenakan pakaian baru yang ia bawa dari luar tadi.


Wanita itu menghela napas panjang dan kemudian keluar dari dalam kamar mandi dalam keadaan sudah rapi. Tidak ada sama sekali kotoran dari tubuhnya ia juga sudah sangat wangi. Belum sempat dia bersiap-siap seperti orang yang sudah bangun dari tadi pagi tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dan tahulah siapa pelakunya.


Julian menatap ke arah Julia dengan tatapan tajam. Niat Julia untuk menghindari pria itu pun pupus. Keburu ketahuan oleh Julian bahwa ia baru bangun.


"Anak gadis jam segini baru bangun? Mau diletakkan di mana mukamu? Bahaya jika kau nanti bangun kesiangan. Pasti suamimu akan marah," jelas Julian mengenai masa depan yang nanti akan dijelajahi oleh adiknya itu.


Adiknya tersebut mencibir. Tentu saja Julia tidak akan pernah mengikuti ucapan Julian. Masih banyak cara untuk ia melawan pria itu.


"Apa katamu? Suamiku akan marah? Alaska tidak semudah itu untuk memarahiku." Mendengar kalimat adiknya tersebut Julian pun langsung terdiam.


Begitu banyak pikiran yang dipikirkan Julian akhir-akhir ini. Tapi kenapa adiknya tidak mau mengerti sedikit saja bahwasanya wanita itu harus berhati-hati dengan Alaksa sebab ini sangat membahayakan Alaska itu sendiri maupun adiknya.


"Alaska lagi Alaska lagi. Belum tentu dia akan menjadi suamimu, jangan terlalu banyak bicara. Cepat bagusin rambutmu itu. Kayak nenek lampir aja," sarkas Julian dan lalu kemudian menarik pintu Julia dengan kencang hingga menimbulkan bunyi.


Julia yang tertinggal seorang di dalam kamarnya terkejut mendengar suara dentuman tersebut. Ia menggeram marah kepada kakaknya itu.


"JULIAN!!! KAU BENAR-BENAR KETERLALUAN. INI SEMUA TIDAK MUDAH DIMAAFKAN!!" teriak Julia yang sangat kesal kepada kakaknya itu.


Tapi lihatlah pria tersebut, sama sekali tidak menghiraukan dirinya yang tersiksa di dalam kamar ini. Segala kehidupannya selalu saja diatur oleh laki-laki tersebut. Ia tidak memiliki titik kebebasan. Entahlah mulai hari ini Julia akan membenci kakaknya itu. Tapi tampaknya memang ia sudah lama sangat lama membenci laki-laki tersebut.


"Kenapa harus memiliki kakak yang seperti itu? Tidak ada moralnya sama sekali. Tambah dia itu sangat memuakkan. Aku membenci dia," ucap Julia dan lalu kemudian menghirup udara dengan segar.


Tapi seketika itu juga senyumnya langsung mengembang saat melihat ponselnya. Ia membuka aplikasi WA dan lalu kemudian mengirimkan fotonya yang baru saja selesai mandi.


Sambil memberikan caption bahwa ia kesiangan. Akan tetapi chat tersebut hanyalah centang satu sepertinya laki-laki itu juga belum bangun. Benar-benar keterlaluan mereka berdua. Julia pun terkikik membayangkannya.


"Kita ini emang pasangan yang serasi banget kayaknya," ucap Julia sembari terkekeh.


________


Tampaknya Julian sangat curiga bahwa ia bertemu dengan Alaska. Kenapa susah sekali sih meyakinkan pria itu. Julia sendiri sampai muak.


"Kenapa Kakak terus bertanya padahal jawabannya itu-itu lagi. Kakak selalu saja melarang ku bertemu dengan Alaska, memangnya kenapa jika aku bertemu dengan dia? Lagi pula aku tidak ada bertemu dengannya semalam."


Melihat raut wajah marah Julia membuat Julian yakin dengan apa yang dikatakan oleh adiknya. Laki-laki itu tak berani bertanya lebih dalam lagi takut diamuk oleh sang adik.


"Baiklah-baiklah, Dek. Mulai saat ini aku tidak akan bertanya mengenai dirinya lagi. Kau juga tampaknya sangat muak mendengar aku menanyakan tentangnya." Akhirnya Julia bisa bernapas lega ketika pria itu sadar dengan apa yang dilakukan olehnya.


Ia pikir selamanya pria itu akan menjadi orang bodoh dan tidak mengerti dengan perasaan orang lain. Gara-gara larangan Julian hingga membuat dia dan Alaska harus menjalani hubungan diam-diam. Benar-benar sangat melelahkan tidak seperti dulu lagi.


"Seharusnya dari tadi kau sadar. Malah sekarang sadarnya, aku sudah tidak mau lagi makan," tutur Julia dan lalu kemudian meninggalkan meja makan tersebut.


Terlihat jelas di wajah Julian sangat menyesali mengenai perlakuannya tadi kepada adiknya. Sementara itu Julia terkikik pasti kakaknya saat ini benar-benar merasa bersalah dengan dirinya dan ketakutan. Lagi pula ini semua salah Julian memang.


"Rasakan itu, mampus siapa suruh dia mau melawanku. Dia pikir memangnya dia siapa? Aku tahu dia pasti tidak akan berani untuk melawanku dan membuatku menangis. Yang kemarin-kemarin itu pastilah ancamannya cuman, aku sangat hafal dengan pria itu. Benar-bener laki-laki bodoh. Kenapa aku bisa memiliki kembaran seperti dia?"


Itulah yang saat ini sangat disesalkan oleh Julia yaitu kembarannya adalah laki-laki bodoh seperti Julian.


Saat memasuki kamarnya tiba-tiba hp-nya berbunyi. Wanita itu menatap ke arah notifikasi yang baru saja masuk dan itu rupanya adalah foto yang dikirimkan oleh Alaska kepada dirinya. Seketika itu juga wanita tersebut tersenyum lebar. Akhirnya, laki-laki itu membalas chatnya juga setelah sekian lama.


Julia pun menanyakan apakah laki-laki tersebut baru saja bangun tidur. Dan rupanya dugaannya tadi salah karena Alaska baru pulang dari pasar menemani ibunya.


Julia pun jadi sangat merindukan rumah pria itu akan tetapi Alaska melarang dirinya untuk ke sana sebab ini berhubungan dengan kemulusan hubungan mereka. Ia mengatakan bahwa ibunya tidak mau mendengarnya dekat lagi dengan Julia itu artinya Lela tidak ingin melihatnya lagi.


Julia benar-benar menyesal dengan apa yang telah ia lakukan dulu. Namun penyesalan itu terbalas kan sudah ketika melihat Alaska baik-baik saja. Karena memang itulah tujuan utama Julia.


"Semoga kau baik-baik saja. Itulah yang aku harapkan dari dulu. Bahwa tidak akan ada orang yang aku sayangi pergi dari hidupku." Raut wajah Julia menunjukkan rasa cemas yang sangat besar.


Wanita itu tidak lagi memiliki gairah hidup seketika.


__________


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.