
Julia memang sedikit bebal jika dinasehati. Julian dan bibi yang bekerja di rumah sudah kerap menasehati wanita itu agar menjaga kesehatannya dan tidur teratur. Akan tetapi tetap saja Julia tak menghiraukan itu dan diam-diam di dalam kamarnya ia belajar melukis sendiri hingga larut malam. Setelah itu dilanjutkannya untuk menonton.
Alhasil Karen sering begadang membuat imun tubuh Julia menurun dan bahkan membuatnya darah rendah. Julian yang diamanahkan oleh orang tuanya untuk menjaga Julia pun menjadi kalang kabut. Terlebih lagi ia sangat menyayangi Julia dan tidak ingin terjadi sesuatu kepada wanita itu.
Namun menjaga Julia yang keras kepala tentu saja tak segampang yang dipikirkan. Perempuan tersebut sering membantah ucapan durian dan sampai berkelahi. Mau tidak mau Julian pun harus mengalah dari adiknya itu.
Seperti saat ini, Julia merasa kepalanya sangat sakit akibat dia mengabaikan perintah Julian. Hampir saja ia terjatuh pingsan dan untungnya ada Alaska yang menahan tubuh Julia dan membenarkan wanita itu berdiri.
"Julia ada apa dengan mu? Kenapa kau sakit lagi?
Julia menggelengkan kepalanya dan berusaha untuk terlihat kuat di depan Alaska. Sementara itu Julian muak dengan Julian yang berpura-pura baik-baik saja.
"Alaska, bagaimana caranya aku ingin menasehati dia. Dia selalu saja mengabaikan ucapan ku, maka dari itu penyakit anemianya kembali kambuh."
Alaska menarik nafas panjang dan menatap ke arah Julia dengan napas lelah. Sepertinya di sini juga kesabarannya tengah diuji oleh Julia.
"Julia kita duduk dulu," ujar Alaska dengan suaranya yang lembut dan menuntun Julia untuk duduk di kursi taman sekolah.
Wanita tersebut hanya mengercutkan bibirnya dan sama sekali tidak merasa bersalah dengan apa yang telah dilakukan olehnya. Menurutnya hal itu benar di matanya sementara itu berbeda di mata kedua pria yang mengerjakan bahwa Julia sangat rapuh dan harus mereka jaga tersebut.
"Kau itu memiliki imun yang lemah dan kau tidak bisa seenaknya dengan kesehatan tubuh mu. Kau perlu memperhatikannya."
Julia menggelengkan kepala dan lalu kemudian menarik napas panjang. Kenapa Alaska sekarang tampak menyebalkan sama seperti Julian. Mungkin akibat pria itu sering bergaul dengan kakaknya tersebut hingga akhirnya terpengaruhi oleh Julian.
"Aku muak dinasehati seperti itu terus. Aku baik-baik saja, tadi hanya kebetulan. Jadi kalian tidak boleh khawatir berlebihan kepadaku," ucap Julia menenangkan Alaska.
Tentunya tak semudah itu untuk menenangkan pria tersebut terlebih lagi rasa khawatirnya sudah sangat mendalam.
"Ini gara-gara mu Alaska," ucap Julian dan tampak murung. Alaska uangnya tidak terima tapi ia juga penasaran kenapa Julian bisa menyalahkan dirinya dalam hal ini.
"Memangnya kenapa aku?"
"Gara-gara kau, dia berambisi ingin sama sepertimu dan berusaha untuk menjadi pelukis yang hebat. Pada akhirnya dia membuat lukisan sampai tengah malam." Alaska tidak pernah menyuruh Julia seperti itu. Tapi Julia memiliki semangat juang yang sangat tinggi. Sukar untuk ditampik jika wanita itu memang sangat hebat.
Namun jika terlalu memaksakan diri itu bukanlah suatu pilihan yang bagus. Jadi sebagai orang yang menyebabkan Julia seperti ini, maka sudah sepantasnya Alaska untuk bertanggung jawab dalam hal ini.
"Julia dengarkan aku. Memang belajar itu sangat bagus tapi kau tidak bisa memaksakan dirimu untuk terus belajar dan mengabaikan kesehatanmu begitu saja. Kau harus sehat Julia, aku tidak masalah jika kau belum bisa melukis kok bisa belajar di siang hari jangan sampai larut malam."
Julia benar-benar kesal dengan kedua pria itu. Tidak ada yang bisa mengerti dirinya. Gangguan tersebut hanya menata ke arah Alaska dan Julian dengan mata yang berkaca-kaca. Kenapa terus saja dia yang disalahkan. Lagi pula yang sakit adalah dirinya dan kenapa orang lain malah yang repot.
"Kalian benar-benar menyebalkan."
"Hei maafkan aku. Aku tidak berniat ingin membuatmu sakit hati tapi aku ingin kau tahu jika kesehatanmu itu penting."
Julia sudah tak sanggup lagi terus dinasehati seperti itu. Kebetulan sekali adalah tipe wanita yang sangat baperan sehingga perempuan itu pergi begitu saja meninggalkan Julian dan Alaska.
Alaska hendak mengejar Julia tapi ditahan oleh Julian. Pria itu menggelengkan kepalanya bahwa Alaska tak perlu lagi mengajar Julia.
"Biarkan saja dia sendiri, dia memang seperti itu. Baperan,
mudah ngambekan, selain itu juga cemburuan. Seharusnya aku bisa memahaminya, dan biarkan dia merenungi dirinya sendiri sebelum akhirnya nanti dia juga sadar sendiri."
Alasan menghela nafas lelah denganmu kemudian menurut keningnya. Wanita memang sangat sulit untuk ditebak, tapi kenapa ia peduli?
__________
"Ck, tidak ada yang benar sama sekali. Memang mau mereka itu apa? Kenapa aku yang selalu disalahkan? Ini juga karena mama. Kalau semisalnya mama tidak menyuruhku untuk terus belajar dan memiliki bakat di non akademi kemungkinan aku tidak akan seperti ini dan harus belajar sampai larut malam. Jika ingin disalahkan ya salahkan mama," keluar Julia di dalam toilet. Dia berbicara kepada dirinya sendiri sembari meluapkan rasa kesalnya yang sudah sangat mendalam di dalam hatinya itu.
Julia menyandarkan tubuhnya ke dinding toilet dan lalu merosot ke bawah. Bukan dirinya tak tahu jika ia memiliki penyakit semacam itu. Namun karena tuntutan orang tuanya yang harus dirinya terlihat perfect membuat wanita itu kehilangan jati dirinya yang sesungguhnya.
Julia bertahan dalam hidup yang penuh dengan kekangan dan aturan. Akan tetapi berbeda dengan Julian yang dibebaskan. Terkadang Julia merasa sangat iri kepada kakaknya itu dan mengatakan bahwa dunia tidak adil terhadap dirinya.
Orang tuanya adalah pengusaha kaya, tentu saja anak-anak yang harus dituntut sedemikian rupa agar memenuhi ekspektasi mereka. Tapi masalahnya Julia menjadi robot hidup dan sakit-sakitan karena ulah mereka.
"Kenapa harus aku? Kenapa? Kenapa tidak kakak Julian saja?"
Julian menghapus air matanya dan lalu kemudian keluar dari dalam tanah tersebut dan menyempatkan diri untuk mencuci wajahnya agar tidak ada yang mengetahui bahwa dirinya habis menangis.
"Aku pasti kuat, aku bisa melewati semua ini."
Julia pun keluar dari dalam toilet dan tak menyangka jika di depan pintu toilet sudah ada Julian dan Alaska yang menunggu mereka.
Julia menatap tajam ke arah keduanya dan seakan tak peduli ia pun melintasi mereka begitu saja. Alaska memandang ke arah Julian dan meminta jawaban pria itu apakah Julia boleh ia hampiri.
"Nanti saja. Aku akan berusaha berbicara kepadanya. Kau tidak usah khawatir tentang Julia," ucap Julian yang menyusul wanita itu.
________
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.