Alaska

Alaska
Part 22



Ujian semester akhir telah berakhir. Dan Julia merasa beban dalam hidupnya sedikit berkurang dan ia terbebas dari rantai yang selalu membuatnya kepikiran.


Wanita itu berteriak bahagia karena telah menyelesaikan ujian dengan sangat baik dan ia yang paling bersemangat di antara Alaska dan juga Julian.


"Akhirnya aku keluar dari perasaan yang terkutuk. Tidak ada lagi beban yang harus aku pikul. Rasanya sangat bahagia," ucap Julia dengan girang dan lalu kemudian menatap ke arah Julian dan Alaska yang tengah memperhatikannya.


"Selamat cantik," puji Julian yang membuat wajah Julia bersemu merah. Kakaknya benar-benar orang yang sangat luar biasa. Julia bahkan tidak habis pikir kenapa Julian bisa bersikap baik kepadanya beberapa belakangan ini.


"Kau sangat berubah Julian. Aku yang merasakan perbedaan yang sangat luar biasa."


Alaska pun memandang ke arah Julia dengan penuh makna. Ia terus memperhatikan Julia dengan tatapan kagum. Tentunya pandangan Alaska tidak lepas dari penglihatan Julian. Benar dugaannya selama ini bahwa Alaska menyukai adiknya. Tapi dirinya tidak masalah sama sekali karena menurutnya Alaska dan Julia pantas untuk mendapatkan kebahagiaan.


Hanya saja Julian tidak merasa yakin dengan orang tua mereka. Kemarin saja Julia dipaksa untuk menjauhi Alaska hingga membuatnya sakit-sakitan. Jadi sungguh tidak mungkin jika ibunya akan merestui hubungan Alaska dan Julia dengan mudah.


"Karena kita telah menyelesaikan ujian dengan baik, bagaimana jika kita akan pergi ke taman bunga matahari yang tidak jauh dari sekolah. Kau bisa mendapatkan objek yang sangat bagus untuk melukis di sana, Julia. Kau bisa mengembangkan bakat melukis mu."


Julia menganggukkan kepalanya dengan sangat senang. Apa yang dikatakan oleh Julian tadi merupakan ide yang sangat baik. Tapi tetap saja sebelum ia memutuskannya, Julia lebih dulu menatap ke arah Alaska untuk meminta pendapat pria itu.


Alaska hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum melihat Julia yang selalu bersifat kekanak-kanakan jika tengah memandang dirinya.


"Ck, selalu saja kau meminta pendapatnya."


"Bodoh amat wlee!" teriak Julia yang paling semangat dan ia merupakan orang yang pertama berlari ke arah parkiran dengan tidak sabar dan mengeluarkan sepeda Alaska dan Julian dari parkiran.


Tinggallah Julian dan Alaska di tempat itu. Julian mendekati Alaska dan lalu kemudian menepuk pundak pria tersebut. Alaska memandang ke arah Julian dengan tatapan bingung dan mengerutkan keningnya.


"Inilah saatnya kau mengungkapkan perasaanmu. Kita sudah melakukan ujian terakhir dan itu artinya kita tidak lagi bersekolah di sini. Bisa saja pertemuan kita adalah pertemuan terakhir, jadi kau tak usah memendam perasaan itu cukup lama kau harus mengungkapkannya walaupun kau tidak mendapatkan jawabannya." Alaska terkejut mendengar celotehan Julian. Jika dipikir-pikir Julian ada benarnya. Tapi masih saja Alaska merasa sangat ragu.


"Aku tidak tahu harus mengatakan seperti apa. Tapi aku juga tak bisa memendam perasaan ini cukup lama."


"Aku tahu apa yang harus kau lakukan. Cukup ungkapkan perasaanmu agar kau bisa merasa lebih tenang dan kau tak pedulikan apa jawaban yang akan diberikan oleh Julia."


"Baiklah."


Mereka pun bersama-sama menuju parkiran. Biasanya Julia akan ikut di boncengan Julian tapi kali ini Julian tidak ingin memboncengnya dan memaksa agar Julia ikut dengan Alaska.


Julia dengan senang hati bahkan ia langsung duduk di boncengan pria itu padahal Alaska sendiri belum naik ke sepedanya.


Alaska hanya tertawa gemas kemudian mengusap sebentar kepala Julia. Ia pun membawa Julia di boncengannya dan meminta agar wanita itu memeluk dirinya.


________


Julia menatap ke arah taman bunga yang sangat indah. Di sini adalah taman khusus bunga matahari, tiada bunga lain di tempat ini. Julia menggelengkan kepalanya saking merasa kagum tempat ini sangatlah indah.


Ia adalah orang yang paling bersemangat untuk mengeksplor keindahan yang ada di tempat tersebut. Wanita itu berlari-larian dan tak mempedulikan teriakan Julian dan Alaska yang meminta ia agar berhati-hati.


"Ini benar-benar tempat yang indah. Aku tidak tahu harus mengungkapkan seperti apa yang penting aku sangat menyukainya." Julia berteriak keras untuk mengungkapkan isi hatinya yang berbunga-bunga.


Wanita itu berkejar-kejaran dengan Alaska dan juga Julian. Mereka tertawa bahagia hingga akhirnya Julia dan Alaska mendapatkan momen berdua. Alaska merasa sangat gugup dan dadanya berdetak hebat.


Ia sendiri merasa bingung akan memulai mengungkapkan perasaannya dari mana. Apalagi ia belum memiliki persiapan.


"Julia!" Julia yang sedang mengamati bunga matahari di depannya pun kebingungan.


"Ada apa?"


"Julia, aku menyukai mu." Ucapan yang sangat tiba-tiba itu membuat Julia terkejut dan terdiam beberapa menit tak bisa menjawab kalimat sakral tersebut.


"A..apa? Apa yang kau katakan?"


"Aku menyukaimu. Maaf," ucap Alaska yang benar-benar sangat merasa bersalah.


"Alaska," ucap Julian dengan dada yang berdetak.


Seketika air matanya menetes. Alaska yang melihat hal tersebut langsung panik setengah mati. Ia memastikan jika Julia baik-baik saja.


"Maafkan aku. Kau pasti marah karena aku memiliki perasaan yang seperti itu kepadamu."


Tanpa banyak bicara Julia lalu kemudian menarik tengkuk Alaska dan kemudian mencium bibir pria itu. Bibir tersebut hanya menempel karena keduanya sama-sama amatir.


"Julia," gumam Alaska dengan turut meneteskan air matanya.


Mereka pun melepaskan bibir satu sama lain dan lalu kemudian menyatukan dahi mereka. Alaska memegang kedua pipi Julia.


"Alaska. Aku juga mencintaimu. Ayo kita berpacaran."


Alaska menangis terharu dan menganggukkan kepalanya. Lalu keduanya pun saling berpelukan hangat. Julian yang dari tadi menyaksikan mereka berdua hanya meludah ke samping. Ia menggelengkan kepalanya dan hanya dirinya yang jomblo di sini.


"Baiklah lagi-lagi aku menjadi obat nyamuk di sini. Nasib ku sungguh tragis."


Alaska dan Julia telah keluar dari taman tersebut. Mereka berdua menghampiri Julian yang sudah berada di luar taman itu. Julian bisa melihat raut wajah bahagia keduanya yang saling melempar senyum.


"Sekarang kau harus memberikan aku sesuatu."


"Tidak mau."


Julia menatap ke arah jam di tangannya dan ia terkejut melihat hari yang sudah sangat tinggi dan itu artinya orang tua mereka sebentar lagi akan pulang ke rumah dan pasti akan mencari keduanya. Kawat jika semisalnya ia tak mendapatkan kedua anaknya di rumah dan bisa saja orang tuanya akan mengamuk.


"Kita harus pulang cepat. Pasti Mama akan marah di rumah." Julia pun turut panik dan ia segera meminta agar Alaska mengantarkannya ke rumah.


Dalam keadaan panik tersebut Alaksa lantas menyeberangi jalan di mana di depan adalah tempat sepeda mereka terparkir. Alaska tak menyadari jika ada mobil yang hendak menabraknya akibat ia berjalan tanpa memperhatikan rambu-rambu lalu lintas.


"ALASKA AWAS!!"


Julia yang menyadari hal itu segera berlari secepatnya dan mendorong tubuh Alaska ke samping dan lalu tanpa bisa menghindari tubuhnya tertabrak oleh mobil tersebut.


BRAKK


Tubuhnya terpental jauh dan bahkan darah sudah bersimbah di sampingnya. Wajahnya penuh dengan warna merah bahkan kepalanya sendiri juga pecah. Selain itu pinggangnya terdapat luka yang sangat besar. Julia benar-benar dalam keadaan yang sudah sangat memprihatinkan dan tak bisa dikenali hanya Tuhan yang bisa menyelamatkan nyawanya. Itupun persentase keselamatan Julia juga sangat rendah dan bahkan tidak mungkin untuk selamat.


"JULIAAAAAAAAAA!!"


_________


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.