Alaska

Alaska
Part 31



Alaska pun duduk di samping Julian. Ia menatap serius ke arah Julian dan menuntut pria itu segera mengatakan apa yang sebenarnya ingin dikatakan oleh laki-laki itu hingga rela malam-malam mendatangi rumahnya. Seperti ada hal yang sangat serius saja.


"Katakanlah cepat. Sebentar lagi Hari akan siang kau pasti belum tidur," ucap Alaska kepada pria tersebut.


Julian pun menganggukkan kepalanya karena memang dari tadi sore sampai malam ia belum tidur. Laki-laki tersebut menyediakan pasokan udara sebelum menceritakan semuanya yang ingin Ia katakan dan termasuk unek-uneknya selama ini kepada pria itu.


"Alaska, mungkin kamu juga sudah tahu bahwa diriku akan membahas mengenai Julia." Alaska menganggukan kepalanya karena memang itulah tujuan kedatangan Julian, apalagi jika bukan mengenai Julia.


"Maka dari itu katakanlah sekarang apa yang harus kau katakan. Aku juga belum tidur, dan masih banyak yang harus aku lakukan maka dari itu aku tidak punya banyak waktu."


"Jauhi Julia. Kau tahu aku sengaja menjauhkan kalian berdua. Kenapa Julia bisa mengingatnya kembali? Apakah kau menceritakan yang sebenarnya kepada Julia? Kau benar-benar memaksakan kehendak mu Alaska tanpa memikirkan resikonya ke depan."


Alaska pun terdiam. Kenapa Julian selalu saja salah paham dengannya dan tidak berniat ingin mencari tahu kebenarannya. Bisa-bisanya laki-laki tersebut menyimpulkan seperti itu bahkan dirinya sendiri saja tidak mengetahui bahwa Julia kehilangan ingatannya. Ia tahu bahwa wanita itu tidak mengingat beberapa masa lalunya baru-baru saja. Jadi tidak mungkin ia memiliki pemikiran yang seperti tengah dituduhkan oleh Julian.


"Kenapa kau mengatakan bahwa aku sengaja ? Bahkan aku sendiri saja baru tahu bahwa Julia kehilangan ingatannya. Kenapa kau menyuruh aku untuk menjauhinya? Dia adalah kekasihku, kami sudah lama terpisah. Pikirkan perasaan kami juga."


Julian memandang ke arah Alaska dengan tatapan yang serius. Setelah seperti ini apakah Alaska masih ingin egois. Apalagi semua ini juga menyangkut masa depan Alaska dan juga Julia.


"Kau tidak bisa memutuskan seenaknya saja. Kau harus menjauhi Julia Alaska. Aku pikir kau mungkin sudah mengetahui apa alasan aku menyuruhmu untuk menjauhi Julia. Dia bahkan ingin pindah kuliah ke Indonesia dan itu artinya dia mengulang kembali, dan kau tahu jika itu ia lakukan karena mu. Semua orang ingin berkuliah di Harvard, kenapa tiba-tiba sudah berkuliah di Harvard malah ingin pindah ke universitas yang ada di Indonesia, itu sungguh konyol, kan? Dua minggu lagi aku akan kembali ke Amerika Serikat dan membawa Julia. Apapun alasannya Aku tidak akan membiarkan Julia tinggal di sini, maka dari itu sebelum orang tuaku mengetahui hubungan kalian kembali membaik dan Julia sudah mengingatnya maka kau harus menjauhinya lebih dulu. Ini juga demi keselamatanmu dan juga keluargamu," ujar Julian yang mengatakan semua unek-uneknya yang tertahan. Ia kesal Julia sudah mengingat tentang Alaska.


Alaska pun terdiam. Ia sudah menapak jika hal inilah yang ingin dikatakan oleh Julian. Tidak ada jalan lain tampaknya yang bisa mendukung hubungannya dengan Julia. Sepertinya ia memang harus menjauhi Julia. Tapi apakah ia boleh egois karena ingin menikmati waktunya beberapa minggu ini dengan wanita tersebut.


"Bagaimana aku menjauhinya? Sementara dialah yang selalu datang kepadaku. Sedangkan aku tidak bisa menahannya karena aku juga merindukannya. Selain itu biarkanlah aku bersamanya untuk beberapa minggu ini sebelum kita benar-benar berpisah."


Julian lantas menggelengkan kepalanya. Ia tidak setuju dengan usulan tersebut. Menurutnya usulan itu sangatlah konyol. Jika Alaksa meminta seperti itu maka akan semakin membuat Julia tidak ingin jauh dengan laki-laki tersebut dan selalu saja memaksa Julian untuk menemui Alaska.


"Aku tidak akan setuju dengan itu. Bahkan kau tahu sendiri bahwa Julia adalah orang yang paling nekat. Semakin kalian bersama maka akan semakin dalam perasaan kalian. Itu artinya Julia juga semakin tidak bisa berpisah denganmu. Jika sudah seperti itu maka ia tidak ingin ikut aku ke Amerika Serikat."


Benar apa yang dikatakan oleh Julian. Alaska pun semakin kebingungan dengan dirinya sendiri. Apakah ia ikut naluri hatinya saja? Jika mengikutinya maka akan semakin egois dan banyak mengorbankan orang lain. Bisa dikatakan ia tidak terlalu dewasa.


"Pulanglah Julian. Aku tidak bisa berpikir. Walaupun begini Aku juga masih memiliki hati dan perasaan. Kau tau sendiri jika laki-laki sudah sakit hati akan sulit untuk disembuhkan."


Alaska masuk ke dalam rumahnya begitu saja dan meninggalkan Julian di luar rumah. Setelah mengatakannya Julian pun merasa puas dan lalu pulang ke rumah.


________


Pagi-pagi sekali, Julia sangat bahagia dan ia ingin menemui Alaska. Dia sudah membuat janji dengan pria itu semalam dan mereka akan bertemu di mall. Mungkin mereka akan berbelanja beberapa kebutuhan.


Julia keluar dari dalam mall itu dan menelepon laki-laki Itu. Tapi tidak ada jawaban sama sekali dari seberang sana. Bahkan Julia masih saja tetap menunggu Alaska walaupun ia tahu laki-laki itu tidak datang.


Julia menangis sejadi-jadinya. Ia sudah keluar dari dalam mall. Saat ini dirinya tengah duduk di halte bis. Tak terasa hari pun sudah sangat malam hujan juga tiba-tiba datang. Julia sama sekali tidak berniat ingin pulang ke rumahnya.


Alhasil ia kehujanan di halte bus tersebut. Ketika ia menangis di bawah hujan sembari mendekap tubuhnya tiba-tiba Alaska datang dan memeluk tubuh Julia. Dia memasangkan jaket miliknya ke tubuh wanita itu yang sudah basah kuyup.


"Maafkan aku Julia. Aku datang terlambat untuk menemui mu. Aku tahu aku salah dan aku tidak pantas untuk dimaafkan olehmu."


Julia perlahan melirik ke arah pria itu dengan mata sembab. Kemudian ia memeluk leher Alaska dengan sangat erat. Inilah yang ia tunggu dari tadi tapi orangnya baru saja datang.


"Ke mana saja kau? Kenapa tidak mengangkat teleponku sama sekali?"


Alaska tidak bisa menceritakan yang sebenarnya. Karena ia kepikiran dengan ucapan Julian yang untuk menjauhi Julia. Maka dari itu ia tadi tidak ingin menemui Julia karena berniat untuk menjauhi Julia. Tapi rupanya ia tak bisa, perasaannya selalu diliputi dengan perasaan khawatir apalagi ketika Julia terus menelepon dirinya.


"Aku lalai karena ada urusan tadi. Sudahlah kita tunda besok saja. Nanti aku akan mengantarmu pulang lebih dulu."


Seolah menjadi orang yang patuh Julia hanya menganggukkan kepalanya ketika Alaska mengatakan hal tersebut.


Alaska pun tersenyum dan lalu kemudian memeluk tubuh Julia. Mereka menunggu bis yang datang dan tidak lama bis melintas di depan mereka.


Mereka pun naik ke bus tersebut dan Alaska menunjukkan Julia di sampingnya. Jaket yang ia berikan kepada Julia pun sudah basah. Alhasil, Alaska hanya memeluk tubuh wanita itu untuk menghangatkannya.


Dengan seperti itu pun Julia bisa merasakan kehangatan yang luar biasa dari pria tersebut. Ia tersenyum dan lalu kemudian membalas pelukan Alaska.


"Lain kali kau jangan seperti ini. Membuatku khawatir dan kau sama sekali tidak datang padahal aku terus menunggu mu. Huh, sepertinya aku tetap akan menunggu mu walau kau tidak datang."


"Seharusnya ketika aku tidak datang kau pulang saja."


"Mana bisa begitu," sangkal Julia.


________


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.