
Julian termenung di dalam kamarnya. Ia khawatir jika ibunya mengetahui bahwa Julia mengingat semuanya dan bahkan dilihat sekarang mereka telah berbaikan dengan pelakunya, ada peningkatan dari sebelumnya. Mamanya tentu saja tidak akan membiarkan semua itu berjalan dengan mudah. Pasti ia akan mempersulit hubungan Julia dan juga Alaska dengan menggunakan kekuasaannya.
Itu yang paling dikhawatirkannya. Sebab akan melukai dua orang sekaligus dan merupakan keduanya orang terdekatnya. Walaupun ia membenci Alaska, tapi tidak menutup kemungkinan juga ia masih mengkhawatirkan laki-laki itu.
Apalagi jika terjadi sesuatu kepada Alaska maka akan berdampak buruk kepada adiknya. Julia tidak akan membiarkan Alaska hidup dengan sulit, ia akan melakukan apapun demi cintanya. Bisa dikatakan Julia saat ini tengah dimabuk cinta. Memang sangat sukar untuk menyadarkan orang yang tengah kasmaran. Ia saja sampai kewalahan menghadapi Julia yang keras kepala.
Inilah yang terus-terusan mengganggu pikiran Julian dari tadi. Ia hendak sekali menemui Julia dan menjelaskan semuanya. Julia seolah-olah tak mengerti dengan keadaan. Apalagi ia mengatakan akan pindah ke universitas Gadjah Mada. Apakah segampang itu? Bahkan orang tuanya mati-matian untuk memasukkannya ke Harvard. Tapi Julia hanya karena seorang lelaki ia rela untuk berkuliah di Indonesia. Pasti ibunya tak akan pernah memaafkannya.
Julian tidak habis pikir dengan anak itu. Bisa dikatakan ia sangat kesal dengan Alaska. Tapi mau bagaimana lagi jika keduanya memang sedang jatuh cinta.
"Mereka tidak bisa berpikir sama sekali bahwa cinta tidak penting untuk masa depan. Kenapa mereka tidak mau mendengarkan ku sama sekali? Padahal sebentar saja."
Pokoknya dia harus menemui Alaska dan menjelaskan kepada laki-laki itu akan menjauhi Julia. Lagi pula ini juga demi kebaikan Alaska sendiri agar tidak diganggu oleh ibunya. Ibunya pasti tidak akan membiarkan Alaska dengan mudah.
Apalagi dia tahu bahwa Alaska sudah keluar penjara. Mungkin ia masih belum puas dengan apa yang terjadi pada Alaska.
Julian pun meraih ponselnya untuk mencari nomor Alaska. Tapi sayangnya ia telah berganti ponsel dan tidak memiliki nomor pria itu lagi. Sepertinya memang ia harus menemui pria itu ke rumahnya malam ini juga.
Julian hendak keluar dari dalam kamar namun ia terkejut melihat adiknya berada di depan pintu kamarnya. Jika adiknya mengetahui ia akan pergi ke rumah Julian pasti ia akan menahannya.
"Ada apa Julia kau berdiri di depan pintu ku?"
"Ayolah kakak. Bantu aku untuk berkuliah di Indonesia. Aku tidak mungkin pisah dengan Alaska. Kau tidak pernah merasakan saat sedang jatuh cinta, kan? Saat kau merasakannya kau pasti akan tahu bagaimana rasanya. Aku benar-benar sungguh tidak rela."
Julian pun terdiam mendengar permohonan yang dilontarkan oleh adiknya. Tidak mungkin ia menuruti adiknya begitu saja, kan? Apalagi permohonan itu sangat konyol.
"Kau mengatakan apa Julia? Kau ingin menantang ayah dan ibu? Kau pikir semudah itu? Aku tidak akan pernah membiarkanmu. Apalagi kau sudah mau memasuki semester ketiga, tapi masih saja banyak tingkah. Masuk ke Harvard itu bukan hal yang mudah."
Julian terdiam setelah menasehati adiknya. Terlihat bahwa Julia sedang berkaca-kaca dan lalu meninggalkan dirinya begitu saja. Hati Julian sangat remuk melihat hal tersebut.
"Nanti semoga saja kau akan mengerti."
_________
Julian benar-benar memutuskan untuk bertemu dengan Alaska malam ini juga. Sebab beberapa minggu lagi ia akan kembali ke Amerika Serikat bersama adiknya dan tentu ia harus membawa adiknya pulang dan tidak membiarkan Julia tetap tinggal di Indonesia.
Julian mengetuk pintu rumah Alaska beberapa kali hingga terdengar suara Lela yang menyambutnya.
"Sebentar."
"Setelah sekian lama mau apa kau kemari? Bukan aku mengusir mu Julian, tapi aku tahu hubungan ini harusnya sampai di sini saja. Aku takutnya akan membahayakan Alaska."
Julian berwajah tegas itu berhenti menghirup udara beberapa detik. Setelahnya ia menatap ke arah Lela dengan sangat serius.
"Justru kedatanganku ke sini memang ingin melindungi Alaska dari bahaya. Bawalah Alaska untuk menemui ku, aku ingin berbicara kepadanya. Jika dia terlambat ini akan buruk."
Lela yang tidak mengerti pun hanya mematuhi perintah Julian. Ia masuk ke dalam kamar anaknya tersebut dan membuka pintu kamar Alaska.
Rupanya Alaska belum tidur dan sedang termenung di tempat tidurnya sembari melukis.
"Alaska."
Alaska pun menoleh ke arah pintu kamarnya dan mengerutkan keningnya melihat ibunya yang tiba-tiba datang menemuinya.
"Malam-malam seperti ini, kenapa Mama masih belum tidur?"
"Alaska, itu di luar."
Alaska pun langsung panik takut jika ada perampok ataupun maling di luar rumahnya. Ia langsung bersiaga.
"Ada apa Ma? Siapa di luar"
"Di luar ada Julian yang ingin menemui mu."
Alaska langsung terkejut ketika mendengar nama itu. Julian? Mau apa pria itu kemari? Malam-malam seperti ini pula.
Alaska pun menganggukkan kepalanya dan menyuruh ibunya tidur lebih dahulu dan ia menemui Julian.
Alaska keluar dari dalam rumahnya dan melihat Julian yang tengah menunggu di teras rumah reot-nya.
Setelah sekian lama tidak berinteraksi tatapan mereka saling menghunus tajam.
_______
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.