Alaska

Alaska
Part 24



Orang tua Alaska yang sudah mengetahui apa yang telah diperbuat anaknya sangat syok mendengar kabar itu. Bahkan Ibu Alaska sampai kambuh dan harus dibawa ke rumah sakit. Alaska benar-benar frustasi dengan keadaannya sekarang ini. Laki-laki tersebut tidak tahu harus melakukan apa dan semua terjadi karena dirinya. Andai ia lebih berhati-hati lagi, tapi semua itu hanyalah harapan semua yang tidak akan pernah terwujud.


Alaska pergi ke ruangan tempat ibunya dirawat. Ia melihat ibunya yang sudah sadar dan bahkan wanita itu tidak ingin melihat ke arah dirinya. Sementara itu ketika ayahnya menatapnya, laki-laki tersebut langsung menampar wajah Alaska.


"Kenapa kau bersekolah tetapi masih menjadi orang yang bodoh? Tidak bisakah kau berhati-hati sedikit saja dan jangan terlalu semberono. Kau lihat akibat dari perbuatanmu itu, ibumu sekarang harus sakit-sakitan. Dan bagaimana caranya kita untuk bertanggung jawab?"


Alaska menundukkan kepalanya dan dia belum mengatakan kepada Ayahnya bahwa ia akan mendonorkan ginjalnya malam ini juga. Karena Julia harus ditangani segera sebelum terlambat. Ia tak ingin terjadi sesuatu kepada wanita itu. Apalagi sempat terjadi sesuatu maka itu akan menyakiti hatinya.


"Aku akan bertanggung jawab. Aku akan mendonorkan ginjalku untuk Julia. Malam ini juga. Ini semua salahku dan aku merasa apa yang aku lakukan ini adalah yang setimpal."


Sang ayah terkejut mendengar penuturan anaknya. Jika ginjal Alaska didonorkan itu artinya ia hanya memiliki satu ginjal. Maka dari itu, Alaska pasti akan sakit-sakitan. Bagaimanapun juga Alaska adalah satu-satunya harapan keluarga mereka. Tapi sepertinya tak akan lagi ada harapan itu, menahan Alaksa juga tidak bisa karena Alaska memang harus bertanggung jawab.


"Alaska apa yang kau katakan. Kau adalah satu-satunya orang yang bisa membawa kami ke jalan yang lebih baik. Tapi kamu hancurkan semua harapan kami," ucap ayahnya dengan tangisan yang tak ada hentinya. Ia pira namun menyangkut keluarganya dirinya tak sanggup menahan rasa sedihnya.


"Lagi pula aku percuma hidup dengan penuh rasa bersalah. Aku juga akan dipenjara, dan lebih baik aku mendonorkan ginjalku sebab di dalam penjara aku juga tak melakukan apapun."


Ayah dan ibunya menatap ke arah Alaska bersamaan. Apakah tidak ada jalan lain untuk menyelamatkan Alaska dari dekaman penjara.


"Nak, apa yang kau katakan? Kau akan dipenjara? Lantas bagaimana dengan nasib kita?"


Ibunya hendak bangun dari ranjang rumah sakit dan Alaska yang melihat ibunya dengan sangat panik menghampirinya.


Tiba-tiba hal tak terduga ibunya menamparnya dengan sangat kencang hingga terdengar nyaring benturan antara kulit dengan kulit.


"Alaska. Kau anak yang durhaka. Lihat semua ini terjadi karenamu yang tidak bisa menjaga dirimu sendiri. Kau tidak bisa memikirkan bagaimana perasaan ibu mu."


Lagi pula ini semua terjadi bukan kemauan Alaska. Ini murni karena kecelakaan tapi tidak ada yang bisa mengerti dirinya dan bahkan Alaska sendiri pun menyalahkan dirinya sendiri apalagi orang lain.


"Benar aku sangat brengsek. Aku pantas mendapatkan tamparan mu Ma. Mama, aku akan melakukan operasi dan kau harus tetap kuat. Setelah ini mungkin aku tak akan bisa menemui lagi."


Alaska pun pergi ke ruangan operasi dan meninggalkan orang tuanya berdua di dalam ruangan tersebut. Mereka jujur saja tidak ikhlas melihat anaknya akan diambil ginjalnya. Itu artinya Alaska tidak menjadi orang yang sempurna lagi.


Alaska di sepanjang koridor rumah sakit meneteskan air mata ia kembali mengingat ke dalam kenangan indahnya bersama Julia. Kenangan itu tidak bisa dihapuskan begitu saja.


"Tenanglah cantik. Kau pasti akan selamat dan aku akan berusaha agar kau bisa melihat dunia sepuas mu dan sesuai dengan cita-citamu. Aku tak akan membiarkan terjadi sesuatu kepada mu."


________


Julia adalah segalanya dan ia tak ingin mengecewakan wanita itu. Ia harus hidup dan meraih semua keinginan yang pernah diceritakannya dulu kepada Alaska.


Saat ini Alaksa tengah dirawat sebelum akhirnya ia harus disidang karena telah melakukan tindakan ceroboh yang bisa membuatnya dipenjara. Selain itu supir yang menabrak lari pun juga akan disidang di pengadilan atas perbuatannya yang melakukan tabrak lari tersebut.


Julian sengaja mendatangi Alaksa yang tengah dirawat. Alaska melemparkan senyumnya kepada Julian namun sama sekali tidak dibalas oleh laki-laki itu. Semenjak kejadian tersebut Julian berubah menjadi pria yang sangat dingin dan bahkan tidak mudah untuk diajak berbicara. Alaska benar-benar merasa sangat bersalah bahkan Julian yang terkadang merupakan pria yang ceria berubah menjadi seperti ini.


"Setelah ini kau harus dipenjara. Setelah kau dikeluarkan dari penjara aku pergilah dari kehidupan kami. Aku juga akan membawa adikku jauh dari sini. Mungkin kau dipenjara tidak akan lama maka kau harus bersyukur."


Seperti kata-kata itu adalah sebuah kalimat perpisahan yang terakhir kalinya diucapkan oleh Julian sebelum ia pergi begitu saja meninggalkan ruangan pria itu.


Waktu terus berjalan Alaska juga terus disidang oleh pengadilan hingga beberapa kali dan diputuskan bahwa ia telah bersalah karena akibat kecerobohannya. Ia diputuskan hakim untuk dipenjara selama 3 tahun.


Hukuman tersebut cukup ringan dan Alaska bisa mendapatkan masa depannya setelah ia keluar dari penjara. Hanya saja realita setelah keluar dari penjara akan lebih keras. Apalagi tatapan orang kepada mantan narapidana akan dipandang sebelah mata. Mereka tidak lagi menjadi orang yang sempurna namun telah terdoktrin di pikiran Masyarakat mereka bahwa mereka adalah orang yang jahat.


Saat ini Alaska tengah diborgol dan dibawa ke penjara yaitu tempatnya yang akan ia tinggal di beberapa tahun ini. Pria tersebut menatap jeruji besi yang akan mengurung tubuhnya dengan beberapa tahanan lain.


Laki-laki tersebut menundukkan kepalanya dan ia akan bergabung dengan orang yang benar-benar jahat. Itu cukup mengerikan apalagi melihat badan gempal mereka yang terlihat sangar. Mampukah ia bertahan di dalam penjara tersebut?


Alaska menarik napas panjang lagi pula ini adalah konsekuensi dari perbuatannya.


Orang-orang di dalam penjara itu menyambutnya dengan ramah. Alaska menatap ke arah luar penjara yang mana para petugas kepolisian kembali ke tempatnya. Kebetulan sekali ketika ke dalam penjara ia telah membawa foto Julia sebagai penyemangat hidupnya saat melewati hari-hari di dalam penjara.


Orang yang ada di dalam penjara itu menatap ke arah Alaksa ia melihat dari tatapan itu terdapat pandangan tajam dan itu sangat mengerikan.


"Apa yang telah kau lakukan? Kenapa kau bisa dipenjara? Apalagi kau ni anak muda."


Alaska tersenyum hambar dan ia menatap ke arah para lelaki sangar tersebut dengan pandangan merasa sakit hati kepada dirinya sendiri.


"Aku telah mengakibatkan pacarku kecelakaan."


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.