Alaska

Alaska
Part 35



Tiba saatnya bagi Julia dan Alaska akan memamerkan lukisan mereka kepada khalayak ramai. Tak disangkanya akan banyak pengunjung yang datang untuk menikmati lukisan tersebut. Julia benar-benar bahagia. Sepertinya tidak salah juga jika di awal mereka akan mengandalkan koneksi Julia yang sangat luas.


Namun banyak diantara para pengunjung tersebut tidak tahu jika di situ juga ada karya milik Alaska. Sebab Julia mengundang mereka hanya untuk memamerkan karyanya. Namun orang itu baru mengetahui saat melihat nama pelukis di lukisan itu. Mereka kagum dengan hasil karya milik Alaska. Julia pun tersenyum melihat orang-orang yang mengagumi karya Alaska. Bisa dikatakan karya Alaska memang memiliki nilai tukar yang sangat tinggi dan penuh makna tidak seperti lukisannya yang masih kalah jauh di bawah pria itu.


Wajar saja karena Alaska adalah gurunya. Perempuan itu melirik ke arah Alaska secara perlahan. Ia bisa memastikan senyum pria itu tak akan pernah luntur melihat karyanya akhirnya bisa dilihat secara luas. Apalagi banyak yang ingin membelinya.


Hal yang sederhana namun sangat disukai oleh Julia. Ia pikir mungkin pria itu tak akan mudah melupakan hari ini. Hari yang penuh dengan makna bagi mereka.


"Bagaimana? Terlihat jika kau senang sekali," ucap Julia seraya menyindir Alaska. Pria itu menatap ke arah Julia lalu terkekeh.


Kemudian Ia pun mengalihkan pandangannya ke arah para pengunjung yang sangat menikmati karya-karyanya dan juga karya milik Julia. Terselip rasa bahagia yang sangat luar biasa dan tidak bisa dideskripsikan dengan mudah saat melihat mereka semua yang terus menerus kagum dengan setiap karya-karya yang di sini. Tidak bisa dipungkiri ini adalah berkat dari Julia yang mau menampung dirinya. Alaska pun tersenyum lalu kemudian memeluk tubuh wanita itu.


"Bagaimana? Tentunya aku sangat bahagia seperti yang kau lihat sekarang. Dan satu lagi terima kasih untuk hari ini," ucap Alaska dan lalu memandang ke arah Julia dengan tatapan penuh makna.


Julia pun terpukau dengan tatapan tersebut dan ia tak bisa mengalihkan pandangannya dan menurutnya objek yang saat ini dilihatnya adalah pemandangan yang paling indah yang pernah dilihatnya. Bahkan Julia sendiri enggan untuk mengalihkan tatapannya dari wajah laki-laki tersebut.


Alhasil, Alaska pun juga ikut memandang ke arah wanita itu dengan tatapan serius. Mereka berdua sama-sama tak bisa mengalihkan pandangannya karena telah terkunci satu sama lain.


"Alaska, hari ini kita masih bersama. Aku ingin kita juga nanti terus bersama seperti ini. Tidak berpisah sama sekali. Kau bisa menepati janjiku ini, kan?" mohon Julia kepada pria tersebut agar tak meninggalkan dirinya. Ia sangat berharap bahwa selamanya akan tetap seperti ini.


Alaska pun berdahem dan lalu menormalkan pandangannya. Tampaknya laki-laki itu banyak pikiran dan sekarang tidak bisa berpikir lebih banyak. Julia yang melihatnya sangat tidak tega.


"Tidak usah dipikirkan jika kau tidak ingin bersamaku selamanya." Tampaknya kali ini Julia salah paham kepada Alaska.


Pria tersebut mendesah berat lalu kemudian menatap Julia dengan pandangan serius. Kenapa Julia selalu menyimpulkan semaunya sendiri. Seharusnya wanita itu tahu bagaimana perasaannya saat ini. Sebenarnya Alaska juga mengharapkan sama dengan yang diharapkan oleh Julia. Tapi mau bagaimana lagi ketika keadaan yang tidak mendukung dan ia hanya datang dari keluarga biasa-biasa saja dan telah mencelakai Julia pula, apakah pantas Ia mendapatkan wanita itu? Dan semudah itukah mendapatkan restu dari ibu Julia.


"Jangan salah paham pada ku dulu ya. Bukan maksudku seperti itu Julia sayang, tapi untuk pernikahan mungkin aku belum terpikirkan. Namun untuk hubungan kita terus seperti ini aku masih memikirkannya." Bohong, bahkan Alaska kadang-kadang telah merencanakan bagaimana pernikahannya bersama Julia.


Namun tetap saja rencananya itu hancur ketika ia mengingat orang tua dan juga Julian yang selalu melarang dirinya mendekati Julia. Padahal Alaska juga kadang mengumpulkan uang dari hasil pekerjaannya untuk beberapa minggu ini. Bahkan jika karyanya nanti laku dijual Ia pun menggunakan uang tersebut untuk menabung agar bisa ke Amerika dan kuliah di Harvard bersama dengan Julia.


Begitu banyak rencana yang telah dibuat Alaska untuk hidup bersama wanita itu. Tapi sama sekali tidak ada orang yang mengetahui dengan rencananya tersebut. Menurutnya rencananya juga belum pasti.


Julia menarik nafas panjang dan lalu kemudian memurungkan wajahnya.


"Aku tidak tahu bagaimana perasaanmu. Tapi aku harap kau tidak pernah berubah Alaska," ujar Julia penuh makna.


"Julia, kau lihat hari ini kita masih bersama bukan? Itu artinya aku tidak akan pernah meninggalkanmu dan sekarang pun aku masih ada di sisimu."


Akhirnya Julia pun bisa sedikit tenang. Wanita itu tersenyum lebar ke arah Alaska dan lalu kemudian menggenggam tangan pria tersebut.


_________


Alaska menatap hasil penjualan karyanya tersebut dan juga Julia. Mereka seakan tidak percaya dengan penghasilan saat ini yang dibanderol dengan harga lumayan sangat tinggi.


Sepertinya uang itu cukup untuk dirinya hidup beberapa bulan. Akan tetapi uang itu dikumpulkan oleh Alaska agar ia bisa berkuliah di Harvard. Bahkan laki-laki itu telah mengirimkan formulir untuk tes kuliah di Harvard.


Sepertinya tekadnya sudah bulat untuk kuliah di situ. Laki-laki tersebut penuh kegigihan apalagi otaknya pintar pasti ia akan mudah untuk lolos.


"Kira-kira uangmu ini untuk apa? Sebanyak ini enaknya dibuat apa ya?" tanyanya ceria kepada dirinya sendiri sembari memikirkan cara menghabiskan uang tersebut.


"Jangan dihambur-hamburkan Julia. Uang ini akan berguna suatu hari nanti, mending disimpan saja." Julia pun memandang ke arah Alaska dan lalu kemudian wajahnya berubah ceria.


"Lantas bagaimana dengan uang hasil penjualan mu? Kau mau menjadikannya apa? Dan mau membeli apa?" tanya Julia kepada pria itu semangat.


Julia pun menganggukkan kepalanya. Padahal tadi ia sempat berpikir untuk membeli baju baru.


"Baiklah karena ini perintah dari Alaska maka aku harus hormat dan menurutinya," ucap wanita itu dan lalu kemudian memeluk tubuh Alaska.


Mereka masih berada di showroom dan hanya tinggal mereka berdua di tempat ini. Julia benar-benar nyaman di dalam pelukan Alaska.


"Aku harap selamanya kita kan seperti ini."


Alaska tidak tahu harus bersikap seperti apa. Mengingat kata-kata Julian yang meminta menjauhinya dan akan membawa adiknya jauh darinya tentu membuatnya sakit hati dan tidak tahu cara untuk mengobati perasaannya yang sangat sakit ini.


Alaska menarik wajah Julia dan kemudian menciumnya dengan sangat menuntut. Wanita itu sangat terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Alaska.


"Alaska apa yang kau lakukan?" tanya Julia sedikit marah kepada pria itu sembari menepuk-nepuk dada Alaska agar dilepaskan oleh laki-laki itu.


Alaska pun terpaksa melepaskan ciumannya dengan Julia. Sedikit menyesal di wajahnya karena harus menghentikan hal yang sangat nikmat tadi.


"Maafkan aku Julia. Sepertinya memang aku banyak pikiran hingga tidak bisa menahan kontrol ku. Maafkan aku jika kau ingin melaporkannya juga tidak apa-apa."


Julia membulat ketika mendengar pernyataan laki-laki tersebut. Melaporkan pria itu? Yang benar saja ia akan melaporkannya ke polisi. Sampai kapanpun Julia tidak akan pernah melaporkannya karena hanya alasan sepele. Padahal pria itu adalah satu-satunya alasannya untuk hidup.


"Hei kau kira aku akan melaporkanmu semudah itu hah? Enak sekali kau mengucapkannya dengan sangat enteng ya."


Kemudian Julia pun mencium Alaska dan kali ini ia yang memimpin peran. Bahkan Alaska sendiri terkejut dengan apa yang dilakukan oleh wanita itu.


Kemudian Julia pun melepaskannya dan menatap ke arah Alaska dengan pandangan tajam. Bahkan Alaska tidak bisa berkutik dan ia terpesona dengan wajah Julia yang sangat dekat dengannya.


"Nanti kalau ingin melaporkan aku laporkan saja biar aku bisa menemani di dalam penjara."Alaska pun terkekeh dan lalu kemudian mereka saling menyatukan bibir mereka atas kehendak mereka masing-masing. Ciuman itu berlangsung dan semakin jauh. Akan tetapi keduanya langsung sadar saat mendengar langkah kaki seseorang yang mendekat.


Alaska dan Julia lekas melepaskan senyuman itu dan lalu bersembunyi. Rupanya orang itu adalah Julian yang tak sempat datang ke pameran Julia tadi.


"Julia? Kau masih di sini? Malam-malam seperti ini kenapa kau masih di sini? Kau tidak takut hantu, hah?"


Julia mengusap dadanya. Rupanya yang datang adalah kakaknya. Ia kira tadi perampok.


Julia lantas keluar dari persembunyiannya dan menghampiri sang kakak. Ia menepuk pundak Julian hingga membuat kaget pria itu.


"Hey Kaka."


Julian berbalik sembari mempelototkan matanya. "Dasar bocah tengik. Kau tahu apa yang kau lakukan itu tidak baik untuk jantung ku."


"Mana ku tahu. Lagipula itu adalah derita mu," ujar Julia cuek.


"Kau..." Julian pun menunjuk ke arah wanita dan lalu menarik tangannya kemudian menaruhnya di pinggang seperti orang yang tengah berkacak pinggang. "Kenapa kau belum pulang? Apakah ada orang lain di sini?"


Deg


___________


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.