
Julia menatap orang tuanya yang terus memaksanya untuk pergi ke Amerika. Ya dua hari lagi ia akan meninggalkan Indonesia, namun wanita itu tetap kekeh dengan pendiriannya dan meyakinkan orang tuanya bahwa ia akan berkuliah di Indonesia saja.
Tentu saja Christy tidak semudah itu memberikan izin. Selain itu Julia juga harus melakukan perawatan yang intensif di Amerika, maka dari itu ia memutuskan anaknya untuk kuliah di Amerika saja.
"Julia apa yang membuat mu sampai seperti ini? Kau ingin melawan ku? Aku selalu memenuhi keinginan dan kebutuhan mu dari kecil, tapi lihatlah sekarang kau sama sekali tidak mempedulikan aku. Apa yang sebenernya kau inginkan Julia? Apakah kau ingin melihat ku sakit jantung akibat pembangkangan mu itu, hah?" tanya sang ibu dengan api amarah yang memerah padam.
Julia menundukkan kepalanya. Beberapa hari belakangan ini ia selalu saja berkelahi dengan orang tuanya. Selalu saja ada masalah dan Julia belum bisa mengatakan yang sebenarnya kepada orang tuanya.
Julian yang berada di tengah-tengah tersebut yang mengetahui rahasia Julia hanya diam. Padahal Julia sudah sangat pasrah jika Julian mengatakan yang sebenarnya kepada orang tua mereka. Tapi ternyata pria itu bahkan sangat baik kepadanya dan tak membiarkan orang tuanya tahu bahwa ia telah mendapatkan ingatannya kembali.
Julia sungguh terharu dengan kakaknya tersebut. Namun ia masih merasa sakit hati dengan apa yang telah dilakukan oleh kakaknya kepada dirinya. Tampaknya yang paling berlebihan di sini adalah Julia. Makanya terkadang ia selalu berpikir bahwa ia harus meminta maaf kepada kakaknya itu karena mereka sudah berhari-hari tidak saling berbicara.
Julia maupun Julian tidak ada yang inisiatif ingin menyapa duluan. Sebenarnya Julia ingin sekali berinteraksi dengan kakaknya tapi ia sangat malu. Maka dari itu ia pun menyimpan keinginannya itu bersama gengsinya.
"Mama, sebenarnya aku yang terus menuruti keinginanmu. Aku yang terus dituntut untuk menjadi orang yang hebat dan mendapatkan juara 1. Tapi kau sama sekali tidak pernah memikirkan bagaimana perasaanku. Kau akan memarahiku setiap kali aku gagal. Aku sama sekali tidak peduli bagaimana aku menahan rasa sakit. Sama sekali tidak pernah memikirkan apakah aku suka dengan jalan yang kau berikan itu. Makanya izinkan aku membangkang."
Christy terdiam mendengar isi hati anaknya tersebut. Tapi sangat disayangkan ia sama sekali tidak tersentuh dengan kata-kata itu. Bahkan Christy berharap bahwa Julia menutup keinginannya.
"Kau Julia!" Ibunya menunjuk-nunjuk ke arah wanita itu lalu menghampirinya.
Kemudian ia menatap anaknya tersebut dengan tatapan tajam sembari menyelidiki sesuatu. Tubuh Julia langsung menegang saat mamanya menatapnya seperti itu. Jangan sampai mamanya curiga bahwa ia telah mendapatkan ingatannya.
"Ada apa Mama?"
"Katakan dengan jelas alasanmu ingin kuliah di Indonesia."
"Karena aku telah membuka perusahaan di sini. Selain itu aku merasa lebih familiar tempatnya di sini daripada di Amerika. Di Amerika aku sulit untuk di interaksi dan juga tidak memiliki banyak teman seperti di Indonesia. Selain itu di Indonesia juga pendidikannya cukup bagus dan aku ingin membanggakan universitas ku."
"Alasan yang sangat klasik. Sudah aku berikan solusi, tapi semuanya kau tolak. Pasti ada alasan lain yang tidak kau katakan kepadaku, kan?"
Julia langsung terdiam namun ia sama sekali tidak peduli. Sementara itu Julian yang berada di tempat tersebut hanya diam dan tidak mengucapkan sepatah kata pun.
"Kenapa kalian saling bertengkar? Jika kau tidak ingin Julia berkuliah di Indonesia besok langsung saja bawa dia. Jika kau ingin dia berkuliah di Indonesia maka setujuilah sekarang supaya tidak ada keributan lagi."
Ibunya menatap ke arah Julian yang akhirnya angkat bicara. "Memangnya semudah itu? Jika semudah yang kau katakan dari tadi aku melakukannya. Kau sama sekali tidak mengerti dengan perasaan orang. Adik mu ini susah diatur berbeda dengan mu. Tidak seperti mu."
Lagi-lagi ibunya membandingkannya dengan Julian. Perempuan tersebut memandang ke arah ibunya dengan nyalang. Akhirnya ia pun akan melawan ibunya yang terus-terusan membandingkannya dengan kakaknya yang ia anggap sangat penurut.
"Lihatlah, Kau hanya peduli dengannya. Pernahkah Mama berpikir bagaimana perasaanku saat kau membandingkan ku dengan Julian? Apakah kau tahu bahwa Julian itu tidak sepintar aku. Kau sama sekali tidak pernah menuntutnya untuk menjadi orang yang pintar. Sementara aku...."
Julia tidak lagi sanggup berkata-kata dan tangisnya pecah. Selama ini ia hidup sesuai dengan kemauan ibunya.
Julian yang melihat adiknya merasa kesal dan iri kepadanya sangat bersalah kepada wanita itu.
"Kau yang tidak tahu bagaimana kehidupanku yang sebenarnya Julia."
________
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.