Alaska

Alaska
Part 21



Julia tak bisa melunturkan senyumnya pada saat ia melihat Alaska kembali masuk ke sekolah. Wanita itu pun dengan penuh semangat kemudian menghampiri pria tersebut dan menarik kursinya duduk di samping Alaska. Alaska menaikkan satu alisnya namun wajahnya menunjukkan sebuah senyuman kegembiraan.


Julia juga turut membalas kembali senyum tersebut dan membuat Alaska yang tampak biasa saja di awal tiba-tiba berubah menjadi memerah. Wajah Julia sangat dekat dengannya bahkan dia merasakan degupan yang sangat kencang dari jantungnya. Alaska tidak habis pikir kenapa ia bisa memiliki perasaan tersebut. Pria itu berusaha untuk menjauhkan perasaannya itu akan tetapi ia tampaknya sudah sangat terlambat.


Julia yang memperhatikan wajah Alaska yang berbeda serta terdapat bercak berwarna merah mengerutkan keningnya. Wanita itu pun meletakkan tangannya ke kening Alaska dan hal itu membuat Alaska sangat terkejut dan sekaligus refleks mundur.


"Apa yang kau lakukan Julia? Kau tidak boleh bersikap seperti ini. Sudahlah, kita harus menjaga jarak." Kontan Julia membulatkan matanya dengan ucapan Alaska yang tiba-tiba berubah.


Julia tampak sangat murung setelah mendengar apa yang telah dikatakan oleh Alaska tadi. Apakah Alaska marah dengannya. Julia memandang ke arah pria itu dengan tatapan sedih dan sekaligus merasa tidak enak kepada Alaska karena tindakannya sudah sangat berlebihan.


"Alaska. Maafkan aku karena telah melewati batasku. Lain kali aku tidak akan bersikap seperti ini," ucap Julia dengan nada yang bergetar.


Julian pun yang tak sengaja melewati kedua orang itu terkejut mendengar suara Julia yang seperti hendak menangis. Kontan Julian memandang ke arah Alaska meminta penjelasan dari pria itu.


"Kau apakan adik ku?"


"Julian berhenti bersikap semena-mena." Julia berusaha untuk membela Alaska.


"Baiklah di sini aku lagi yang salah. Seharusnya aku mengerti situasi." Julian pun turut bergabung dengan mereka dan ingin mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi kepada adiknya itu.


"Alaska, apakah kau merasa tidak nyaman dengan kehadiranku dalam hidupmu?"


Alaska menggelengkan kepalanya. Sama sekali ia tidak pernah merasa jika Julia adalah parasit dalam hidupnya walaupun ia merasakan hal tersebut di awal pertemuan mereka. Alaska menganggap Julia sebagai adiknya namun sangat disayangkan perasaan yang tiba-tiba menyelip di hatinya membuat Alaska tidak bisa menahan perasaan ini dan selalu saja merasa bersalah karena telah mencintai orang yang tidak sepantasnya untuk dimilikinya.


Tentu saja mendapatkan Julia hanyalah sebuah angan semata. Tidak mungkin orang rendah sepertinya mampu bersaing dengan orang-orang yang di luar sana yang ingin memiliki Julia.


Julian pun mengerti tatapan sedih dari Alaska yang tidak bisa dilihat oleh Julia. Tapi ia takkan pernah tahu bagaimana perasaan Alaska yang sebenarnya. Namun di sisi lain ia bisa merasakan ada yang aneh dengan Alaksa dan berusaha menebak apa yang sedang dipikirkan oleh Alaska. 


"Julia, maafkan aku karena telah bersikap seperti itu. Aku tidak pernah menganggap mu orang asing. Dan juga aku merasa nyaman denganmu, hanya saja aku sedikit merasa tidak enak karena aku telah banyak merepotkan kalian. Kalian sudah terlalu baik denganku sebentar lagi kita juga akan ada ujian akhir. Kita akan lolos sekolah. Kalian akan pergi berkuliah ke luar negeri dan pergi ke universitas yang besar. Tapi tampaknya aku tidak seperti itu. Kalian harus melupakanku."


Julia tercengang dengan ucapan Alaska yang tiba-tiba seperti itu. Ia menggelengkan kepalanya tiba-tiba perasaan takut mencerca hatinya. Bayangan-bayangan buruk berkelebat di kepalanya. Tidak mungkin ia berpisah dengan Alaska, setengah tahun lebih telah mereka lewati bersama dan hari-harinya juga dihabiskan dengan pria itu. Jadi bagaimana mungkin ia berpisah dengan Alaska.


"Aku akan ikut kemanapun kau pergi Alaska."pernyataan itu mengejutkan dua pria yang ada di depannya.


"Julia," lirih Julian dengan pandangan yang terharu. "Kau juga harus memiliki masa depan."


"Masa depan ku adalah Alaska," ucapnya dengan mantap.


____________


Jujur saja Julia terus kepikiran dengan kalimat yang dikatakan oleh Alaska tadi di sekolah. Ia tengah melukis sebuah pemandangan malam yang sunyi dan di bawahnya berdiri seorang perempuan yang tengah menunggu sebuah harapan yang tidak kunjung pasti.


Julia meletakkan kuas dan lalu termenung  sembari menatap ke arah bintang-bintang yang berjajar indah di atas langit. Perasaannya saat ini sangatlah campur aduk. Julia menundukkan kepalanya. Sedetik kemudian ia kembali mengalihkan pandangannya kepada lukisan tersebut. Ini adalah lukisan terbaiknya. Dan objek yang ada di dalam situ juga adalah dirinya. Selian itu ada di sampingnya lukisan seorang pria yang merupakan itu adalah Alaksa.


Julia tersenyum melihat foto-foto tersebut. Tapi seketika senyum itu luntur ketika ia mendengar suara gedoran pintu yang berasal dari luar.


Julia pun beranjak dari tempatnya dan lalu menghampiri pintu kamarnya serta membukanya. Seketika senyumnya menjadi luntur saat ia melihat siapa yang datang ke kamarnya.


Setelah kepergian orang tuanya yang kembali ke luar kota baru kali ini mereka datang kembali setelah beberapa Minggu. Ibunya masuk ke dalam kamar lalu melihat-lihat ke seluruh penjuru kamarnya.


Pandangan matanya terhenti pada lukisan yang telah dibuat oleh Julia. Ia pun tersenyum dan lalu kemudian menghampiri lukisan tersebut.


"Wow ini sangat indah," pujinya membuat Julia tak bisa menyembunyikan rasa senangnya.


"Beneran Ma?"


Ibunya tak menyahut dan pandangan matanya juga tertuju pada sebuah foto yang menampilkan persahabatan mereka. Sang ibu menatap foto itu dengan pandang yang kosong.


"Ternyata dia adalah sahabat kalian. Tapi kau juga harus tetap berhati-hati dengannya Julia."


Julia menghela napas berat. Selalu saja ibunya bersikap seperti itu dan tak pernah berpikir positif sebentar saja. Ia benar-benar pusing dengan pikiran negatif ibunya itu yang tidak pernah memandang orang dengan cara yang baik.


"Mama tidak semua orang susah itu jahat. Padahal Mama sendiri tahu jika orang jahat itu banyak dari orang yang kaya." Ibunya teridam dan memandang ke arah Julia dengan tatapan yang sangat serius dan juga mengintimidasi.


"Kau sudah belajar? Semester kemarin kau lagi-lagi mendapatkan juara 2 dan dia juara 1, kan? Kau harus berhati-hati kepadanya. Seharusnya kau bisa mencari tahu apa kehebatannya sehingga dia bisa selalu mendapatkan juara dan mengalahkan mu."


"Itu karena memang dia sudah sangat pintar Mama."


"Maka kau harus lebih pintar darinya. Aku tidak ingin anakku menjadi orang yang lemah." Lagi mamanya bersikap seperti itu.


Julia pun menangis dan tiba-tiba ia merasa kepalanya sangat pening. Mungkin ini efek dari dia selalu belajar tanpa berhenti hingga membuat penyakitnya kembali kambuh.


Sang ibu yang melihat anaknya itu menahan rasa sakit langsung menghampirinya.


"Kau tidak apa-apa nak? Maafkan Mama."


Julia yang sudah terlampau sangat marah mengibaskan tangan Ibunya dan lalu kemudian ia pergi begitu saja.


____________


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.