Alaska

Alaska
Part 20



Setelah melewati banyak perbincangan akhirnya Julia bisa berbicara berdua dengan Alaska. Saat ini mereka tengah duduk berdua dalam keadaan yang sangat canggung. Tidak ada di antara keduanya yang mau membuka pembicaraan sama sekali karena bingung akan memulainya dari mana.


"Julia/Alaska!" seru mereka bersamaan. Tentu saja pada saat mendengar hal tersebut membuat mereka terkejut.


Alhasil keduanya saling menatap dan lalu kemudian menundukkan kepala seakan-akan mempersilakan satu sama lain untuk memulai pembicaraan lebih dulu.


Tapi tetap saja tidak ada yang ingin mendahului memulai pembicaraan tersebut. Hingga akhirnya Julia pun muak dan menatap Alaska dengan pandangan yang cukup serius.


"Kenapa kau tidak ingin menghubungiku dan memberitahuku jika orang tuamu dirawat di rumah sakit? Kau pikir aku ini siapa? Bukannya kau sudah berjanji ingin menjadi kakakku? Kenapa kau belum melakukan hal tersebut?" Alaska terdiam saat dicarica oleh Julia.


Ia tahu memang ini salahnya. Laki-laki itu juga enggan untuk berbicara. Dari tadi ia terus mengatup mulutnya ada dan tida mau memulai pembicaraan. Tapi karena terus didesak oleh Julia akhirnya ia sudah tak tahan dengan wanita tersebut dan lalu mengungkapkan isi hatinya.


"Julia. Bukan maksudku melupakanmu. Aku melakukan itu tentu ada sebabnya, kau jangan dengan mudah menyimpulkan hal-hal yang tidak tidak. Tapi yang pasti aku melakukan ini karena aku tidak sempat untuk memegang ponsel serta aku tidak ingin membuatmu khawatir. Ini adalah masalahku Jadi kau tidak perlu membantuku." Julia meraih tangan Alaska dan lalu menggenggamnya. Perempuan tersebut memandang ke arah Alaska dengan pandangan yang sangat tulus.


"Alaska, justru apa yang kau lakukan telah membuat kami khawatir. Tidaknya kau beri keterangan bahkan absenmu juga ditulis A. Bagaimana tidak aku sebagai adikmu merasa tidak khawatir. Kita adalah teman bukan? Kau juga pasti banyak ketinggalan pelajaran. Andai saja kau mengatakan jika kau mendapatkan masalah aku pasti akan mengirimkan materi setiap hari yang telah kita pelajari di sekolah." Dalam hati Alaska hanya bisa tersenyum menatap ke arah wanita itu. Sebenarnya iya bahkan telah mengerti semua isi buku tersebut tanpa harus ia belajar.


Alaska yang tampak santai saja berbeda dengan dirinya yang benar-benar sangat merasa khawatir membuat Julia semakin merasa kesal. Apalagi pria itu sempat-sempatnya tertawa membuat Julia benar-benar geram. Tidak bisakah dia menghargai dirinya sendiri dan juga Julia.


"Kenapa kau malah tertawa. Aku sedang menasehatimu bukannya mendengarkan kau malah menertawakanku. Apakah ini adab terhadap orang lain?" Alaska semakin tersenyum dan bahkan menampakan giginya yang berjajar rapi. Lalu ia menarik tangannya yang digenggam Julia dan kemudian meletakkannya di kepala wanita itu.


Julia bengong sesaat ketika Alaska melakukannya secara tiba-tiba. Kemudian Alaska pun menggerakkan tangannya seperti dengan mengusap kepala perempuan tersebut.


"Kau memang orang yang hebat Julia. Terima kasih atas perhatianmu. Tapi sayangnya kau sepertinya lupa siapa aku, aku lebih hebat darimu. Tanpa Aku belajar di sekolah pun aku sudah hafal dengan materi yang ada di dalam buku tersebut dan dapat menjelaskannya lebih darimu. Yang harus banyak belajar lagi itu adalah kau," sombong Alaska membuat Julia benar-benar merasa kagum dan sekaligus marah yang sangat dalam.


"Dasar sombong."


"Tapi itu kenyataan," ucap Alaska seraya tertawa lepas saat melihat wajah Julia yang benar-benar lucu ketika ia sedang marah.


"Terserah."


__________


Merasakan benda padat tersebut berada di tangannya langsung melihatnya. Ia sangat terkejut melihat banyaknya uang yang berada di tangannya. Kemudian Lela menatap ke arah Julia dengan tatapan tak percaya.


"Julia apa ini? Ambilah. Aku tidak menginginkannya. Kau bisa menggunakannya untuk keperluanmu sendiri bukan untuk diriku yang sedang sakit-sakitan ini. Kami juga memiliki uang Julia."


Julia menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan. Ia pikir dengan memberikannya kepada Lela tidak akan ditolak oleh wanita itu.


"Ambil saja. Ini biaya pengobatan mu," ucap Julia dengan senyum yang sangat lebar.


"Kau?"


"Tidak apa-apa. Ambil saja," ucap Julia dengan sangat tulus.


"Kau sangat baik. Terima kasih Nak, semoga Tuhan membalas kebaikan mu ini. Aku benar-benar tidak tahu mau mengatakan apa. Kau adalah orang yang sangat baik." Julia menganggukkan kepalanya. Ia merasa senang jika melihat orang yang lemah darinya juga turut merasa bahagia.


"Semoga kau lekas sembuh."


"Aamiin." Satu hal yang sangat menonjol di dalam pikiran Lela yang ingin ditanyakannya dari tadi, "Julia apakah kau dan Julian itu adalah saudara? Kalian benar-benar terlihat sangat mirip."


Julia pun tertawa karena lupa memberitahu yang sebenarnya. Perempuan tersebut melakukan kepalanya dan mengejutkan Lela.


"Oh Tuhan, kebaikan apa yang telah dilakukan oleh Alaska dia bertemu dengan dua orang yang sangat baik kepadanya. Sama sepertimu Julia, Julian juga sering membantu orang yang susah. Bahkan pria itulah yang membantu Alaska untuk sekolah di sekolah barunya sekarang. Aku benar-benar berterima kasih kepada kalian. Ibu seperti apa yang telah membesarkan kalian dan mengajarkan kalian hingga seperti ini."


Julia hanya terdiam mendengar ucapan lelah yang sangat optimis bahwa ibunya adalah orang yang baik. Justru malah kebaikannya ibunya susah untuk mempercayai orang lain apalagi orang dengan kasta di bawah mereka.


________


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.