
Sudah tergolong cukup lama Alaska membolos tanpa adanya keterangan. Pria itu bisa dikatakan bahwa ia tidak sempat mengabarkan sekolahnya sehingga ia pun mendapatkan surat panggilan dari sekolah. Akan tetapi Alaska tidak bisa memenuhi panggilan dari sekolah sehingga dirinya pun terpaksa harus membolos kembali.
Untungnya ada ayahnya yang akan datang ke sekolah dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada Alaska sehingga beberapa hari ini tidak masuk sekolah. Jujur saja Alaska juga terkadang di sisi lain merasa sangat takut jika beasiswanya di sekolah tersebut akan dicabut. Padahal itu adalah satu-satunya harapan agar Alaska bisa membangkitkan ekonomi keluarganya. Untungnya setelah berdiskusi dengan pihak sekolah ia mau memaafkan Alaska dan bahkan memberikan sedikit bantuan kepada orang-orang.
Jujur saja Alaska sangat senang mengetahui hal tersebut. Tapi itu belum sepenuhnya membuat dirinya tenang karena orang tuanya dipanggil dan Alaska tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Bisa saja pihak sekolah akan berubah pikiran dan hal itu akan memperburuk suasana.
Sementara ibunya meminta agar Alaska pergi sekolah dan membiarkannya mengurus dirinya sendiri di rumah sakit ini. Sebagai anak yang baik tentu saja Alaska tidak membiarkan hal itu terjadi. Tidak mungkin ia rela meninggalkan ibunya dalam kondisi sakit seperti ini sendirian di rumah sakit tanpa ada orang yang menemani dan sementara Ayahnya sibuk bekerja untuk membayar rumah sakit mereka.
Sementara itu Julia belum mengetahui kebenarannya sehingga ia kerap kali menghubungi Alaska namun laki-laki itu tak mengangkat maupun membalasnya sebab Alaska tidak sempat untuk memegang ponsel sehingga ia tidak bisa membalas pesan-pesan dan telepon yang diberikan oleh Julia.
Tapi untungnya sekarang ia berkesempatan untuk memegang ponsel. Ketika membuka ponselnya Alaska dikejutkan dengan banyaknya notifikasi yang berasal dari Julia. Ia tidak tahu harus seperti apa dan apakah ia akan membalas chat dan telepon dari Julia. Namun karena ia tidak ingin merepotkan wanita itu maka dirinya membiarkan semua pesan dan telepon dari Julia. Ia tak ingin membebani orang lain karena masalahnya.
"Alaska, kamu sudah beberapa hari ini tidak bersekolah. Apakah kau tidak takut jika nilaimu akan turun dan kau bisa dikeluarkan dari sekolah? Kau juga tahu jika ini adalah salah satu harapan keluarga kita. Kau tidak boleh membiarkannya hanya karena ku. Kau pantas mendapatkan kebahagiaan itu. Nak, besok kau datanglah ke sekolah. Tidak usah memikirkan ku. Yang jelas aku dapat mengurus diriku sendiri. Kau tidak usah panik karenanya," ucap sang ibu yang selalu menasehati seperti itu kepada Alaska.
"Iya Mama." Alaska hanya pasrah dan tentu tak mungkin melawan ibunya sendiri.
Tampaknya juga Alaska masih mempertimbangkan banyak hal. Walaupun seperti itu ia tetap belajar jika memiliki kesempatan untuk mengejar ketertinggalannya. Untung saja ia ada meminjam buku sekolah sehingga ia mampu untuk mengejar teman-temannya yang sudah memasuki materi baru.
Tapi di sisi lain hal ini cukup mengejutkan karena tidak biasanya Alaska ingin belajar. Alaska adalah tipe anak yang cukup pemalas dan tidak ingin berkutat dengan buku-buku sekolah. Tapi ia diberkati dengan otak yang cukup jauh lebih luas. Itu merupakan kelebihan Alaska yang tidak dimiliki oleh orang-orang di sekolah nya. Hanya orang-orang tertentu saja yang memiliki kemampuan tersebut. Alaska juga memiliki daya ingat yang cukup kuat. Jadi ia susah untuk dikalahkan bahkan sekelas Julia pun tak mampu untuk bersaing dengan Alaska.
"Alaska makanlah dulu. Dari tadi kau belum ada makan sama sekali," tawar sang ibu dan memberikan makanan rumah sakit yang seharusnya itu untuknya namun diberikan kepada sang anak.
Alaska tentu saja menolaknya mentah-mentah dan tak ingin menerima pemberian dari ibunya tersebut.
"Mama itu untuk mu. Aku bisa mencari makan di luar, kau tak usah khawatir. Aku sudah besar dan bisa melakukannya sendiri."
"Bagaimana jika kau akan sakit. Jadi ibu harus merawat mu juga? Makanlah ini agar kamu tidak sakit sayang. Dengerin Mama."
Alaska kemudian menganggukkan kepalanya. Ia pun mengambil mangkuk yang berisikan bubur rumah sakit dan memberikannya kepada ibunya lalu memasukkannya ke dalam mulutnya. Bisa dikatakan Jika mereka saling berbagi.
"Ibu bangga memiliki anak yang baik seperti mu. Tapi mama tidak tahu bagaimana cara membalas kebaikanmu. Cukup aku menyayangimu sebagai seorang anak yang sangat aku cintai. Apakah itu membalas semua kebaikan mu Nak?"
Alaska meletakkan mangkuk yang hanya tersisa sedikit bubur tersebut ke atas meja makan lalu menatap ke arah ibunya dengan tatapan yang sangat serius.
"Kenapa Mama tiba-tiba membicarakan itu? Bukankah memang sudah sepantasnya seorang anak membantu orang tuanya? Mama tidak perlu merasa perlu membalas semua kebaikan mu. Justru apa yang aku lakukan ini demi membalas kebaikan yang kau berikan kepadaku," ucap Alaska dengan nada yah lembut dan hal itu cukup membuat ibunya merasa sangat terharu kepada anak semata wayang nya ini.
Julia merasa tidak tenang. Bahkan ia sudah menjenguk ke rumah Alaska akan tetapi rumah itu kosong dan tidak terlihat penghuninya beberapa hari ini. Hal itu cukup membuat Julia merasa sangat terkejut dan ketakutan di waktu yang bersamaan. Apakah sedang terjadi sesuatu kepada Alaska? Julia tidak ingin membayangkan hal-hal yang buruk akan tetapi otaknya terus mendobrak dirinya agar menayangkan hal-hal negatif di kepalanya.
Untungnya Julian juga membantunya karena sahabat dari Alaska itu juga merasakan kekhawatiran yang sama dengan Julia. Mereka belum mendapatkan kabar apapun dari Alaska. Dan tampaknya orang tua Alaska juga tidak diketahui keberadaannya.
Julia beberapa kali bertanya kepada guru di manakah keberadaan Alaska namun pihak sekolah juga belum mengetahui hal itu cukup membuat perasaan Julia menjadi sangat campur aduk.
"Aku tidak tahu harus melakukan apa, tapi tampaknya ini cukup melelahkan. Di mana Alaska? Apakah kau benar-benar tidak mengetahui nya Julian? Kalian itu adalah sahabat kenapa kau tidak bisa mengetahui informasi apapun darinya."
Julian pun memandang ke arah sang adik dengan tatapan serius. Bagaimana mungkin ia bisa mendapatkan informasi Alaska dengan mudah. Sementara ponselnya saja sudah beberapa hari ini tidak aktif.
"Dari tadi kau terus bertanya hal yang tidak pasti. Tentu saja aku tidak tahu jawabannya. Kau pikir aku bisa meramal keberadaannya?"
Tepat ketika Julian menyelesaikan kalimatnya tiba-tiba notifikasi dari ponselnya berbunyi. Julian dengan cepat menyambar ponselnya tersebut dan melihat siapa yang telah mengirimkan notifikasi untuknya. Namun hal tidak terduga mengejutkan Julian. Bagaimana mungkin, ia mendapatkan notifikasi yang berasal dari Alaska.
"Nih Alaska chat."
Dengan sangat cepat Julia pun langsung menghampiri Julian dan lalu kemudian merebut ponsel pria itu.
"Maaf ada urusan di luar." Itulah sekiranya chat yang diberikan oleh Alaska.
"Kenapa dia tidak ingin berbicara sama sekali?"
Julia memasang wajah merengut lalu kemudian ada pihak halangan yang masuk ke dalam kelas mereka meminta bantuan.
"Karena orang tua teman kita Alaska sedang sakit dan tidak bisa mampu membayar kesehatan orang tuanya maka kita akan melakukan galang dana untuk orang tua Alaska."
Seketika itu juga mata Julian dan Julia membulatkan dan mereka lantas saling bertatapan.
_________
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.