
Alaska menarik napas panjang. Dari tadi tatapannya terus saja terfokus kepada Julia yang tampaknya sangat sefrekuensi dengan ibunya. Jika begitu maka ia akan sulit untuk mengusir Julia dari sini. Bukan bermaksud jahat, tapi ia tahu jika Julia adalah anak orang kaya dan tidak pantas berada di sini. Apalagi dengan sikap Julia yang sedikit sembrono pasti ia tak merasa nyaman di rumah ini.
"Mama, lebih baik Mama beristirahat terlebih dahulu. Ada yang ingin aku bicarakan dengan temanku."
Lela pun memandang ke arah Alaska. Ia menatap juga ke arah Julia dan tampaknya memang ia harus pergi dan membiarkan anaknya berdua dengan Julia.
"Baiklah Mama akan meninggalkan kalian di sini. Alaska, kamu jaga teman kamu."
"Ya."
Sang ibu masuk ke dalam kamar dan tinggallah Julia bersama dengan Alaska. Julia menunggu pria itu mengatakan sesuatu sembari dadanya berdegup dengan kencang takut Alaska akan memarahinya.
"Kenapa kau bisa ada di sini dan sampai mengikuti ku?"
"Maafkan aku." Julia memandang ke arah Alaska dengan tatapan tajam. "Aku tidak ingin bermaksud jahat."
Setelah dari pengamatannya beberapa hari dengan cara mengintip pria itu dia pun tiba-tiba merasa tersentuh dengan kehidupan Alaska. Selain itu ia juga mengagumi bakat Alaska maka dari itu Julia hanya bermaksud ingin berteman dengan Alaska dan juga belajar dengan pria itu.
"Boleh aku berteman dengan mu?'' tanya Julia dengan penuh permohonan dan tampak di wajahnya dia benar-benar berharap bisa menjadi teman Alaska.
Sementara Alaska tidak semudah itu menerima teman baru di hidupnya. Apalagi orang ini adalah Julia yang bermulut pedas. Meskipun Julia adalah kembarannya Julian tapi dia tidak semudah itu menjadi teman untuk Julia.
"Lebih baik kau pulang saja," ucap Alaska yang terang-terangan ingin mengusir Julia.
Julia mengerutkan wajahnya dan juga pandangannya tertunduk. Ia meremas tangannya dan tak menyangka jika akan diusir oleh laki-laki tersebut. Julia pun menarik napas panjang dan lalu kemudian menatap ke arah Alaska dengan sangat serius.
"Tidak bisa kah mau mempertimbangkan lagi agar aku bisa menjadi temanmu?" tanya Julia penuh mohon. "Aku juga ingin diajarkan dengan mu. Kau berteman dengan Kakak ku, tapi kenapa kau tak ingin berteman dengan ku?"
"Pergilah, itu bukan urusan mu."
Julia pun menghela napas panjang dan lama kemudian tak disangka air matanya luruh begitu saja. Perempuan itu juga menyunggingkan senyum palsu di bibir tipisnya.
"Aku mo..."
"Dengan satu syarat, jika kau bisa memenuhinya maka kau akan menjadi temanku dan aku akan mengajarkan mu." Alaska terpaksa memberikan sebuah syarat agar Julia bisa berhenti mengikutinya.
Wajah Julia pun berubah jadi sangat bahagia. Ia melebarkan senyumnya dan tak sabar ingin mendengar beberapa syarat yang diberikan oleh Alaska agar ia bisa menjadi teman dari laki-laki tersebut.
"Apa syaratnya? Aku pasti bisa memenuhi semua syarat itu."
Alaska pun menarik napas panjang. Dia memandang ke arah Julia dengan sangat serius. Lagi pula di sini dirinya juga dipertaruhkan.
"Jika ketika ulangan nanti kau bisa menggungguli ku di semua bidang mata pelajaran maka kau bisa berteman denganku."
Julia pun langsung terdiam saat mendengar syarat yang sangat sulit tersebut. Dengan kemampuan Alaska yang seperti itu apakah ia bisa mengungguli Alaska di semua mata pelajaran?
Tampak ada keragu-raguan di wajah Julia. Dia menggigit bibirnya dan melirik ke arah Alaska dengan tatapan gelisah.
"Kenapa? Kau tidak bisa? Itu bagus."
"Baiklah. Aku akan memenuhi tantangan mu," ucap Julia dengan sangat berani. Hal itu sangat tidak terduga bagi Alaska.
_________
Belum ulangan tengah semester, akan tetapi rasanya Julia hampir sudah menyerah. Di saat latihan, nilaiannya selalu saja kalah dengan Alaska. Jadi bagaimana bisa pada saat ulangan nanti dia bisa mengalahkan pria itu di semua mata pelajaran.
Tampaknya Julia sudah sangat menyerah. Hari-harinya dipenuhi dengan belajar. Bahkan buku tak pernah lepas dari tangannya, tapi masih juga tak bisa mengungguli Alaska.
Julian dari tadi memperhatikan adiknya yang tengah bersedih. Julian melirik ke arah Alaska yang tampak biasa saja.
"Tidak semuanya harus sempurna," ucap Julian yang ingin menenangkan Julia tanpa tahu tantangan dari Alaska untuk adiknya.
Tentu saja mendengar hal tersebut Julia sangat marah. Ia menatap nyalang ke arah kakaknya tersebut.
"Bagaimana jika aku mengatakan Jika semuanya harus sempurna?"
Sejujurnya Julian juga tidak tega melihat Julia yang selalu bekerja keras dan belajar tanpa henti dan sampai kekurangan tidur.
"Julia, kau juga harus memikirkan kesehatanmu. Kau jangan terlalu berambisi lebih dari dia."
"Dimalah," ucap Julia ketus dan lalu kemudian menarik napas panjang.
Julian pun menghampiri Alaska dan kemudian menatap ke arah laki-laki itu dengan sangat serius. Ia mengambil nilai latihan Alaska dan mengamatinya dengan seksama.
"Apakah kau sama sekali mengalah sebentar saja dari adikku?"
"Nilai tidak seperti itu. Aku tak boleh mengalah. Apalagi aku hanya penerima beasiswa di sini."
Tampak di wajah Julian sangat khawatir. Dia pun berusaha menenangkan diri dengan menarik napas panjang dan lalu kemudian menepuk pundak sahabatnya itu beberapa kali.
Julia yang melihat kedekatan kembarannya dengan Alaska pun merasa sangat iri. Padahal dia juga sangat ingin berteman dengan Alaska.
_____________
Tatapan Julian terarah kepada adiknya yang saat ini adiknya itu terus saja belajar dan tidak ingin diganggu. Julian menatap ke arah jam tangannya dan hari sudah pukul 01.00 pagi.
Julian menarik napas panjang dan kemudian menghampiri sang adik yang tiba-tiba tertidur. Lalu kemudian ia pun mengangkat tubuh adiknya dan meletakkan tubuh ringkih itu kata sandang dan menyelimutinya.
Julia terus belajar belakangan ini sebab beberapa hari lagi akan diadakan ulangan tengah semester. Julian pun menghampiri meja Julia dan kemudian menutup buku kembarannya tersebut yang masih berantakan di atas meja.
"Kau ingin mengalahkan orang yang sudah jelas lebih hebat dari mu. Konyol sekali"
Bukan hanya Julia, dia juga merasa kagum dengan kehebatan Alaska. Akan tetapi Julian tidak berambisi ingin mengalahkan Alaska walaupun sejujurnya ia bisa saja sebab bisa dikatakan Julian adalah anak yang pintar tapi laki-laki itu sangat malas.
Julian keluar dari dalam kamar Julia dan menuju ke dalam kamarnya.
Sedangkan di rumah Alaska, pria itu baru saja pulang dari bekerja membantu ayahnya. Ia membersihkan tubuhnya dan lalu kemudian masuk ke dalam kamarnya.
Begitulah hari-harinya, dan tidak ada kesempatan untuk ia belajar. Sembari menunggu jam 2 ia pun mengerjakan tugas yang belum sempat diselesaikan olehnya tadi.
Alaska teringat dengan taruhan yang dilakukannya dengan Julia. Tapi ia tak peduli dengan taruhan tersebut dan menurutnya wanita itu juga tidak penting untuknya.
Alaska menatap tugas yang sudah selesai dikerjakan olehnya dan lalu kemudian memasukkannya ke dalam tas.
_______
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.