Alaska

Alaska
Part 23



Alaska dan Julian dengan cepat membawa tubuh Julia yang sudah sangat parah tersebut ke rumah sakit. Jantung mereka saling beradu dan hanya keajaiban Tuhan yang mampu menyelamatkan mereka. Alaska tidak bisa fokus dan otaknya terus memutar kembali memori saat ia melihat tubuh kecil Julia ditabrak oleh mobil itu demi menyelamatkannya.


Alaska seperti tengah membunuh Julia. Hal itulah yang terus membuat dirinya kepikiran dan tidak bisa fokus untuk membawa Julia ke rumah sakit. Apalagi matanya melihat dengan jelas bagaimana keadaan Julia saat ini yang sangat mengerikan dan bahkan ia tak sanggup untuk menatap yang kedua kalinya.


Dan semua itu adalah karenanya. Tangan Alaska bergetar begitu pula dengan Julian yang tak bisa menahan tangis tapi tak bisa saat melihat saudaranya kembali dengan tubuh dan kondisi yang sangat berbeda dari ketika mereka masih di taman. Ada perasaan sesal dan juga sangat marah kepada Alaska yang terlalu ceroboh hingga menyebabkan nyawa Julia menjadi taruhannya.


Julian melirik ke arah Alaska yang hanya termenung dengan tubuh penuh darah serta tangan yang bergetar. Tampaknya pria itu juga tengah merenungi kesalahannya.


"Alaska, aku tahu ini bukan saatnya untuk aku memarahi mu. Tapi intinya jika terjadi sesuatu kepadanya aku tidak akan pernah memaafkan mu. Kau terlalu ceroboh dan tidak bisa berhati-hati hingga menyebabkan nyawa kembaranku seperti ini. Jangan berbicara lagi denganku aku tidak ingin melihat wajahmu." Ucapan itu sejatinya sangat menyakitkan tapi karena ini memang salahnya Alaska akan menerima kalimat tersebut walau menyusahkan di dadanya.


Lagi pula memang dirinya yang salah dan tidak bisa melindungi Julia. Padahal mereka baru saja membangun hubungan yang sangat romantis namun berakhir dengan sangat tragis. Bahkan hubungan tersebut pun tak sempat dijalani selama satu hari. Semuanya sirna hanya dengan beberapa detik saja.


Alaska meneteskan air matanya dan menatap ke arah luar jendela mobil dan memastikan jika mereka sudah dekat dengan rumah sakit. Laki-laki itu mengepalkan tangannya dan lalu kemudian menarik napas cukup banyak dan menghembuskannya secara perlahan.


Mobil pun berhenti dan tubuh Julia segera dinaikkan ke atas brankar dan didorong menuju ke ruangan unit gawat darurat untuk dilakukan penanganan secepatnya.


Alaska menatap dari luar ruangan di mana tempat Julia dirawat. Ia hanya bisa berdiri di depan itu dan tak bisa melihat Julia ke dalam. Ini semua salahnya. Apa yang terjadi di sini karenanya yang sangat ceroboh dan ia yang tak bisa menyelamatkan Julia hingga membahayakan nyawa wanita itu.


"Aku pikir dengan merestui kalian kau bisa menjaganya. Tapi nyatanya kaulah yang telah membuat adikku seperti ini. Kau pikir aku akan memaafkanmu dengan mudah? Sama sekali tidak. Bahkan tidak ada niat satupun aku ingin menyelamatkan mu dari masalah ini. Kau memang benar-benar brengsek. Aku akan menjebloskan kamu ke penjara." Julian sudah kehilangan kendali dan pikirannya juga tidak jernih.


Ucapan tersebut bak sebagai petir yang menyambar-nyambar ke tubuh Alaska. Ia mau mengingat kembali memori bahwa dirinya baru saja menyelesaikan ujian akhir dan sebentar lagi ia akan lulus. Alaska juga telah menyusun rencana untuk berkuliah di tempat yang paling ia sukai dan dirinya telah mendaftar di universitas tersebut. Namun dalam sekejap akan hilang begitu saja.


"Maafkan aku," cicit Alaska tak berdaya. Dari tadi pria itu tidak ada hentinya mengeluarkan tangisan yang tidak ada artinya tersebut. Semua hanya tinggal penyesalan dan penyesalan tersebut juga tak bisa menolong dirinya dari semua ancaman atas perbuatan yang telah ia lakukan.


Alaska melirik sebentar ke arah ruangan Julia. Tangannya tidak berhenti terkepal bahkan kuku jarinya sampai melukai telapak tangannya. Pria itu jujur saja tidak sanggup untuk meninggalkan Julia. Bagaimana mungkin seorang yang sangat disayanginya dalam keadaan berbahaya tetapi ia malah meninggalkannya begitu saja. Tentu saja hal tersebut sangatlah brengsek.


"Maafkan aku Julia."


Kemudian keputusan Alaska sudah mantap dan ia meninggalkan ruangan tersebut. Setidaknya Ia hanya meninggalkan ruangan itu dan tidak meninggalkan rumah sakit sebelum ia mendapatkan kabar bahwa Julia baik-baik saja. Hatinya benar-benar diremas apalagi semua itu karenanya. Alaska pun menuju ke toilet dan membersihkan tangannya yang bekas dengan darah-darah Julia.


Rasa trauma yang sangat mendalam dan itu cukup menyakitkan.


__________


"Bagaimana kabarnya? Apakah dia baik-baik saja? Apa yang sebenarnya terjadi hingga Julia bisa kecelakaan seperti ini. Ini pasti karena bukan Julian yang tidak bisa menjaganya. Kamu benar-benar keterlaluan hingga melukai adikmu seperti ini," marah ibunya sembari mencubiti tubuh Julian.


Julian membiarkan saja tubuhnya remuk akibat ibunya tersebut. Ia bahkan tak peduli sama sekali yang penting ia bisa mendengar kabar baik dari Julia. Akan tetapi air mata Julian tidak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa ia sangat kecewa kepada dirinya. Namun ia lebih sangat kecewa kepada Alaska.


"Mama, berhenti kau bersikap seperti ini. Percuma saja kau menyalahkan ku. Aku juga tidak ingin kejadian seperti ini terjadi kepada Julia. Tapi Tuhan berkehendak lain, Mama. Lagi pula ini bukan salahku tapi karena Alaska yang terlalu semberono hingga Julia ingin menyelamatkannya dan berakhir dia yang tertabrak. Kenapa tidak pria itu saja yang tertabrak. Kenapa harus adikku?"


Wajah ibunya menggelap. Amarah yang selama ini ditahan olehnya pun meluap begitu saja. Ini alasannya untuk melindungi Julia dari orang tersebut. Dan semua berakhir seperti ini. Perempuan tersebut mengepalkan tangannya dan kemudian menetap ke suaminya.


"Jangan biarkan dia lolos. Dia harus mempertanggungjawabkan semua yang telah diperbuatnya. Aku tidak rela dia hidup begitu saja. Dia juga harus menjalani penderitaan yang sama seperti anakku."


Tiba-tiba dokter keluar dan dengan penuh semangat wanita tersebut menghampiri dokter itu dan bertanya mengenai kondisi anaknya.


"Bagaimana dengan anak saya Dok? Apakah dia selamat? Apa yang sebenarnya terjadi di dalam?" Ia berusaha untuk melihat ke dalam ruangan operasi tersebut.


"Untuk saat ini detak jantung anak Ibu sangat lemah. Dan juga dia sudah kehabisan banyak darah jadi tidak memiliki kemungkinan harapan hidup. Walaupun itu sedikit mungkin hanya bertahan beberapa detik saja. Namun kondisi pasien tetap kami usahakan. Apalagi pasien mengalami kerusakan ginjal akibat luka yang sangat parah di pinggangnya membuat ginjalnya rusak."


Nafasnya tertahan mendengar semua itu. Apa yang harus ia lakukan? Ia belum siap kehilangan anaknya di usia anaknya itu yang masih muda.


Tanpa diketahui orang, Alaska yang diam-diam mendengarkan mengetahui semuanya dan ia pun sudah memutuskan sebuah rencana.


"Jadi anak Ibu tidak mungkin untuk diselamatkan karena mendapatkan pendonor ginjal dalam waktu yang sangat cepat tidak mudah dilakukan."


Alaska pun keluar dari persembunyiannya.


"Saya siap untuk mendonorkannya." Semua mata memandang ke arah orang tersebut, ya Alaska.


________


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA