
Di sini Julian benar-benar merasa kebingungan dari mana Julia mengetahui bahwa Alaska adalah kekasihnya dahulu. Apakah Alaska telah menceritakan hal yang sebenarnya kepada adiknya? Sungguh benarkah seperti itu? Membayangkannya saja membuat Julian sangat marah. Alaksa sudah lancang berbuat di luar batasannya.
"Alaska apa yang sudah kau katakan kepada adikku? Kau benar-benar sangat keterlaluan Alaska, kau sama sekali tidak pernah memikirkan perasaanku. Bagaimana aku tersiksa untuk melindungi kejadian yang sebenarnya kepada Julia. Melihat adikku sendiri yang sangat aku sayangi terbaring di rumah sakit dengan lemah dan sekarang pelakunya sudah ada di depanku dan sudah bebas membuat ku sangat sakit hati. Kau menceritakan yang sebenarnya kan kepada Julia, seharusnya kau malu karena berusaha untuk mengingatkan kembali Julia dengan masa lalu kalian tapi kaulah yang menyebabkan semua ini menjadi hancur." Julian sangat berapi-api saat mengatakannya. Pria tersebut hanya bisa menyesal sambil menghela napas panjang sembari mengusap wajahnya dengan sangat frustasi. Ia sudah terlambat dan sekarang kebenarannya terkuak juga. Walaupun ia tahu hari ini pasti akan datang, tapi kenapa harus secepat ini?
Setelah Julia mengetahui yang sebenarnya, pasti tidak akan mudah untuk membawa Julia pulang kembali. Wanita itu sangat keras kepala dan lihatlah sekarang bahkan ia sama sekali tidak mempedulikan keinginannya untuk mengajak adiknya pulang bersamanya dan melupakan Alaska. Julia berani membangkang demi Alaska.
Terlihat dari wajahnya yang tidak suka saat mendengar Julian membentak Alaska. Julia melepaskan tangan Alaska yang menahan dirinya agar tidak terbawa emosi mendengar kata-kata kakaknya tadi.
Plakk
Tanpa sadar Julia menampar Julian. Semua orang yang ada di situ sangat terkejut terlebih lagi Alaska. Ia merasa sangat bersalah kepada Julian. Laki-laki itu melirik ke arah Julian dan benar saja Julian menatapnya dengan pandangan lebih daripada benci.
"Kenapa kau mengatakan itu kepada Alaska? Itu semua murni karena kecelakaan Kak, kenapa kau selalu menyalahkannya ketika aku sendiri yang ingin menyelamatkannya. Lihatlah sekarang aku sudah sembuh, aku juga tidak akan berkuliah di luar negeri dan akan pindah ke Indonesia."
"Julia apa yang kau katakan?" tanya Julian sangat terkejut dengan keinginan adiknya itu.
Julia sama sekali tidak peduli dengan Julian. Ia membawa Alaska agar menjauhi pasar tersebut. Namun Alaska yang sudah merasa tidak nyaman dengan Julian, lantas menghentikan langkahnya dan menarik tangan Julia agar mereka tidak pergi meninggalkan Julian di tempat itu sendirian dalam keadaan sedang emosi.
"Apa yang dikatakan oleh Julian itu benar Julia, di sini akulah yang salah. Kau tidak perlu membelaku hingga melawan kembaranmu sendiri. Seharusnya kau tahu apa yang kau lakukan itu benar-benar keterlaluan karena telah menyakiti perasaan orang yang benar-benar tulus dan ada di sampingmu selama ini. Julia ingat, Julian itu adalah kembaranmu. Saat aku tidak ada dialah yang menjagamu. Bahkan kalian sudah saling bersama di dalam rahim," nasehat Alaska dengan penuh harap bahwa Julia akan mengerti dengan perasaan hatinya.
Julia pun berhenti melangkah dan menatap ke arah Julian. Apakah yang ia lakukan tadi salah? Padahal ia ingin membela Alaska. Tapi kenapa pria itu malah berpihak kepada Julian? Apakah di sini dirinya yang harus membuka pikirannya lagi?
Julia pun menghampiri Julian lalu memeluk tubuhnya dengan sangat erat. Julian terkejut dengan apa yang dilakukan oleh adiknya, ia pun membalas pelukan yang diberikan oleh Julia. Ia tahu jika adiknya masihlah sangat menyayanginya. Hanya saja dirinya lah yang perlu diubah pola pikirnya. Tapi memang tidak semudah itu untuk memaafkan orang yang pernah menyakiti hati dan bahkan merusak tubuh adiknya hingga adiknya itu tidak lagi menjadi orang yang sempurna.
________
Alaska pulang ke rumah dengan perasaan yang sangat bahagia. Laki-laki tersebut pun duduk di sopa reot-nya dan termenung sejenak di ruangan itu. Beberapa tahun tidak bertemu dengan Julia sungguh berbeda saat melihat wanita itu yang semakin cantik.
Awalnya ia sempat tak kepikiran jika itu adalah Julia sebab wanita itu sangat berbeda dari biasanya. Ia tahu bahwa Julia pasti telah melakukan operasi plastik di beberapa bagian tubuhnya sebab untuk menutupi cacat akibat ia tertabrak kemarin.
Lela yang berada di luar rumah dan hendak masuk ke dalam rumahnya terkejut melihat anaknya yang tersenyum-senyum sendiri. Wanita itu tidak menjadi semakin tidak mengerti kenapa Alaska bersikap demikian. Perasaannya jadi sangat khawatir Sebab ia tahu jika Alaska pernah mengalami depresi hingga harus dibawa ke rumah sakit jiwa. Apakah laki-laki tersebut kembali kambuh?
"Sayang kamu kenapa? Ada apa Nak? Cerita lah ke Mama kalau punya masalah."
Alaska terkejut ketika mendengar suara ibunya. Seketika itu juga ia langsung menormalkan ekspresinya dan berusaha terlihat seperti tidak terjadi apapun.
Lela seakan tidak percaya dengan anaknya. Bagaimanapun Alaska adalah anaknya jadi ia pasti mengerti dengan pria itu.
"Jika kamu merasa depresi kembali bilang ke mama. Mama tidak tahu jika kamu kembali kambuh seperti kemarin."
Alaska yang mendengarkan kekhawatiran sang Ibu hanya tertawa. Bagaimana tidak, ia tahu betul jika wanita itu memang sangat mengkhawatirkan dirinya tapi tidak mungkin ia akan depresi lagi.
"Mama tenang saja, aku baik-baik Ma. Mama tidak perlu khawatir lagi denganku," ucap Alaska sembari terkekeh.
Lagi-lagi Lela dibuat bingung oleh anaknya. Kenapa sikap Alaska kali ini berbeda dari biasanya? Sepertinya ada hal yang membuat anak itu senang sehingga tidak berhenti dari tadi terus senyam-senyum.
"Apa yang sebenarnya sudah terjadi? Ceritakan lah rasa bahagiamu ke Mama supaya Mama ikut bahagia."
Seketika itu juga senyum yang terus ia ulas langsung luntur. Apakah dirinya akan menceritakan yang sebenarnya kepada mamanya bahwa ia telah bertemu dengan Julia? Tapi ia tahu betul pasti mamanya tidak akan membiarkan ia bertemu lagi dengan wanita itu.
Mamanya tidak ingin lagi ia terlibat dengan orang-orang tersebut. Tapi sangat disayangkan hatinya hanya tertuju kepada Julia seorang. Tidak ada nama lain di sana selain wanita itu.
"Aku tadi hanya bertemu dengan beberapa teman lamaku saja." Alaska tidak sepenuhnya berbohong karena Julian dan juga Julia adalah teman lamanya. Hanya saja Lela yang tidak mengetahui bahwa teman lama yang dimaksud oleh Alaska tersebut adalah Julia dengan Julian.
"Oh seperti itu ya. Nanti kamu ke tempat ayahmu bekerja ya bawakan makanan buat dia. Kasihan papamu."
"Oke Ma."
Alaska pun masuk ke dalam kamarnya dan lalu duduk di tepi ranjang. Ia menatap ke arah dindingnya yang dipenuhi dengan beberapa poster-poster dan juga harapan yang pernah dibuatnya. Sudah lama ia sangat menantikan hari ini.
Lagi-lagi otaknya memutar pada kejadian pertemuannya dengan Julia. Laki-laki tersebut berpikir bahwa ia tak akan lagi pernah bersama dengan wanita itu. Sempat terkejut bahwa Julia kehilangan ingatan, namun dibalik keterkejutannya ada rasa bahagia ketika dia telah mengingat semuanya. Mengingat hubungannya.
"Sekarang kau menjadi orang yang sangat hebat Julia. Semoga kau mengerti dengan kekhawatiran keluargamu. Mereka melakukan itu semua demi kebaikan mu."
_________
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.