
Hari ini seperti biasanya Julia telah merencanakan sesuatu dengan Alaska. Yaitu sebuah rencana mengenai bahwa mereka berdua akan pergi ke showroom bersama secara diam-diam dan berusaha melewati pengawalan Julian yang sangat ketat, tentunya perencanaan ini sangat matang karena tidak mudah untuk mengelabuhi Julian yang lumayan pintar. Mereka sudah bertekad bulat untuk mengadakan pameran lukisan hasil karya mereka.
Julian mengetahui bahwa adiknya akan mengadakan pameran karya-karyanya tapi dia tidak tahu jika Alaska akan ikut dalam pameran tersebut. Mereka akan banyak memamerkan karya lukisanku dengan macam-macam tema dan makna tersirat dan juga di sana juga ada termasuk karya milik Alaska sendiri.
Hari ini keduanya pun bertemu di ujung jalan rumah Julia. Alaska telah datang dengan sepeda lamanya. Bersepeda seperti sekarang mengingatkannya dengan masa lalu. Di mana saat itu mereka masih duduk di bangku SMA dan mengenakan seragam putih abu-abu.
Julia sudah berpenampilan rapi dengan celana jeans, sepatu boot dan lalu kemudian menggunakan baju rajut. Ia juga menggunakan kulpuk di kepalanya.
"Lama banget sih baru sampai? Padahal udah nungguin dari tadi," ucap Julia berpura-pura kesal kepada Alaska.
Alaska pun mendesah berat. Ia mengacak-acak rambut Julia dan lalu kemudian mencium kening wanita itu. Terlihat bahwa dia sama sekali tidak merasa bersalah dengan keterlambatannya dan membayar semua itu dengan senyuman manisnya sehingga Julia tidak bisa marah dengan pria itu dan memaafkannya lagi dan lagi.
"Tuh kan, kayak gitu. Gimana Julia mau marah coba," cemberut Julia dan sembari menggoyangkan tubuhnya. Ia kesal kepada dirinya yang sangat mudah memaafkan pria ini. Mungkin akibat terlalu bucin dengan wanita tersebut.
"Iya-iya maaf sayang. Sudahlah cepat naik ke boncengan nanti mau aku tinggalin lagi?" Seketika itu juga wajah Julia berubah muram saat mendengar bahwa Alaska akan meninggalkan dirinya.
Ia tidak akan rela jika pria tersebut meninggalkan yang sudah menunggu lama pria itu begitu saja. Apakah pria itu tidak berperasaan?
"Iya bentar." Julia pun naik ke boncengan Alaska, dan kemudian setelah merasa bahwa Julia telah aman Alaska pun perlahan mengayuh sepedanya.
Mereka menikmati perjalanan bersepeda berdua sembari melontarkan kata-kata lelucon sepanjang jalan sehingga Alaska tidak terasa berat saat mendayung sepedanya tersebut. Tak terasa perjalanan juga sangat cepat.
"Barang-barang mu di mana Alaska?"
"Tadi aku ke showroom duluan sekalian bawa barang-barang aku. Makanya aku tadi bilang ke pasar dulu."
"Kan itu ke pasar bukan ke showroom," protes Julia karena dua hal tersebut adalah tempat yang berbeda.
"Habis ke showroom baru ke pasar," jelas Alaska dan lalu kemudian tertawa gelak.
Mendengar tawa laki-laki tersebut yang seolah mengejek-ejek dirinya membuat Julia sangat marah kepada pria itu. Kenapa ia bisa memiliki pacar yang seperti ini dan menghina dirinya walaupun itu hanya bercanda. Akan tetapi marahnya ini juga sama seperti pria itu bahwa hanya bercanda.
"Gimana? Masih marah atau belum? Masa belum ngerti juga, sudahlah memang otakmu tidak sampai."
"Heh enak aja ngatain otak aku tidak sampai. Dari tadi aku juga mengerti kali. Oh ya bareng-bareng aku juga udah dibawain sama sopir ke showroom. Semoga aja dia nggak curiga dan laporan ke Julian. Benci banget sama Julian, cowok itu ingin sekali ku cakar-cakar mukanya."
Dari nada bicaranya Julian terlihat bahwa Julia benar-benar sangat membenci yang namanya Julian. Intinya sudah pasti bahwa ia akan selalu membenci pria itu apapun keadaannya. Karena pria tersebut telah menghancurkan hidupnya dan juga kebebasannya. Akan tetapi Julia masih menyayangi karena ikatan batin mereka.
"Gimana? Masih lama nggak baru sampai?"
"Nggak juga. Sebentar lagi kita akan sampai," ucap Alaska dan tiba-tiba langsung berhenti. Ia pun menoleh ke arah Julia sembari tertawa lemah.
"Dasar kau ini," ucap Julia seolah tengah merajuk.
"Gak punya mata memangnya Neng?"
Alaska pun menyentil kening wanita itu dan kemudian ia meninggalkan Julia yang masih bengong di tempatnya masuk ke dalam showroom.
"Dasar pecundang kau ini!" teriak Julia kepada laki-laki tersebut yang saat ini meninggalkan dirinya.
Kemudian ia pun berlari menyusul Alaska dan masuk ke dalam showroom tersebut. Ia melihat semua karya Alaska yang akan dipajang dan seketika itu juga wajahnya langsung terpesona dengan lukisan Alaska.
"Jangan menyentuhnya. Kau mengerti tidak?" tanya Alaska memarahi Julia dengan suaranya yang lembut.
Julia pun kaget saat pria itu memarahinya tapi ia tampak biasa saja dan menganggukkan kepalanya.
"Oke, oke. Dasar pelit."
"Merajuk lagi si tuan putri," ucap Alaska seraya tertawa melihat raut wajah Julia yang saat ini sangat berbeda dari sebelumnya. Walaupun ia terlihat tidak marah tapi ia tahu bagaimana suasana hati Julia.
Julia pun bersikap acuh seolah-olah mereka tidak saling mengenal. Kemudian Ia juga turut memajang lukisan miliknya. Tiba-tiba Alaska datang dan berdiri di belakang Julia seraya menatap ke arah lukisan itu sembari mangguk-mangguk mantap.
"Lumayan juga lukisanmu, aku pikir kau tidak bisa melukis." Seketika wajah Julia langsung berubah.
"Kau!"
"Bercanda sayang." Alaska menariknya ke dalam pelukannya dan kemudian membisikkan kata-kata sayang untuk wanita itu. "Jangan baperan, nanti bakal mudah sakit hati. Lagi pula di mataku lukisannya lebih daripada aku."
Seketika itu juga wajah Julia langsung sumringah. Nah kata-kata seperti ini yang sebenarnya ingin didengarnya dari Alaska bukan kata-kata yang dari tadi pria itu lontarkan yang sungguh menyakiti hatinya.
Julia mendongakkan kepalanya dan ia tersenyum lebar. Sementara itu Alaska pun menatap Julia dengan tatapan berbinar dan menyentuh bibir wanita itu. Bibirnya tebal dan juga sangat pas untuk ukuran Julia. Julia seperti Dewi Dewi yang ada di dalam cerita dongeng. Dia benar-benar sangat sempurna untuk ia miliki. Bahkan Alaska menjadi ragu apakah ia bisa mendapatkan raganya ketika semua orang tidak merestui mereka.
"Bagaimana sayang? Udah berubah pikiran? Kamu udah mulai nerima aku."
"Dari dulu kali aku nerima kamu. Kamunya aja yang gak sadar sadar."
Mereka berdua pun lantas tertawa bersamaan. Lalu setelah itu barulah mereka membereskan showroom tersebut dan saling bekerja sama, membersihkan barang-barang serta debu-debu yang ada di dalam showroom itu. Dua hari lagi mereka akan melakukan pameran.
Dengan koneksi Julia yang sangat banyak pun dia sudah mengundang beberapa orang dan juga menyebarkan selebaran kepada orang-orang untuk mendatangi showroom mereka. Kebetulan sekali Julia cukup terkenal di internet karena dia selalu memposting-posting karyanya.
Wanita itu menatap ke arah Alaska yang selama ini mengajarkan dirinya hingga menjadi pelukis yang berbakat.
"Terima kasih untuk semuanya. Semua ini berkat mu." Alaska pun tak mengerti dengan wnaita itu. Kenapa cepat sekali berubahnya.
"Ada apa dengan mu?"
Julia pun menarik napas panjang dan menatap ke sekeliling dirinya. Senyumnya tak bisa luntur melihat hasil karyanya itu yang sangat berpotensi.
"Lihat, jika bukan karena diri mu aku tidak akan sebagus ini menghasilkan karya-karya tersebut. Semua ini berkat mu."
"Ya aku mengajarkan mu juga karena butuh uang." Mata Julia kontan langsung membulat.
"Kau! Benar-benar kau ini, selalu saja membuat ku kesal," ucap Julia seraya menarik napas panjang.
________
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.