Alaska

Alaska
Part 39



Julia secara diam-diam mengendap-endap keluar dari dalam rumahnya. Ia sengaja melakukan itu agar orang rumah tidak ada yang tahu bahwa dirinya keluar. Sebab jika ketahuan pasti tidak akan diberikan izin.


Julia berusaha melewati pintu yang hanya berjarak beberapa langkah lagi dari dirinya, tapi entah kenapa itu sangatlah jauh sebab di depan pintu itu ada ibunya yang tengah menelpon temannya.


Julia berpikir keras ingin melewati ibunya itu tanpa diketahui oleh wanita tersebut. Ia mendsis gemas dan lalu memberanikan diri untuk melewati ibunya mumpung ia bisa melewati mamanya.


"Eh berhenti!" Tubuh Julia rasanya seperti sedang tersentrum ribuan vol listrik. Dan ia membalikkan tubuhnya ke belakang dan memberanikan diri menatap ibunya, sepertinya ia sudah tertangkap basah oleh wanita itu dan artinya ia tak bisa lagi mengelak dari kenyataan. "Hahaha, maksud ku tidak seperti itu. Jadi bagaimana?"


Ternyata ibunya masih menelpon orang. Yang dimaksudnya tersebut adalah temannya itu bukan dirinya. Hampir saja ia terperangkap dan menyerahkan diri sendiri kepada ibunya.


Ia pun memastikan kembali lagi bahwa ibunya tidak mengetahui keberadaannya lalu secara diam-diam ia melangkah dan ia pun berhasil melewati pintu tersebut.


Setelah itu Julia pun lekas berlari ke arah gerbang dan meminta agar satpam membukakan pintu untuknya. Kemudian Ia pun masuk ke dalam taksi yang telah dipesan dirinya sebelumya.


"Bapak antar saya ke tempat biasanya." Ya itu adalah sopir taksi langganannya.


Julia bisa bernapas lega setelah bisa keluar dari dalam rumah itu. Ia pikir akan selamanya terkurung di dalam sana tak bisa melakukan apapun apalagi ibunya sudah tahu ia memiliki kantor di Jakarta. Pasti suatu hari ibunya akan datang ke kantornya untuk memeriksanya.


"Semoga mama tidak menyadari aku keluar," ucapnya dalam hati sembari menatap ke arah jalan di depannya. "Bapak, apakah masih jauh lagi? Bisakah kau lebih ngebut lagi?" tanya Julia berharap kepada laki-laki tersebut akan lebih cepat membawa mobilnya.


Entah kenapa sekarang dia sangat parnoan dan takut akan ditangkap oleh ibunya. Mungkin akibat ia terlalu overthinking dengan keadaannya.


"Baik Non, tapi saya tidak bisa membawa Nona lebih cepat daripada ini sebab kita juga harus memperhatikan rambu-rambu lalu lintas dan keselamatan berkendara."


Mengingat dirinya yang pernah kecelakaan dan dia tidak ingin lagi kejadian seperti itu kembali terulang maka ia pun menganggukkan kepalanya. Lihatlah karena kejadian seperti itu banyak sekali hal yang berubah. Dan itu tak semua sesuai dengan kemauan dirinya.


Akhirnya Julia pun bisa bernapas tanpa saat melihat jika kantornya sudah berada tidak jauh lagi. Perempuan itu bisa melihat bahwa Alaska baru saja datang dan mengenakan sepeda.


Lantas Julia pun membuka pintu kaca mobil tersebut Lalu melambaikan tangannya menyapa Alaska yang tengah sepeda tersebut.


Sedang asyik bersepedaan Alaska terkejut mendengar sapaan terhadap dirinya. Setelah dilihat ternyata rupanya adalah Julia. Alaska pun balik melambaikan tangannya kepada wanita itu.


"Hey kita berlomba siapa yang paling cepat!!"


"Kau yakin? Jelas-jelas kau menggunakan mobil dan aku hanya bersepeda tak perlu ditebak lagi pasti kau yang pemenangnya."


Julia terkekeh dan benar saja ia lebih dulu sampai ke kantor mereka. Ia pun turun dari dalam mobil tersebut dan menyerahkan beberapa uang untuk sang sopir. Setelah itu ia pun menghampiri Alaska yang bersepeda.


"Kenapa baru datang?" tanya Julia kepada pria itu pasalnya menurutnya ia sendiri sudah sangat terlambat.


"Kenapa memangnya? Tidak boleh? Kan aku bosnya," ucap Alaska sarkas kemudian menatap Julia sembari meremehkan wanita itu. "sudahlah, jangan dimasukkan hati aku hanya bercanda."


"Aku juga tahu bahwa kau tengah bercanda," ucap Julia dan lalu kemudian menggandeng tangan Alaska masuk ke dalam kantor mereka.


Mereka hanya memiliki beberapa karyawan mungkin karena perusahaan ini yang baru saja dibuka. Seperti ini saja dia sudah mengeluh padahal orang yang baru pertama kali membuka kantor tidak sebanyak ini karyawannya. Mungkin karena Julia sudah terbiasa dengan karyawan banyak dan perusahaan ayahnya yang terus menjelit.


"Lalu bagaimana denganmu kenapa datang terlambat?"


Julia pun mengercutkan bibirnya. Terlihat jelas bahwa wanita itu tidak senang mendengar pertanyaan tersebut.


"Kau tahu kenapa aku bisa terlambat seperti ini. Ada berita buruk untuk kita. Mama dan papa aku ada di Indonesia. Dia juga bakal mengawasi aku terus-menerus. Kita harus memikirkan cara bagaimana kau tidak ketahuan," ujar Julia kepada Alaska berharap bahwa pria itu telah memikirkan rencana.


"Tidak usah khawatir aku pandai mengatasinya."


Julia pun mendesah pasrah, "jangan terlalu pede. Kau belum tahu kan bagaimana orang tuaku?"


"Bagaimana aku belum mengetahuinya? Jelas-jelas aku selalu melihatnya. Dan bahkan aku pernah berbicara berdua dengannya."


Julia menutup mulutnya tak menyangka bahwa Alaska pernah melakukan ini bersama ibunya. Berbicara berdua, memangnya apa yang mereka katakan? Kenapa Julia menjadi kepo seperti ini.


"Apa yang kalian bicarakan? Pasti ada sesuatu di antara kalian, kan?"


"Entahlah aku lupa topiknya. Hanya topik sederhana sepertinya." Alaska sengaja berbohong karena pembicaraannya saat itu adalah mengenai tentang Julia. Ia tak ingin wanita itu mengetahuinya.


"Ck, bilang saja kau ingin merahasiakannya dariku."


"Lantas jika benar-benar lupa bagaimana? Apakah kau terus memaksaku seperti ini?"


Julia pun menggelengkan kepalanya.


Alaska pun menolehkan kepalanya dan menarik tangan Julia untuk memasuki ruangan mereka. Mereka berada di ruangan terpisah namun disekat oleh dinding kaca.


"Hei Alaska! Lihat aku disini, aku pasti akan bekerja lebih giat daripada kamu," ucap Julia menantang.


"Huh, bukannya 6 hari lagi kau akan balik ke Amerika ya? Dan perusahaan ini akan menjadi milikku."


Julia langsung memurungkan wajahnya. Ia pun langsung duduk di meja kerjanya seraya berpikir. Bukan memikirkan masalah pekerjaan malah ia memikirkan masa depannya di Indonesia.


"Sepertinya benar yang dikatakan kalian bahwa tidak mungkin aku bisa kuliah di Indonesia. Tapi mungkin saja jika aku berani melawannya. Kau tenang saja Alaska aku pasti akan melawan keinginan mereka," ucap Julia dengan sangat yakin.


Alaska pun menghela napas panjang. Kenapa wanita ini terlalu nekat.


"Tidak perlu Julia. Kau pergi saja Ini semua demi kebaikan masa depanmu."


"Aku tinggal di sini juga demi kebaikan masa depanku dan juga masa depan perusahaan kita."


Alaska tidak tahu harus berkata-kata seperti apa lagi karena memang Julia sangat keras kepala dan penuh dengan keyakinan. Wanita itu juga orang yang ceria dan ia tidak bisa menghancurkan ekspektasi wanita itu sendiri.


"Baiklah. Kita lihat sendiri."


____________


Hari pun sudah malam. Julia tidak langsung memutuskan pulang ke rumahnya. Ia meminta agar Alaska membawanya berkeliling Jakarta dengan sepedanya.


Wanita itu pun sangat bahagia melihat kota Jakarta yang sangat indah di malam hari. Apalagi sambil ditemani oleh laki-laki yang paling dicintainya. Pemandangan menjadi lebih ceria dan hidupnya juga berbunga-bunga.


Julia lantas melingkarkan tangannya di pinggang Alaska. Alaska sangat terkejut dengan tangan mungil yang melingkari pinggangnya.


"Julia?"


"Hm?"


"Apakah mamamu tidak akan mencari?"


"Jangan pikirkan dia saat ini. Sekarang adalah momen kita, kita harus bisa memanfaatkannya dengan baik."


Alaska pun menghela napas dan kemudian menganggukkan kepalanya. "Sekarang kita mau ke mana?"


"Ya jalan-jalan seperti ini sembari liatin orang lagi pacaran." Malam-malam di kota Jakarta memang dipenuhi oleh-orang yang membawa pasangannya.


Mereka tidak iri sama sekali karena mereka juga datang bersama pasangannya. Lalu Julia pun meminta agar Alaska berhenti di warteg.


"Kau mau makan ya? Memangnya harus di tempat seperti ini? Apakah kau tidak ingin di cafe saja."


Julia pun menarik napas panjang dan langsung turun dari sepeda pria tersebut. "Aku tahu saat ini kau tengah meremehkan ku, kan? Tidak usah memikirkan itu aku juga sudah biasa kok makan di warteg."


Alaska pun bisa bernapas lega seketika wanita itu tidak terpaksa saat ingin makan di warteg. Lantas Alaska pun menghampiri Julia yang lebih dulu masuk ke dalam warteg tersebut.


Dan Julia juga sudah memesan makanan kesukaannya yaitu soto. Alaska hanya memesan air teh karena ia harus hidup berhemat.


"Kau hanya memesan teh? Memangnya bisa kenyang? Kau tahu tidak, Sekarang kita sedang berkencan dan rasanya tidak romantis kalau hanya meminum air teh," omel Julia dan lalu memandang ke arah penjaga warung tersebut. "Mbak pesan bakso satu porsi ya."


"Julia, kenapa kau melakukannya?" tanya Alaska dengan panik.


"Tidak usah memikirkannya. Aku membayarnya menggunakan uangku," ucap Julia dengan santai dan tak mengkhawatirkan Alaska yang saat ini merasa sangat pengecut dan malu karena yang membayarnya adalah wanita.


"Kau pikir aku tidak bisa membayarnya? Aku bisa membayarnya sendiri dan punya mu. Jangan membantah, karena aku tidak ingin menjadi orang yang pengecut," ucap Alaska tidak dapat diganggu gugat.


"Oke baiklah."


__________


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.