
Saat ini Julia dengan Alaska sedang mengurus kantor mereka. Kebetulan ruangan kantor Julia yang dilapisi kaca itu bisa membuat Alaska melihat pekerjaan Julia. Laki-laki tersebut bingung melihat wajah Julia yang sangat tidak bersahabat. Ada apa dengan wanita itu sebenernya? Kenapa terlihat sedang tidak mood.
Bahkan Julia sama sekali tak berbicara dan terlihat di wajahnya tengah menahan tangis. Apa yang sebenernya terjadi kepada wanita itu? Julia tidak ada mengatakan apa pun kepadanya tadi pagi. Fix wanita itu menyimpan sesuatu dari dirinya.
Alaska berhenti menglist beberapa kegiatan dan lalu menghampiri wanita itu. Ia menatap ke arah Julia yang belum sadar dengan kedatangannya.
"Apa yang sebenernya terjadi? Tidak ingin mengatakan yang sebenarnya, hm?" tanya Alaska pada wanita itu seraya menarik kursi ke dekat perempuan itu.
Terlihat jelas bahwa Julia terkejut mendengar suaranya tadi. Mungkin akibat Julia yang terlalu fokus dengan lamunannya hingga ia melupakan sekitarnya.
"Eh kau rupanya. Ada apa? Apakah ada masalah sehingga harus didiskusikan dengan ku?" tanya wnaita itu dan Alaska menggelengkan kepalanya.
Seketika itu juga Julia bingung dengan Alaska yang menghampirinya. Bukannya laki-laki tersebut harus bekerja. Tapi kenapa malah menghampiri dirinya.
"So?"
Alaska pun menghela napas pasrah dengan wanita itu. Memang Julia sukar untuk peka dengan sekitarnya.
"Seharusnya aku yang bertanya ada apa denganmu? Dari tadi aku hanya melihatmu melamun saja dan tidak mengerjakannya."
Julia tidak menjawab dan malah menggelengkan kepalanya. Terlihat sangat jelas bahwa wanita itu tengah banyak pikiran. Tapi Alaska sama sekali tidak bisa mengerti perempuan tersebut jika ia tidak mengatakan masalahnya yang sebenarnya.
"Ceritakan lah, seperti biasa aku pasti akan mendengarkan mu." Julia pun menghilang napas berat.
Ia belum tahu apakah menceritakan pertengkarannya kemarin dengan Julian atau tidak kepada laki-laki tersebut. Takutnya Alaska akan berpihak kepada kakaknya. Mengingat kadang-kadang Alaska tidak bisa sejalan dengan pikirannya.
"Tidak apa-apa. Aku belum bisa menceritakannya sekarang, tapi ini bukan masalah yang berat kok." Kenapa Julia tidak mempercayainya. Jika bukan masalah berat Julia tidak akan sesetres ini.
"Baiklah jika kau tidak ingin mengatakannya kepadaku. Aku harap suatu hari nanti kau akan menceritakannya sendiri," ucap Alaska dan lalu kemudian hendak pergi ke ruangannya.
Julia pun menatap ke arah pria itu dan kemudian menghentikannya.
"Sebentar Alaska, ada yang ingin aku katakan." Kemudian pria itu pun membalikan tubuhnya dan mengangkat satu alisnya.
"Ada apa lagi?"
"Kau bisa membantuku memijatkan punggungku tidak? Sakit sekali."
"Oh baiklah," ucap pria itu pasrah dan lalu kemudian menghampiri Julia.
Lalu ia pun memijat punggung wanita itu dengan halus hingga membuat Julia terbuai.
"Enak sekali pijatanmu, tubuhku rasanya kembali hidup," ucap Julia yang tidak sadar dan memejamkan matanya sembari menikmati pijatan yang diberikan oleh Alaska di punggungnya. "Ternyata semuanya kau bisa, bahkan sampai meminjat tubuh pun kau bisa. Alaska aku benar-benar iri denganmu," ucap Julia kepada pria itu.
Alaska terkekeh dan lalu kemudian menyentil kening Julia. Julia yang lagi enak-enaknya menikmati pijatan tersebut terkejut dengan Alaska menyentil keningnya yang tiba-tiba itu.
"Kenapa kau menyentil keningku? Sakit sekali," keluh wanita itu.
"Kau yang terlalu berlebihan."
"Memang pantang laki-laki ini dipuji. Pasti banyak saja kelakuannya setelah dipuji. Kau semakin menyebalkan Alaska."
"Apakah itu sebuah pujian untukku?"
"Matamu itu pujian!!"
____
Julian yang sedang mengerjakan beberapa tugasnya tiba-tiba dikejutkan dengan suara ketukan pintu di luar. Saking penasarannya pria tersebut pun keluar dari dalam kamarnya untuk memastikan jika adiknya lah yang telah pulang.
Tapi oh ternyata bukan adiknya yang pulang melainkan orang tuanya, ayah dan ibunya lah yang datang.
"Julian di mana adikmu?" tanya Christy kepada anaknya tersebut.
"Oh dia tadi pergi. Kebetulan Julia membuka usaha lukisan di Indonesia dan sudah memiliki kantor. Mungkin ia masih di kantor."
Ibunya tersebut pun terkejut mendengar penuturan dari Julian. Tapi ia tidak marah sama sekali namun jika membuka usaha sekarang mungkin akan mempengaruhi belajarnya Julia apalagi wanita itu sedang berkuliah di Harvard.
"Kenapa dia malah membuka kantor? Bukannya dia masih kuliah? Apakah dia mau mengabaikan kuliahnya? Anak ini benar-benar ya...," geramnya kepada anaknya tersebut, "harus seperti apa aku menasehatinya. Dia itu harus pulang ke Amerika Serikat dan berkuliah. Aku tidak masalah jika dirinya membuka usaha tersebut jika sudah menyelesaikan kuliahnya. Mungkin lebih bagus lagi seperti itu. Tapi yang namanya Julia keras kepalanya sama seperti ayahnya."
Christy pun melirik ke arah Beni yang hanya diam mendengar celotehannya dari istrinya dan sengaja menyinggung dirinya itu.
"Kau ini ya, lagi-lagi membela dia. Mau sampai kapan kau terus membela Julia. Wanita itu tidak akan pernah mengerti jika kau sekali saja tidak berpihak kepadanya. Lihatlah sekarang dia berlindung di belakangmu untuk menghindari ku. Apakah aku tidak sakit hati hah?" Sepertinya Christy sangat marah besar.
Bahkan Beni sendiri pun tidak bisa menenangkan istrinya. Ia pun memandang sebentar ke arah anaknya tersebut lalu kemudian menghela napas panjang dan menghampiri Christy.
"Orang tua itu selalu saja bertengkar. Padahal mereka selalu bersama setiap hari," kesal Julian kepada kedua orang tuanya tersebut.
Julian pun masuk ke dalam kamarnya akan tetapi langkahnya langsung terhenti saat mendengar suara pintu yang dibuka. Ia pun melirik ke arah pintu tersebut dan benar saja yang datang adalah Julia.
"Kau baru datang?"
"Apakah kau tidak bisa melihatku hah?"
"Mama dan Papa sudah pulang. Bicaralah dengan dia jika kau ingin pindah ke Indonesia. Kita lihat apakah kau berhasil melakukannya," tantang Julian dan lalu kemudian pergi ke dalam kamarnya.
Julia terdiam seribu bahasa dan ia tidak bisa berkutik. Orang tuanya sudah datang apakah itu artinya ia tidak memiliki ruang bebas untuk diam-diam pergi bersama Alaska.
Gawat jika orang tuanya akan mengetahuinya. Bahkan nyali Julia pun seketika menciut saat ia mencoba berpikir untuk mengatakan kepada mamanya bahwa ia akan kuliah di Indonesia saja.
"Apakah orang itu akan menyetujuinya ya? Sudah pasti Mama dan Papa tidak akan pernah menyetujui hubunganku dengan Alaska apalagi ia nanti tahu bahwa aku pindah ke Indonesia hanya karena kekasih ku. Pasti dia semakin tidak ingin membiarkanku."
Julia bener-bener di ujung tanduk. Wanita itu menggigit bibirnya kebingungan sendiri. Ia ketakutan harus melakukan apa jika mamanya sudah mengetahui bahwa ia telah mendapatkan ingatannya dan kembali bersama Alaska.
"Tidak, tidak. Mama dan Papa tidak boleh mengetahui bahwa aku telah bersama Alaska kembali. Aku akan menjaga rahasia ini sendiri. Pasti bisa. Jangan sampai aku ketahuan." Julia mencoba untuk menenangkan dirinya dan lalu kemudian pergi ke dalam kamarnya.
Saat di dalam kamar, ia terkejut melihat ibunya yang sedang melihat-lihat kamarnya itu. Julia yang semula hendak masuk ke dalam kamarnya langsung mengurungkan niatnya karena ketakutan melihat mamanya.
"Ya ampun sampai masuk ke dalam kamarku lagi," keluh Julia. Ibunya juga melihat beberapa karya-karyanya.
Julia tidak bisa bersembunyi seperti ini terus-menerus. Ia harus menemui wanita tersebut dan mengatakannya yang sebenarnya.
"Mama? Kau sudah pulang Mama?"
"Hm? Kau baru datang?"
Julia menganggukkan kepalanya takut-takut. Apakah mamanya akan memarahinya? Bodoh sekali ia berpikir seperti itu, sudah jelas ia akan kena semprot oleh ibunya.
"Aku dengar dari Julian kau telah membuka kantor untuk karyamu ini?"
Julia membulatkan matanya. Dalam hati ia membenci kakaknya tersebut dan memaki-makinya.
"Julian, laki-laki itu awas aja," gumannya dalam hati.
"Apa yang kau katakan?"
Julia terkejut saat Ibunya mengetahui bahwa ia baru saja mendumel.
"Hah? Tidak apa-apa Mama. Oh ya apa yang dikatakan oleh Julian itu benar. Aku mencoba untuk membuka usahaku sendiri dan tidak merepotkan mu."
Ibunya tersebut memandang ke arahnya dengan tatapan serius. Bisa-bisanya anak perempuannya ini tidak memikirkan konsekuensi kedepannya.
"Lalu bagaimana dengan kuliahmu di Harvard? Hanya beberapa minggu saja di sini kau sampai membuka kantor. Kau harus berkuliah Julia, Selain itu kau tidak sempat untuk melukis maupun mengurus kantor karena kau akan terus-menerus mengerjakan tugas kuliah mu. Mama tidak mau tugas kuliahmu terbengkalai kan."
Julia memejamkan matanya dan berusaha menetralkan perasaannya.
"Jangan takut, jangan takut," bisiknya dalam hati kepada dirinya sendiri yang dari tadi terus menegang.
"Ma..."
"Sudahlah Julia kepalaku pening memikirkan mu ini."
Mamanya pun pergi dari dalam kamarnya dan barulah dia bisa bernapas lega. Namun ia tetap saja masih terbebani oleh pikirannya tersebut.
________
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA