Alaska

Alaska
Part 14



Julia membuka matanya ketika mendengar ketukan pintu. Perempuan tersebut perlahan mengucek matanya dan mengerjapkannya beberapa kali berusaha untuk melihat ke depan.


Dengan malas wanita itu menurunkan satu kakinya dan lalu kemudian menghampiri pintu kamar tersebut dan membukanya secara perlahan. Julia yang belum sadar sepenuhnya seketika membelalakkan matanya tatkala melihat sang ibu yang berada di depan kamarnya.


Wanita itu seakan tak percaya jika ibunya telah pulang. Julia melirik ke arah jam dinding dan ia terkejut bahwa hari telah menunjukkan pukul 02.00 pagi. Julia mengalihkan lagi datanya pada ibunya seolah setengah bertanya kapan wanita itu sampai ke Jakarta.


"Kapan sampainya?" tanya Julia kepada sang ibu yang hanya diam menatap dirinya.


Terdengar helaan nafas panjang dari sang Ibu membuat tubuh Julia menegang. Apakah kali ini ibunya akan memarahinya? Lagi-lagi yang mengetahui bagaimana sifat sang ibu yang begitu pemarah dan sangat sensitif.


"Apakah kau tidak belajar? Kenapa hari ini kau tidak mengirimkan bukti kalau sudah belajar?" Julia memutarkan bola matanya. Ia sangat muak dengan pertanyaan itu. Akan tetapi tak ada yang peduli dengan perasaannya. Terlebih lagi sang ibu yang tak akan pernah mau mendengarkan isi hati Julia yang sesungguhnya yang sangat sakit akibat perbuatan wanita itu yang selalu memaksakan kehendaknya kepada Julia.


"Maaf Mama, Julia sudah belajar tapi lupa mengirimkan bukti kalau Julia udah belajar." Padahal nyatanya Julia sama sekali tidak belajar dan ia hanya ingin beristirahat karena tak ingin terlalu lelah sesuai dengan kehendak Julian dan Alaska.


"Awas aja jika kamu belum belajar. Ah ya siapa pria yang mengajari mu melukis itu? Apakah kau sudah memberikannya gaji? Satu lagi dia benar-benar pelukis yang hebat, kan? Siapa namanya dan apa karyanya?"


"Julia bukan mencari pelukis yang hebat kebetulan dia teman Julian Julia meminta dia mengajari Julia melukis." Ibunya nampak protes namun Julia menatap dengan penuh mohon.


Pasti sang Ibu lagi-lagi tidak setuju dengan dirinya dan menganggap Jika ia takkan berhasil jika belajar dengan orang yang tidak jelas asal-usulnya.


"Aku akan menyelidikinya nanti."


Seketika itu juga Julia langsung melototkan matanya. Bisa-bisanya ibunya hanya karena guru melukisnya saja ia sampai ingin menguntit Alaska.


"Mama! Apakah kamu tidak memiliki hati sama sekali? Kenapa semuanya harus dikuntit?" tanya Julia dengan perasaan penuh kecewa.


"Aku harus memastikan jika anakku baik-baik saja. Bagaimana Kau berteman dengan orang yang salah dan bisa mengajak kamu ke jalan yang buruk."


Julia menggelengkan kepalanya tidak habis pikir dengan sang ibu. Kenapa Ibunya ini suka sekali menerima apa yang ia inginkan dan juga terlalu protektif kepadanya.


"Bisakah sekali saja Mama memberikan kebebasan kepadaku? Kenapa kau selalu ingin diperhatikan dan semua keinginanmu harus aku penuhi sementara kau sama sekali tidak peduli dengan perasaanku Mama."


Wajah Gisele langsung suka mendengar perlawanan yang diberikan oleh anaknya. Baru kali ini Julia berani melawannya dan itu benar-benar membuatnya sangat marah.


"Julia? Apa yang sudah kamu lakukan? Bahkan kau sekarang berani melawan ibumu sendiri? Kamu tahu apa yang kamu ucapkan itu Julia? Itu tidak pantas kalau antarkan kepada ibu kandung mu sendiri."


Julia menghilang nafas panjang dan lagi-lagi yang selalu di mata ibunya.


"Maaf."


_________


Alaska bukannya datang malah mengajari Julia cara teknik melukis, akan tetapi ia datang malas untuk diintrogasi oleh Gisel. Julia sangat marah kepada ibunya yang tidak memiliki sopan santun sama sekali itu. Julia merasa jadi tidak enak kepada Alaska.


Julia yang sudah muak dengan mamanya lantas menghampiri perempuan itu dan lalu kemudian menarik tangan Alaska agar menjauh dari sang ibu.


"Ma cukup! Dia mau mengajari Julia bukan mengenai hal yang aneh-aneh. Kenapa aku terlalu penakut. Biarkan aku memilih sendiri. Aku tidak ingin dikekang," karya Julia dengan benua amarah yang sangat mendalam.


"Julia ini demi kebaikanmu!"


"Tidak ini demi memenuhi keegoisan mu Mama!"


Alaska yang berada di tengah-tengah tersebut lantas menggenggam tangan Julia memberikan kode kepada wanita itu jangan terlalu berlebihan melawan ibunya. Julia mengerti dengan kode tersebut dan hanya bisa menarik nafas panjang lalu kemudian meninggalkan ruangan tersebut dengan perasaan yang marah.


"Kau tahu kenapa dia bisa seperti itu?"


Alaska hendak menjawab akan tetapi didahului oleh Julian. "Ini semua karena Mama. Kalau mama tidak menjadikannya robot hidup, dia tidak akan seperti ini kepadamu."


Julian pun turut pergi dan meninggalkan Alaska di ruangan itu sendirian. Seringkali yang mengira jika anak orang kaya adalah orang yang paling bahagia. Tapi siapa sangka jika orang kaya memiliki seribu maslah tidak jauh berbeda dengan orang susah. Hal itu mematahkan persepsi Alaska selama ini.


"Ternyata aku salah. Mereka semua tidak bahagia seperti yang aku pikirkan," ucap Alaska dalam hati.


"Kau pulanglah dulu. Besok kau baru datang ke sini untuk mengajari Julia. Julia sudah memberikanmu gaji?" tanya Gisel kepada pria itu.


Alaska terkejut ketika mendengar penawaran dari Gisel. Apalagi yang melihat Gisel mengeluarkan uang segopok.


"Ini uang tambahan buat mu. Asal Julia senang aku juga ikut senang. Sepertinya aku sudah sangat bersalah kepadanya. Ajari dia dengan baik."


Alaska hanya mengangguk dan menatap ke arah tangga di mana di balik situ lah Julia menghilang.


"Tante kau harus memperhatikan kesehatan anakmu seperti apa. Apalagi Julia tidak terlalu sehat dan imannya lemah."


Gisel menganggukkan kepalanya. Ia sudah tahu apa yang terjadi, jadi ia merasa sudah sangat keterlaluan kepada Julia. Maka dari itu ia ingin menebus kesalahan yang telah ia perbuat kepada wanita itu dengan membiarkan Julia melakukan apapun yang ia senangi.


Ada rasa tidak tega di hati Gisel walupun sebenarnya wanita itu sangat merasa gengsi dan tidak ingin disalahkan oleh siapapun. Tapi pada kenyatannya di sini ia memang sangat keterlaluan kepada Julia.


Apalagi setelah ia mendengar berita Julia yang membuatnya benar-benar merasa sakit hati.


"Aku harap kau dapat bahagia Julia. Aku adalah wanita dan kau adalah anak ku. Aku tahu sudah keterlaluan," ucapnya dalam hati dan menatap ke arah Alaska.


"Terima kasih sudah peduli," ucap Gisel.


________


TBC JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.