
Tentu saja Julia sangat senang ketika dirinya sudah diperbolehkan oleh ibunya untuk menjadi seorang pelukis. Setiap hari ia akan mengajak Alaska ke rumah untuk mengajarkannya. Wanita itu tersenyum tatkala Alaska memperlakukannya dengan sangat baik dan bahkan menjadi sosok Abang yang ia harapkan dari Julian.
"Sepertinya, kau lebih pantas menjadi abangku ketimbang Julian itu. Aku tidak tahu kenapa harus dianugerahi kembaran seperti dia. Bahkan sama sekali dia tidak pernah memujiku, dia selalu mencari kesalahanku dan lalu kemudian mengejekku. Tidak seperti kau Alaska yang selalu ada buat aku," Julia mengatakannya dengan sangat tulus sembari menatap ke arah Julian yang sedang bermain game dengan tatapan benci. Akan tetapi rasa itu hanyalah benci sementara.
Alaska mengikuti arah pandang Julia dan lalu kemudian ia tersenyum mendapati Julian yang fokus dengan game yang ia mainkan. Wanita tersebut menarik nafas panjang dan lalu kemudian menetap ke arah Alaska dengan sangat serius.
"Aku masih bertanya-tanya sebenarnya apa yang membuatmu memilih dia sebagai sahabat. Dia itu nggak baik sama sekali dan bahkan tidak pernah memikirkan perasaan adiknya." Julia tidak mengetahui kebenarannya. Hanya Alaska yang mengetahui bagaimana perasaan Julian kepada Julia.
Perasaan laki-laki itu murni akan kasih sayangnya kepada sang adik. Julian memiliki caranya tersendiri untuk mencintai adiknya. Dia memang sengaja tidak ingin terlihat bahwa ia benar-benar sangat menyayangi adiknya. Selain itu, Julian juga sangat hobi untuk menjahili di Julia sehingga ia tidak ingin Julia tahu dengan perasaannya karena itu cukup memalukan.
"Walaupun seperti itu dia sangat sayang denganmu Julia." Julia yang mendengarnya langsung ingin memuntahkan cairan yang ada di dalam perutnya. a sungguh geli mendengar hal tersebut.
"Tidak mungkin. Sejak kapan hari pria itu cair. Aku tahunnya dia hanya menyimpan dendam dengan ku," ucap Julia yang terdapat sejumput perasaan sedih yang sangat mendalam. "Aku melihat teman-teman aku dan kakaknya sangat akrab. Akan tetapi kenapa aku merasa jika kami tidak seperti itu."
Alaska yang tahu dengan perasaan Julia tersebut lantas memberanikan dirinya untuk meletakkan tangannya di kepala Julia. Alaska lalu kemudian mengusap kepala Julia dengan penuh akan kasih sayang.
"Kau mungkin tidak akan pernah mendapatkan kasih sayang itu dari Julian. Maka dari itu aku ingin menjadi Abang yang seperti kau harapkan. Apakah tidak apa-apa aku menjadi kakak mu?" tanya Alaska dengan penuh hati-hati.
Julian yang sedang bermain game terkejut melihat adiknya tengah dipeluk oleh Alaska. Seketika itu juga Julian langsung berpikir yang aneh-aneh dan takut jika adiknya diapa-apakan oleh Alaska.
Maka dari itu Julian berhenti main game dan meletakkan ponselnya di atas meja. Kemudian para laki-laki itu langsung menghampiri Alaska dan menarik tubuh pria tersebut dari Julia dan lalu kemudian menarik kerah baju laki-laki tersebut.
"Apa yang kau lakukan kepada adikku? Aku tidak pernah memaafkanmu jika kau melakukan sesuatu kepada adikku walaupun kau sahabatku."
Julia yang mendengar hal tersebut hanya memutarkan bola matanya bosan.
"Kau terlalu berlebihan dan sok tahu."
________
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.