Alaska

Alaska
Part 36



"Hah? Apa yang kau katakan Kakak? Jelas-jelas aku di sini sendirian. Memangnya jika ada orang selain aku pasti itu hantu." Wajah Julian langsung berubah tegang dan marah padam. Jika dilihat-lihat abangnya ini sangat takut dengan hantu. Bagus Jika seperti itu maka dirinya bisa menakut-nakuti laki-laki itu.


"Jangan ngomong yang sembarangan ih. Emang kamu tidak takut jika misalnya dia benar-benar datang dan mencekik mu?" tanya Julian dengan tubuhnya yang sedikit bergetar. "Sudahlah kau jangan sok kuat."


Julia yang melihat sikap Julian yang sangat lucu itu hanya bisa tertawa gelak. Bisa-bisanya memiliki badan yang kekar seperti ini tapi pria itu sangat takut dengan hantu. Sungguh tidak masuk akal.


"Hei kau ini laki-laki yang tegap tapi kenapa takut sekali dengan hantu ya? Jika para wanita itu tahu pasti dia tidak akan mau mendekatimu. Apa aku bilang saja ya supaya dia tidak meresahkan ku," ujar Julia yang sengaja menakut-nakuti kakaknya tersebut.


"Berani beraninya kau mengatakannya, maka habislah kau. Aku tidak akan pernah memaafkanmu sama sekali Julia."


"Oh ya?" Julia sengaja memasang wajah tengil, "kalau begitu pulanglah dulu atau tunggu aku di luar. Tapi lebih baik kau pulang lebih dulu karena aku bisa pulang sendiri."


Julian pun menghela napas panjang dan lalu kemudian menganggukkan kepalanya. Ya memang hari sudah sangat gelap dan sebentar lagi mereka akan pulang. Yang dipikiran Julia saat ini bagaimana caranya ia mengeluarkan Alaska dari ruangan tersebut tanpa diketahui oleh Julian.


"Oh ya aku menunggu di mobil saja. Aku sudah datang untuk menjemput mu masa kau pulang naik bus," ujar Julian lalu kemudian pergi meninggalkan showroom tersebut.


Setelah pria tersebut tersebut benar-benar sudah keluar dari showroom itu barulah Julia bisa bernapas dengan lega. Akhirnya laki-laki itu pergi juga. Ia sempat sangat takut jika Julian mengetahui keberadaan Alaska.


Kemudian wanita itu menghampiri tempat persembunyian Alaska dan menepuk pundak pria itu beberapa kali.


"Hey keluarlah, pria menyebalkan itu telah pergi. Aku pulang dengan kakakku jadi kau keluarlah segera sebelum ketahuan olehnya."


"Hm," bicara Alaska dingin dan membuat Julia menyipitkan matanya.


"Ada apa lagi? Kau sedang marah denganku ya?" Alaska pun menggelengkan kepalanya. Memang ia tidak marah dengan wanita itu sama sekali.


"Tidak apa-apa."


"Tapi kenapa sih kamu sangat aneh sekali ya? Katakan apa yang kau sembunyikan dariku?"


Alaska pun kemudian memeluk tubuh Julia dengan tiba-tiba. Rasanya ia masih belum puas untuk memeluk tubuh wanita ini. Ia ingin terus bersamanya dan tak ingin meninggalkan wanita itu.


"Aku masih merindukanmu Julia. Jadi aku masih belum rela untuk pergi sekarang. Tapi apalah daya daripada aku terkunci di dalam ini mending aku pulang lebih dulu," tutur laki-laki itu dan lalu kemudian mengecupi seluruh wajah Julia.


Julia terkejut dengan kelakuan Alaska kepadanya. Tapi tak bisa menutup juga bahwa ia sangat salting diperlakukan seperti itu oleh laki-laki tersebut.


"Pulanglah dan hati-hati, jalan belakang aja. Nanti kalau jalan pelan-pelan saja jangan sampai menyadarkan pria itu."


"Tanpa kau beritahukan aku akan melakukannya."


Julia memajukan mulutnya. Pria ini benar-benar sombong. Memang sedikit sulit untuk berbicara dengan laki-laki itu pasti saja ada sangkakalanya.


"Baiklah-baiklah."


Setelah memastikan bahwa Alaska telah keluar barulah Julia keluar dari dalam showroom itu dan menguncinya. Kemudian wanita itu menghampiri mobil milik kakaknya dan mengetuk kaca mobil laki-laki tersebut.


Tok


Tok


Tok


Julian yang sedang bermain ponsel pun memandang ke arah kaca mobilnya dan kemudian membuka pintu mobil tersebut.


"Sudah selesai?"


"Hm."


"Lama sekali, apa yang sebenarnya kau lakukan di dalam sana sampai semalam ini."


Ia pun masuk ke dalam mobil kakaknya, duduk di samping pria itu. Julia memiringkan kepalanya lalu kemudian memejamkan matanya berpura-pura tengah mengantuk. Sengaja ia melakukannya agar Julian tidak banyak bertanya. Terbukti sekarang pria itu pun tak lagi bertanya apapun padanya dan diam.


Ia lantas membawa mobilnya ke arah jalan ke rumah mereka dengan kecepatan yang sedikit tinggi.


Sedangkan Alaska masih berada di parkiran untuk memastikan jika wanita itu pulang dengan baik. Saat merasa bahwa Julia aman barulah ia pulang ke rumahnya.


__________


"Baru pulang ke rumah? Kenapa sangat malam sekali??" tanya ayahnya dan Alaska pun menggelengkan kepalanya. Artinya saat ini ia sedang tidak mood untuk diajak berbicara.


Ia menyerahkan beberapa hasil penjualannya dari karya lukisannya kepada ibunya. Sang Ibu pun sangat terkejut melihat uang sebanyak itu. Ia sangat takut jika anaknya telah melakukan tindakan kriminal.


"Alaska, jika kau melakukan sesuatu yang melanggar hukum aku tidak segan-segan menuju wajah mu," ucap ayahnya sama paniknya dengan sang ibu.


"Papa, jangan seperti itu juga."


Alaska menganggukkan kepalanya. Ya ini memang adalah uang. Dan dirinya sedikit bangga karena telah bisa menghasilkan uang sebanyak itu.


"Aku menjual karya lukisanku dan ada yang membelinya."


Ayah dan ibunya saling bertatapan dan kemudian memandang ke arah Alaska dengan bangga. Apapun yang Alaska lakukan jika hal tersebut positif pasti mereka akan selalu mendukung anak itu.


"Ternyata kau hebat juga. Ada yang mau membeli lukisan mu, itu tandanya baik. Maka dari itu kau lebih baik melukis saja dan menjualnya kepada banyak orang."


"Rencananya mau seperti itu sih Ma, tapi ini tadi baru kebetulan dan aku belum memikirkan lebih banyak lagi."


Kemudian Alaska masuk begitu saja ke dalam kamarnya Dan meletakkan tasnya di atas meja. Laki-laki tersebut duduk di meja belajarnya dan kemudian membuka ponselnya untuk mencegeck apakah ia lulus snbt atau tidak.


Dan rupanya, dia memang lulus di UGM. Mungkin bagi beberapa orang akan merasa senang dengan kabar kelulusan tersebut. Namun tidak dengan dirinya. Ia dirundung dengan rasa dilema. Maka dari itu Alaska pun memutuskan untuk tidak mengambil UGM untuk sementara waktu sebelum tesnya di Harvard keluar.


Laki-laki tersebut pun menarik napas panjang kemudian menutup ponselnya. Setiap hari ia semakin galau. Kenapa ia bisa bertindak sejauh ini demi perasaan cintanya? Namun dipikir-pikir lagi hal itu sangat wajar dilakukan oleh dirinya. Ya begitulah jika sudah bucin. Sukar untuk disadarkan.


Alaska lantas mengganti bajunya. Tiba-tiba saat ia sedang mengganti baju video call pun masuk. Ia langsung mengangkat video call dari Julia tersebut.


"Ada apa lagi?" tanya Alaska dengan lembut.


Akan tetapi orang di seberang sana langsung memerah saat melihat tubuh Alaska yang tidak mengenakan apapun. Melihat reaksi wanita itu barulah Alaska tersadar dengan dirinya yang bertelanjang dada. Tapi ketika Julian sama sekali tidak memakai baju dan malah semakin menggoda Julia.


"Kenapa wajahmu seperti itu? Apa yang sebenarnya sedang kau lihat Julia?" tanya Alaska sembari menaikkan satu alisnya dan sengaja menampakkan perutnya.


Julia langsung memekik di seberang sana dan menutup ponselnya. Ia tak habis pikir dengan jalan pikiran Alaska yang sama sekali tidak memiliki rasa malu dan malah memamerkan bentuk perutnya. Apalagi bentuk perut laki-laki tersebut sangat bagus ia tak tahu bahwa Alaska juga sering melakukan gym.


Mungkin ini akibat karena Alaska sering membantu orang tuanya untuk bekerja bangunan sehingga terciptalah perut kotak-kotak tersebut.


"Ada apa? Kenapa wajah mu merah seperti itu?"


"Alaska kau bodoh ya? Di mana bajumu? Kenapa kau tidak mengenakannya? Apakah kau tidak melihat jika orang di depanmu ini adalah perempuan."


"Kan pacarku sendiri kenapa aku malu."


Wajah Julia makin bersemu ketika Alaska mengatakannya. Dia tidak pernah membayangkan jika pacarnya akan setmpan ini dan juga memiliki tubuh yang atletis. Benar-benar sangat sempurna, laki-laki idaman banyak orang.


"Baiklah baiklah. Sekarang cepat kau pakai baju mu, jangan membuat malu seperti ini."


"Kau ini aneh sekali. Tidak apa-apa lah, dengan pacar sendiri juga," santai Alaska.


Julia pun berusaha untuk beradaptasi dengan apa yang dilihatnya sekarang. Laki-laki Itu benar-benar menyebalkan di mata Julia. Bisa-bisanya ia bertindak semaunya saja.


"Baiklah kekasihku."


"Apakah kau tidak ingin seperti ku juga?" Julia sempat bingung dengan apa yang dikatakan oleh laki-laki itu. Ia pun seketika langsung paham dengan makna dari kalimat tersebut.


"Alaska kau benar-benar sangat cabul. Aku tidak tahu jika kau secabul ini. Habislah kau, aku tidak akan menemui lagi."


Alaska terkekeh dan lalu menatap ke wajah Julia dengan pandangan dalam.


"Aku bercanda sayang. Aku tidak mungkin meminta itu beneran."


"Ya kau memintanya pada saat kita menikah saja." Seketika itu juga wajah Alaska langsung terlihat berubah walaupun tidak disadari oleh Julia.


"Hm baiklah. Aku akan menunggu janji mu itu. Jika kau tidak memberikannya maka aku akan mengikat mu di ranjang."


Mendengar ancaman dari pria tersebut membuat Julia langsung ketakutan.


"Dasar KDRT. Seram sekali, rasanya aku akan pikir-pikir lagi untuk menikah dengan mu."


________


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.