Alaska

Alaska
Part 28



Kembali lagi pada pertemuan pertama mereka setelah berpisah beberapa tahu yang lalu dan di mana kilas balik yang diingatnya barusan adalah kenangan masa lalu yang ingin diketahuinya selama ini.


Julia memandang ke arah Alaksa yang saat ini berada di depannya. Ia meneguk ludahnya, air matanya jatuh melihat pria itu yang saat ini berdiri utuh di depannya. Dia Alaska, kekasihnya. Orang yang sudah dilupakannya beberapa tahun belakangan ini.


"Alaska," gumamnya dan Alaska sabat terharu melihat jika Julia sudah kembali mengingat dirinya.


Laki-laki itu langsung memeluk tubuh Julia. Mereka berdua menjadi tontonan banyak orang di cafe itu. Tak tanggung-tanggung bahkan sampai ada yang memvideokan mereka.


"Kau sudah mengingat ku?" tanya Alaksa dengan mata yang berkaca-kaca.


Julia menganggukkan kepalanya dan tak ingin sama sekali melepaskan pelukannya. Ia tak ingin kehilangan orang ini lagi.


"Alaksa, aku sudah ingat semuanya. Pantas semua orang berusahalah untuk merahasiakannya dariku. Ternyata mereka tidak ingin aku mengetahui bagaimana masa laluku. Kau tidak salah Alaska, yang salah itu adalah aku. Aku sudah suka rela mempertaruhkan nyawaku demi dirimu. Kok tidak akan mengerti bagaimana perasaanku jika kau yang pergi."


Sejauh ini Julia belum mengetahui bahwa ginjal yang ada di dalam dirinya adalah ginjal milik Alaska. Selain itu ia juga belum mengetahui bahwa Alaska pernah masuk penjara karena dirinya. Alaska juga tidak berkenan ingin memberitahukan kebenarannya kepada Julia.


Dengan dekatnya dirinya seperti ini dengan wanita itu sudah cukup. Ia tidak ingin memperkeruh suasana. Julia menarik tangan Alaska, alasan sempat kebingungan tapi wanita itu hanya tersenyum.


Senyum yang sudah lama tidak dilihatnya. julia menarik nafas panjang. Akhirnya setelah sekian lama ia bisa menjumpai kebahagiaannya.


"Alaska?" Alasnya berjalan di samping wanita itu melirik ke arah Julia yang memanggil namanya.


Ia menatap Julia dengan penuh cinta. Dan bahkan pria itu tak bisa menjauhkan pandangannya dari Julia.


"Ada apa? Apakah ada sesuatu terjadi?"


"Kenapa saat bersamamu aku benar-benar merasa sangat bahagia ya? Apakah kau memang adalah kebahagiaanku? Baiklah, Jika seperti itu aku tidak akan pernah melupakan kebahagiaanku. Aku sangat bersyukur mengingatnya kembali. Sekarang ceritakan apa yang kau lakukan selama ini?"


Alaska teridam dan tak tahu akan menceritakan yang mana. Menurutnya Julia tak perlu tahu apa yang ia lakukan selama ini. Yang pasti ia dipenjara dan sakit-sakitan karena kehilangan satu ginjalnya. Selain itu ia juga sempat depresi dan harus ditangani oleh dokter. Itulah yang terjadi kepada dirinya beberapa tahun ini semenjak tidak ada Julia di sampingnya.


"Tidak ada yang menarik Julia. Yang pasti hidupku sangat hambar tanpa ada dirimu. Yang aku harapkan hanyalah kebersamaan saat bersamamu, tapi tidak ada dirimu hidupku hampa."


Julia pun menganggukkan kepalanya. Ia meraih tangan Alaska dan kemudian menggenggamnya dengan sangat erat.


"Hidupku juga tidak ada yang unik semenjak tidak ada dirimu. Yang pasti Julian kembali menjadi orang yang sangat menyebalkan. Bisa-bisanya dia adalah sahabatmu tapi ia tak lagi seperti sahabatmu sekarang."


Alaska ingin sekali mengetahui kabar Julian. Sahabatnya dulu yang telah banyak membantu dirinya, tapi ya sudahlah sepertinya laki-laki itu sangat membencinya.


"Benar kah? Kau tidak berkuliah?"


"Ya aku berkuliah di bidang seni. Aku menekuni dunia melukis. Aku juga dulu bingung kenapa tiba-tiba bisa melukis. Ternyata kau yang pernah mengajari ku. Lalu bagaimana dengan mu? Apakah kau bisa masuk ke universitas Indonesia?"


Ya pada saat itu dulunya dirinya diterima jalur snbp. Namun sangat disayangkan dirinya tak bisa menerima keberhasilannya saat masuk ke universitas tersebut. Di mana dirinya harus dipenjara sehingga ia merelakan universitas tersebut.


"Aku tidak jadi. Sebab tidak punya uang. Tapi aku sudah mendaftar lagi di Universitas Gajah Mada jalur Snbt kemarin dan belum ada pengumumannya. Mungkin Minggu depan."


Julia sangat terkejut mengetahui bagaimana hidup Alaska. Ia seakan tak percaya dengan pria itu.


"Alaska jadi selama ini apa yang kau lakukan? Kau tidak berkuliah. Kenapa? Hanya karena uang? Kenapa aku merasa tidak yakin?" tanya Julia dan lalu kemudian ia memandang ke arah Alaksa.


"Mau bagaimana lagi. Aku bukanlah orang yang berada. Aku juga tidak mendapatkan job lagi semenjak kau sakit dan harus dirawat ke Amerika Serikat. Orang tua mu juga tak ingin aku menjenguk mu."


Julia menarik napas panjang dan menatap ke arah Alaksa dengan sangat serius.


"Alaska. Maafkan aku, tapi aku juga akan pindah ke Indonesia dan akan berkuliah di tempat mu."


Alaska langsung terkejut dengan ucapan Julia. Ia menggelengkan kepalanya melarang Julia melakukan hal tersebut.


"Kau berkuliah di luar negeri itu sudah sangat bagus. Jangan melakukan yang berpotensi buruk hanya karena ku. Orang tua mu juga pasti tidak terima."


"Terserah mereka yang pasti aku hanya ingin bersama mu."


Alaska teridam dan ia menundukkan kepalanya. Lihatlah betapa besar perjuangan Julia untuk dirinya. Tapi kenapa ia tak bisa membalas kebaikan yang diberikan oleh Julia itu?


Ia seakan tengah menghancurkan hidup Julia. Kemarin dirinya membuat Julia kehilangan ingatannya dan juga membuat wanita itu koma. Sekarang masa dirinya akan membuat Julia hancur dalam dunoa pendidikan.


"Julia Jangan lakukan itu. Kau jangan berani-beraninya menahan dirimu untuk menjadi orang yang sukses. Intinya kalau lebih baik berkekuliah di luar negeri saja. Jangan di sini, kau sudah sangat beruntung sebab banyak orang yang ingin berkuliah di luar negeri."


Julia sungguh tidak senang mendengar pernyataan yang keluar dari mulut Alaska. Beberapa kalimat telah Ia siapkan untuk membantah pria itu. Perempuan tersebut mengepalkan tangannya.


"Entahlah, yang pasti aku akan pergi kemanapun kau pergi. Aku tidak akan pernah membiarkan kau pergi sendirian. Ingat Alaska, kita ini masih seorang pasangan."


Alaska mengagukan kepalanya. Memang benar mereka tidak pernah putus dan masihlah seorang pasangan.


"Baiklah, sekarang jangan lagi pikirkan itu."


Saat mereka sedang asyik berjalan-jalan di tengah pasar tersebut, tiba-tiba Julian datang dan menarik paksa tangan Julia.


Julia dan Alaska terkejut dan mereka lebih kaget lagi saat melihat jika orang itu adalah orang itu adalah Julian. Julian menatap ke arah Alaska dengan tatapan sengit.


"Julia mari kita pulang. Kau jangan terpengaruh dengan orang itu, dia hanya akan membawa keburukan untukmu."


Julia tak terima ditarik kasar oleh Julian. Ia berteriak sekeras-kerasnya kepada kakaknya hingga membuat seisi pasar tersebut terkejut.


Julian pun tak berkutik saat diteriaki oleh adiknya. Apalagi ia melihat dengan jelas mata sang adik yang berkaca-kaca.


"Kau bohong Kak! Jelas-jelas dia adalah kekasihku, aku sudah mengingat semuanya. Kok tidak perlu lagi membohongiku."


Deg


_______


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.