
Alaska menatap ke arah depan di mana semua orang tengah memandang ke arah dirinya dengan tatapan yang sangat tidak bersahabat. Seolah-olah ia adalah seorang buronan.
Julian pun langsung maju dan hendak ingin memukul Alaska. Akan tetapi pria itu hanya memandang tajam ke arah Julian seolah-olah ia berani untuk melawannya.
"Aku menemukan Julia yang hendak bunuh diri di jembatan. Jika kalian memiliki masalah maka berdiskusilah dengan baik sehingga tidak membuat gangguan psikis pada anak kalian." Mereka tidak selalu sama sekali bahwa dunia yang ingin bunuh diri adalah karena rencananya yang gagal dan harapannya yang musnah. Akan tetapi Alaska manipulasi merekalah yang menyebabkan Julia sampai seperti ini.
Alaska menyerahkan tubuh Julia yang Sudja tidak sadarkan diri itu kepada keluarganya. Mereka sendiri masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Alaska.
"Kenapa kau bisa bertemu dengan anak ku? Dia sama sekali tidak pernah mengingatmu lagi. Kenapa kau hadir tiba-tiba. Dan bahkan sekarang kau telah keluar dari penjara. Awas aja Jika dia sudah mengingat semuanya dan itu karena ia melihat dirimu."
Alaska menarik nafas panjang dan menatap ke arah Christy dengan sangat tajam. Ini tidak seperti Alaska yang biasanya dan selalu rendah hati. Akan tetapi pria yang kali ini sangat berbeda dengan dirinya sebelumnya.
"Apakah kau masih sempat memikirkan tentang itu di saat anakmu ingin bunuh diri? Kau pikir sempat aku berpikir seperti itu saat melihat orang yang hendak bunuh diri. Kau terlalu bodoh," ucap Alaska yang sangat menohok.
Alaska memandang ke arah Julian yang sepertinya sangat curiga dengannya. Ia tahu pria tersebut lah yang paling banyak tahu mengenai hubungannya, tapi dengan tatapan tajam yang ia hujam kepada pria itu semoga menyadarkannya bahwa Alaska sama sekali tidak main-main dengan tatapannya tersebut.
"Kalian semua tidak pernah berpikir bagaimana perasaan anak kalian. Lebih baik aku pulang sekarang dengan uruslah dia jangan sampai membuatnya terluka."
Kemudian Alaska pergi begitu saja meninggalkan orang-orang tersebut. Hanya Julian yang masih terdiam di tempatnya seraya berpikir bahwa ini bukan Alaska yang pernah dikenal olehnya.
Ya ini memang bukan seperti Alaska. Pasti ada yang telah disembunyikan oleh laki-laki tersebut. Tidak mungkin dia sampai senekat ini.
"Alaska, setelah apa yang kau lakukan kepada adikku jadi jangan harap kau mendapatkan maaf dariku. Aku pasti akan mencari tahu kebenarannya."
Julian memandang tajam ke arah kepergian Alaska tersebut. Ia pun mengepalkan tangannya. Setelah puas dengan hatinya yang menggebu-gebu, barulah pria itu masuk ke dalam rumahnya.
Julian langsing pergi ke kamar Julia untuk memastikan bahwa adiknya baik-baik saja.
__________
Julia sudah sadarkan diri dari tadi pagi. Hanya saja sampai sekarang ia tidak mau berbicara. Selain itu Julia juga sangat sensitif tidak mau disentuh oleh siapapun.
Bagi yang mengajaknya berbicara maka Julia akan mengamuk dan melakukan apa saja agar bisa melawan mereka.
Setelah itu barulah Julia menangis seperti orang yang sedang memukul beban yang sangat banyak.
Julian ya melihat adiknya seperti itu pun merasa sangat khawatir dan mencoba untuk mendekati Julia bertanya kepada wanita itu apa yang telah membuatnya sampai seperti ini. Benarkah ini hanya karena masalah orang tuanya yang tidak menyetujui untuk kuliah di Indonesia.
Jika seperti itu dari paada memperburuk keadaan lebih baik menyetujui Julia untuk kuliah di Indonesia.
Julian mencoba untuk mendekati Julia. Ia memandang ke arah wajah adiknya yang terlihat sangat kusam dengan pandangannya yang kosong.
"Dek, apa yang membuat mu sampai seperti ini? Apakah karena kau ingin kuliah di Indonesia? Baiklah, jika seperti itu maka aku akan berbicara dengan Mama dan mencoba untuk membujuknya agar dia bisa merestui kau untuk kuliah di Indonesia saja."
Akhirnya pun Julia menoleh ke arah kakaknya tersebut. Kemudian ia memandang panjang ke arah pria itu. Seolah-olah ia sangat marah mendengar Julian telah mengatakan kalimat tersebut dan memintanya agar tidak mengulanginya lagi.
"Apa yang baru saja kau katakan kepada ku? Tutup mulut mu jangan bilang seperti itu lagi karena kau sudah sangat telat dan aku tidak butuh bantuan dari mu. Kau juga tidak mau aku baru kuliah di Indonesia, kan? Tidak usah membujuk ku. Pergi dari sini aku akan berkuliah di Amerika dan tidak ingin berkuliah di Indonesia lagi!"
Julian yang mendengar ucapan Julia yang sangat bertolak belakang dengan keinginannya itu lantas sangat terkejut.
"Apakah ini karena Alaska? Apa yang pria itu lakukan."
Julia memandang ke arah Julian yang menjadi salah satu penyebab kenapa Alaska hendak memutuskan hubungan mereka.
"Tidak usah menyalahkan orang lain!! Pergi kau dari sini. Aku sama sekali tidak membutuhkan kehadiran kalian! Kalian semua bajingan!" Julia pun mendorong tubuh Julian hingga pria itu tak sempat untuk menahan keseimbangan tubuhnya.
Ia menangis kencang melihat apa yang telah dilakukan olehnya kepada kakaknya. Sejujurnya ia sangat menyesal tapi Julia tidak ingin mengatakannya.
Sedangkan Julian pun menuruti permintaan adiknya dan keluar dari kamar wanita itu. Mereka pun memutuskan untuk cepat-cepat membawa Julia ke Amerika dan mantrapinya.
"Bagaimana dengan Julia? Apakah dia mau diajak berbicara?"
"Ya barusan kami berbincang. Tapi dia sangat marah dan tidak ingin menjawab ku dan mendorong tubuh ku. Apakah sudah puas mendengarnya?"
Kemudian Julian pun pergi dengan perasaan kesal dan marah. Laki-laki tersebut menuju ke kamarnya dan menendang itu dengan sangat kencang.
Christy dan Beni mengusap dada mereka. Tak menyangka bahwa Julian akan sangat marah kepadanya.
"Ini salah mu Christy."
"Ini bukan salah ku dan aku sama sekali tak merasa bersalah. Karena apa yang telah aku lakukan itu demi kebaikan dia. Hanya saja dia yang tidak pernah mengerti dengan keinginan ku. Dia yang bodoh di saat semua orang ingin kuliah di Harvard tapi ia sama sekali tak ingin kuliah di sana padahal itu adalah impiannya dari kecil. Pasti ada yang salah dengan Julia."
Beni pun menghela napas panjang dan tak habis pikir dengan istrinya tersebut. Lihatlah keadaan sudah seperti ini namun wanita itu sama sekali tidak memikirkan bagaimana nasib anaknya.
"Apakah dia ingin Julia mati dahulu, baru dia bisa tenang? Dasar wanita itu. Apakah dia masih pantas menjadi seorang ibu." Beni memang sedikit lebih pengertian tapi tak jarang ia gelap mata kepada keluarganya dan memberikan larangan yang sangat keras.
Sedangkan di dalam sana Julia yang mendengar semua perkataan ibunya hanya tertawa sembari menangis. Tubuhnya yang disandarkan pada pintu bernapas merosot ke bawah dengan perasaan sakit luar biasa.
"Bahkan dia sama sekali tidak pernah merasa bersalah. Padahal jelas-jelas Alaska seperti ini adalah karenanya."
Julia tertawa gelak menertawakan nasibnya ini yang sangat tragis. Bahkan tidak ada orang yang bisa menyelamatkan dirinya dari gelapnya kehidupan.
_________
Alaska teridam di dalam kamar dan sama sekali tidak ingin membuka pintu. Ibunya bahkan sampai kebingungan ketika anaknya tidak berbicara sama sekali.
Pria itu hanya termenung di dalam kamar tersebut lalu melukis sembari menangis. Sebuah keputusan yang sangat tepat yang telah diambil olehnya, tapi sangat disayangkan harus mengorbankan perasannya yang suci tersebut.
Lagipula ini demi kebaikan Julia dan juga keluarganya. Sesuatu itu memang sangat membutuhkan pengorbanan dan ia harus mengorbankan hubungannya dari pada banyak memakan korban.
"Alaska! Nak makan Nak, kenapa kau sama sekali tidak ingin berbicara?" tanya ibunya yang merasa sangat khawatir pasalnya dari semalam Alaska sama sekali tidak keluar dari dalam kamar apa lagi untuk makan.
"Mama, makanlah. Aku tidak lapar. Jangan mengganggu ku sekarang karena aku sedang melukis."
Lela menghela napas panjang melihat anaknya yang akhir-akhir ini sangat berbeda dari anaknya yang ia kenal dahulu.
Apa yang menyebabkan anaknya sampai seperti ini dan tidak mau makan sama sekali. Padahal Alaska adalah harapan mereka satu-satunya dan mereka tidak ingin jika terjadi sesuatu kepada Alaska.
"Nak keluarkanlah sebentar. Kau tidak bisa seperti ini dan membuat khawatir banyak orang."
"Mama!" bentak Alaska tanpa sadar.
Pria itu mendengus kasar dan kemudian menjambak rambutnya dengan perasaan kesal. Sementara itu di luar sana Lela sangat terkejut mendengar bentakan dari Alaska yang sama sekali tidak pernah pria itu membentaknya.
Alaska pun sangat emosi dan kemudian mencoret hasil lukisannya yang setengah jadi tersebut menjadi lukisan abstrak.
"Sialan," maki Alaska kepada dirinya sendiri.
Ia merasa sudah sangat gagal dan kemudian naasnya tersengal-sengal hingga membuatnya susah untuk menetralisir perasaannya.
"Baiklah Mama pergi," ucap Lela dengan perasaan kecewa.
______
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.