
Hari ini mereka akan belanja di mall membeli beberapa makanan dan juga minuman. Selain itu Alaska juga ingin menebus kesalahannya kemarin. Bertepatan hari ini minggu otomatis sekolah mereka yang dulu sedang libur. Rencana mereka Sabtu kemarin ingin ke situ tapi sangat disayangkan Alaska mengingkari janjinya dan malah tidak datang.
Niatnya Julia ingin mengingat-ingat kembali tempat itu dan juga beberapa kenangannya bersama dengan Alaska.
Sekarang mereka sudah berada di sekolah yang dulu. Mereka berdua pun meninjau sekolahan tersebut sembari menceritakan masa-masa SMA mereka yang sangat konyol.
Julia terdiam dan menatap ke arah taman yang kosong tidak seperti saat dulu mereka sekolah. Mereka bertiga, Alaska, Julia, dan Julian suka sekali untuk berdebat di taman itu sembari memaparkan hal-hal yang lucu. Kenangan yang indah, sayang sekali untuk dihapus.
Julia meletakkan kain putih di atas rumput taman yang bersih tersebut. Lalu kemudian ia juga meletakkan beberapa makanan dan juga minuman di atas kain putih itu. Sebut saja mereka sedang melakukan piknik.
"Tumben sekali yah satpam itu membiarkan kita," ujar Alaska seraya terkekeh.
"Tentu saja satpam itu mengenal kita, dan membiarkan kita untuk masuk. Katanya dia juga heran melihatku yang sudah baik-baik saja. Satpam iu pasti merindukan aku," canda Julia sembari tertawa.
Julia pun menarik napas panjang dan lalu menghembuskannya secara perlahan. Oh Tuhan, inikah yang namanya rasa cinta yang sangat mendalam? Kenapa sangat bahagia seperti ini.
"Nanti jika kita telah menikah kita juga harus datang ke tempat ini lagi." Alaska terdiam dan melirik ke arah wanita tersebut yang sangat bersemangat untuk menceritakannya. Ia tak tahu harus melakukan apa untuk Julia di masa depan. Ia masih bingung, ini saja ia diam-diam menemui Julia di belakang Julian sebelum akhirnya mereka akan benar-benar berpisah nanti.
"Pasti."
Julia pun mengacungkan jari kelingkingnya untuk membuat janji dengan laki-laki tersebut. Alaska menganggukan kepalanya dan lantas menautkan jari kelingkingnya di jari kelingking Julia. Mereka pun telah resmi membuat janji.
"Awas saja jika di antara kita akan mengingkarinya. Kita harus menikah dan memiliki anak-anak yang lucu." Sungguh sakit hati Alaska mendengarnya semua harapan yang diinginkan oleh Julia. Tapi semuanya tidak bisa dipenuhi olehnya.
"Kalau panjang umur. Kalau salah satu diantara kita tidak panjang umur bagaimana?" Seketika itu juga wajah Julia langsung berubah.
Ia mendorong tubuh Alaska yang bisa-bisanya mengatakan hal tersebut, merusak momen saja. Tampak Julia sangat tidak senang mendengarnya.
"Jangan sampailah, kau ini bisa-bisanya. mengatakan seperti itu di saat sedang menikmati waktu kita. Jangan menakut-nakuti. Pokoknya kita harus bersama bagaimanapun caranya." Alaska menganggukan kepalanya.
Ya mereka akan melakukan apapun untuk bersama. Maka dari itu Alaska pun memutuskan untuk mendaftar di Harvard dan mencari beasiswa. Bagaimanapun caranya ia harus sukses juga. Dan bisa membanggakan negara dan orang tuanya. Ia sengaja melakukan hal nekat tersebut selain demi Julia demi juga harga dirinya.
Yang penting ia mencoba untuk mendaftar dahulu lolos tidak lolos itu urusan belakangan. Yang terpenting Ia terus berjuang untuk bisa masuk ke universitas Harvard.
"Alaska, kenapa kau tiba-tiba termenung?"
"Ah tidak. Aku hanya memikirkan sesuatu yang tidak penting saja tadi. Kapan kita akan menikmati makanan ini?"
Julia pun tersenyum lebar. Wanita itu merapikan rambutnya yang diterpa angin dan lalu mengeluarkan ponselnya.
"Sebentar, kita foto dulu makanannya. Nggak afdol kalau tidak difoto lebih dulu. Baru diupload ke sosial media."
Setelah memfoto-foto makanan tersebut mereka pun berfoto dengan beberapa gaya. Kemudian Julia melihat hasil-hasilnya bersama Alaska. Julia lantas langsung menguploadnya ke sosial media.
"Eh bentar, jangan lupa privasi Julian dan juga teman-temannya."
"Kenapa?"
"Pasti dia tidak akan membiarkanmu akan bertemu denganku."
Setelah dipikir-pikir Alaska ada benarnya juga.
________
Julia menarik napas panjang. Wanita itu menatap ke arah Julian yang baru saja menunggunya di depan pintu.
"Ke mana saja kau? Kenapa kau tidak mengatakan kepadaku akan pergi?"
"Ck, sudahlah. Bukan aku tidak ingin memberitahu mu tapi aku punya alasan lain. Aku pergi ke mall bersama teman-temanku waktu SMP," bohongnya.
Tapi yang lebih bodoh lagi adalah Julian yang percaya begitu saja. Julian menghela napas panjang dan lalu menganggukkan kepalanya.
Julia cepat-cepat masuk ke dalam kamarnya sebelum ia diinterogasi lebih dalam lagi oleh Julian. Gawat Jika Julian mengetahuinya.
Setelah sampai di dalam kamar akhirnya Julia bisa bernapas dengan laga karena berhasil melewati kakaknya. Ia pun meraih ponselnya dan kemudian menghubungi Alaska. Ia dan Alaska akan diam-diam saling berhubungan di belakang Julian. Mereka telah membuat janji.
Julia pun memvideo call Alaska. Dan tidak lama panggilan video call-nya pun diterima oleh laki-laki tersebut.
Kemudian ia menampakan wajahnya dan melambaikan tangannya di depan Alaska.
"Gimana? Kamu sudah sampai rumah belum? Aku baru aja sampai rumah. Eh kebetulan aku datang ke Indonesia juga mau memamerkan beberapa karya aku. Rencana Aku mau menambahkan beberapa karya mu dan satu karya ku nanti di showroom. Perhatikan aku gambar ya kalau ada yang salah bilang. Bagaimana mau tidak?"
Alaska yang di seberang sana seketika menjadi semangat. Kebetulan ini adalah hobinya.
"Kau benar-benar mau memamerkan karya aku juga?"
"Tentu, siapa tahu ada yang mau melalang karyamu dan kau bisa membangkitkan ekonomi keluargamu. Lagi pula kita perlu bekerja sama untuk pernikahan kita nanti."
Alaska yang mendengar penuturan dari Julia pun tersenyum. Terlihat jelas jika laki-laki tersebut tengah menahan salting yang luar biasa. Julia melihat betapa lucunya Alaska hanya tertawa.
"Kau benar-benar menggemaskan Alaska. Ingin sekali aku mencubit pipimu itu."
Kemudian mereka pun menggambar karya masing-masing melalui video call sembari bercerita hal-hal yang menyenangkan.
Dia merasa sangat bahagia ketika bersama pria itu dan tidak ada tangis sama sekalipun. Hari ini mereka telah lewati dengan penuh tawa yang luar biasa.
"Lihat hasil karyamu seperti apa?" Alaska pun menunjukkan hasil karya yang baru saja di gambarnya.
Julia langsung berdecak kagum dan menepuk tangannya.
"Wah bagus banget lukisanmu. Coba lihat lukisanku gimana bagus nggak?"
Alaska mencoba untuk melihat lukisan Julia dan beberapa detailnya lagi. Ia pun mengomentari lukisan Julia dan meminta wanita itu untuk menambahkan beberapa hal yang menurutnya kurang.
Julia sama sekali tidak tersinggung. Bahkan wanita itu dengan detail mendengarkan semua apa yang diperintahkan oleh Alaska. Alhasil karya miliknya semakin lebih bagus lagi terlihatnya. Ia berterima kasih kepada Alaska yang telah membantunya.
"Wah orang hebat mah beda ya. Ini bagus banget, berkat Alaska jadi seperti ini deh karyanya."
"Kau terlalu berlebihan."
Mereka pun tertawa bahagia bersamaan. Sebelum menutup telepon mereka pun menyempatkan diri untuk melakukan video call hingga Julia tertidur.
_______
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.