Alaska

Alaska
Part 8



Tiba saatnya di mana Julia harus melakukan ulangan sekolah. Hari ini adalah hari ulangan pertamanya dan jujur saja ia benar-benar sangat gugup dan takut tidak bisa menyelesaikan ulangan tersebut dengan baik dan apalagi untuk mengalahkan Alaska.


Ia menatap cemas ke arah lembaran ulangannya dan Julia meneguk ludahnya. Ia bisa menyelesaikan semua soal itu hanya saja saat ini otaknya benar-benar tengah dilanda rasa cemas sehingga ia tak fokus dan melupakan materi yang telah dibacanya tadi malam.


Julia mendesis kecewa kepada dirinya sendiri. Ia berusaha sekuat tenaga untuk mengingat kembali materi yang telah ia pelajari tadi malam. Ia tak boleh melupakan materi tersebut atau tidak nilai ulangannya benar-benar anjlok.


"Aku harus bisa menyelesaikan ulangan ini dengan baik." Julia melirik ke arah Alaska lalu kemudian meneguk ludahnya dengan susah payah. Melihat pria itu, semangat Julia untuk bisa mengalahkannya kian menggebu-gebu. "Aku pasti bisa."


Julia mengembangkan senyumnya. Wanita tersebut pun perlahan-lahan mengingat rumus-rumus yang telah dihafal tadi malam. Dan dengan gampangnya ia mengisi semua soal itu dengan jalan yang cukup unik. Ia harus menunjukkan kepada gurunya bahwa Julia juga tidak kalah dari Alaska.


Ulangan tersebut berjalan dengan hikmat. Tentunya Alaska pun tidak ingin mengalah dari Julia. Laki-laki tersebut menatap hasil ulangan yang telah Ia kerjakan tersebut dengan teliti sebelum mengantarnya. Sebab dirinya juga di sini dipertaruhkan karena ia tidak ingin berteman dengan Julia. Terlebih dia adalah seorang wanita dan menurutnya tidak pantas berteman dengannya.


Sementara itu Julian dengan santai mengisi ulangan tersebut. Sama sekali tidak ada beban di wajahnya karena menurutnya soal-soal tersebut tidak penting. Walaupun ia merupakan tipe orang yang pemalas tapi Julian juga memiliki potensi otak yang cukup tinggi. Tapi minusnya ia malas dan juga nakal. Maka dari itu ia tidak bisa menandingi adiknya, Julia.


Orang yang pertama kali mengantar tugas tersebut adalah Julian. Sementara siswa yang lainnya heboh karena Julian begitu cepat mengantar ulangan. Di dalam hati Julia mencibir kakaknya itu. Sama sekali ia tak pernah peduli dengan pelajaran. Tapi yang lebih aneh lagi adalah orang tua mereka yang membiarkan Julian seperti itu. Sedangkan dirinya dipaksa menjadi orang yang pintar.


"Ck, kenapa semua orang berteriak seperti itu kepada mu, kau juga kenapa terlihat sangat sombong. Kau pikir ini semua keren?" tanya Julia sembari mendesis ke arah kakaknya tersebut.


Julian hanya menarik napas panjang dan melirik ke arah adiknya dengan seringaian di wajahnya. Julia benar-benar muak dengan kakaknya tersebut. Kenapa bisa ada orang ya seperti itu. Tingkah lakunya benar-benar menyebalkan di mata Julia. Kapan kakaknya itu bisa bertaubat.


"Kau tahu, saat ini kau benar-benar menggelikan. Berhenti bersikap seperti itu."


"Jika iri bilang aja," ucap Julian yang tidak mau kalah. "Daripada kau yang sering belajar tapi tidak bisa mengalahkan Alaska."


Seketika itu Julia pun merasa tersinggung dengan ucapan Julian. Dia melirik ke arah Alaska yang mulai mengantar hasil ulangannya. Tangan Julia pun terkepal dan ia merasa panas.


"Kau lihat saja aku bisa mengalahkannya, aku lebih pintar darinya."


Julia pun mengantar tugas yang telah ia buat. Sebelum duduk ia melewati meja pria itu dan melirik ke arah Alaska dengan tatapan sangat yakin. Sedangkan Alaska hanya tertawa meremehkan Julia. Tapi meskipun begitu wajah Alaska tampak masih terlihat cool.


____________


Alaska menarik napas panjang ketika dirinya telah melihat hasil ulangan di semua mata pelajaran yang tertempel di depan kelas mereka. Sedangkan Julia yang baru datang sekolah berlari dengan sangat cepat menuju keramaian orang-orang yang sedang melihat hasil ulangan mereka.


Ada rasa gugup dan juga ketakutan yang menghantui Julia. Bagaimana jika dirinya tidak bisa mengungguli Alaska di setiap bidang mata pelajaran? Apakah itu artinya ia benar-benar selamanya tidak bisa berteman dengan pria itu?


Julia menembus kerumunan tersebut begitu saja. Dan memaksa siswa yang lainnya untuk mundur agar bisa memberikannya jalan. Julia menatap kertas yang tertempel di depan kelasnya tersebut dengan suasana dan penuh hati-hati. Ketika matanya membulat melihat semua hasil ulangannya di semua bidang studi.


"YEY!!" teriak Julia yang bahagia melihat hasil ulangannya benar-benar mengungguli Alaska di semua mata pelajaran.


"Bukankah kau melihatnya sendiri? Aku telah berhasil mengungguli mu di semua mata bidang pelajaran. Itu artinya kita sekarang sudah bisa menjadi teman, dan kau harus mengajariku."


Alaska pun memandang ke arah Julia dengan seksama. Tubuh Julia benar-benar berubah drastis dan menjadi sangat kurus ketika ia harus terus-menerus belajar tanpa memikirkan kesehatannya.


Selain itu terdapat mata panda di bawah mata Julia. Sepertinya wanita itu telah bekerja keras untuk mengalahkannya. Walaupun di dalam hatinya masih jengkel karena wanita ini berhasil mengalahkannya.


Tanpa disangka Alaska pun menyentuh kening Julia, seketika punggung tangannya terasa panas. Sementara itu Julia terkejut dengan sikap Alaska yang tiba-tiba. Dia hanya tersenyum canggung lalu kemudian menjauhkan tangan Alaska Alaska dari keningnya.


Namun tak lama dia merasakan jika tubuhnya terasa berat dan kepalanya berputar-putar. Julia pun jatuh pingsan di depan Alaska dan dengan


sigap pria itu menyambutnya.


"Julia," seru Alaska hendak membangunkan Julia yang tengah pingsan tersebut. Tapi sepertinya wanita itu benar-benar lelah hingga sampai sakit dan jatuh pingsan.


Alaska membawa Julia ke ruangan UKS. Tak sengaja ia berpapasan dengan Julian yang hendak masuk ke dalam kelas. Julian sangat panik melihat kembarannya itu.


"Julia!" teriak Julian sembari menyentuh tangan perempuan tersebut. "Ada apa dengannya Alaska? Apa yang sudah terjadi?"


"Dia pingsan. Sepertinya dia sangat kelelahan," ujarnya seraya berlari ke arah ruangan UKS.


"Pasti ini semua gara-gara dia berusaha bisa mengalahkan mu. Dia terlalu nekat, padahal aku sudah sering menasehatinya."


Alaska menatap ke arah Julian dengan pandangan sangat bersalah. Sepertinya akar dari semua ini adalah karenanya. Alaska melirik ke arah Julia yang ada di gendongannya.


Alaska masuk ke dalam ruangan UKS dan lalu kemudian merebahkan wanita itu ke kasurnya. Wajah Julia benar-benar pucat dan bahkan pihak UKS sendiri tidak bisa menangani sehingga Julia harus dilarikan ke rumah sakit.


"Kau terlalu nekat Julia. Kau tak pernah mempedulikan diri mu sendiri. Kenapa kau selalu memikirkan omongan mama, jika kau tak sanggup katakan saja kepada mereka dan jangan memaksakan diri seperti ini."


Walaupun mereka sering berantem tapi nyatanya Julian sangat peduli kepada Julia.


_______


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.