
Entah kenapa perasaan Julian menjadi sangat canggung setelah melihat kedua orang terdekatnya tampak semakin hari seperti pasangan. Tapi tentu saja mereka bukalah pasangan yang sesungguhnya dan itu hanyalah sebuah persangka Julian.
Julian bak menjadi seekor nyamuk di antara mereka berdua. Dan karena hal itu pulalah ia membenci keduanya karena telah mengabaikan dirinya di sini sendirian. Bagaimana tidak, bahkan ketika ia ingin ikut bergabung pun Julia langsung melarang dirinya dan membuat dirinya seolah-olah menjadi orang yang paling hina.
"Kau bener-bener keterlaluan, aku hanya ingin melihatmu melukis. Kenapa kau seperti itu kepada kakak mu sendiri? Ingat aku ini adalah kembaranmu, lagipula lukisan mu itu jelek," ucap Julian meyakinkan Julia yang tengah menatap ke arah dirinya penuh akan tatapan tajam.
Ia pun sudah merasa muak karena tahu apa ujung-ujungnya yang akan dikatakan oleh Julia. Pasti perempuan itu akan melarang dirinya dan tak boleh bergabung dengan mereka. Padahal di sini Ia juga ada kenapa seolah-olah dianggap tidak ada. Julian memandang ke arah Alaska ingin melihat rupa pria itu setelah menjadi guru resmi Julia. Parahnya sahabatnya itu tidak pernah membelanya dan lebih condong kepada Julia.
"Ck, aku berpikir kenapa tidak ada orang sama sekali di sini yang peduli denganku. Padahal aku juga ada di sini tapi kenapa kalian selalu mengabaikan ku. Kau juga Alaska, Aku ingin muntah rasanya melihat wajahmu yang berbeda dengan yang dulu. Bahkan dulu kau tak pernah peduli dengan adikku. Tapi sekarang kenapa kau begitu dekat dengannya?"
Alaska pun memandang ke arah Julian dengan tatapan penuh rasa bersalah. Ia paham dengan laki-laki tersebut yang tentu saja ingin bergabung namun sangat disayangkan ia sudah berjanji kepada Julia agar mengabaikan Julian. Alaska memandang ke arah Julia dan wanita itu hanya bersikap jutek kepadanya membuatnya tak berdaya untuk berada di pihak Julian.
Julian yang sekilas melihat interaksi tersebut langsung paham dengan kondisi sebenarnya. Pria itu menarik napas panjang dan lalu kemudian memandang ke arah Julia dengan pandangan menyipit.
"Rupanya kau dalangnya. Kau telah mempengaruhi otak polos Alaska. Ketika dia menjadi temanku dia tidak pernah bersikap seperti ini. Ini jelas sekali Jika kau pembawa dampak buruk baginya."
"Kau!" teriak Julia yang tidak terima tapi langsung terdiam ketika ia menyadari Jika Itu memang pengaruh dari dirinya. "Biarin."
"Apa yang dikatakan oleh Julian itu benar Julia. Kau harus belajar lebih dewasa lagi dan tidak membuat masalah kecil menjadi besar. Apalagi Julian sangat menyayangimu. Hanya saja kau yang buta dengan kasih sayang yang sangat jelas di matanya."
Mendengar penuturan itu tentu saja membuat Julia merasa sangat emosi. Kenapa dalam sekejap Alaska langsung berpihak kepada Julian.
"Kau juga sama seperti Julian."
"Kau harus tahu jika kau sedang kekanak-kanakan," ucap Julian untuk menyadarkan sang adiknya tersebut yang enggan untuk sadar dengan apa yang telah Ia perbuat.
Akhirnya Julia pun mengakui kekalahannya di sini dan kemudian dia tersenyum ke arah Julian dan memeluk tubuh kembarannya tersebut. Sudah cukup lama ia tidak merasakan pelukan hangat dari sang kakak seperti ini. Julian sendiri tak menyangka bahwa Julia akan melakukan hal itu kepadanya.
"Kenapa kau berubah menjadi sangat manja seperti ini? Ini bukan seperti dirimu. Tapi bagus juga," ucap Julian sembari mengusap kepala sang adik.
___________
Alaska menatap Julia yang sudah sangat kelelahan setelah mengerjakan tugas-tugas sekolah yang sangat banyak. Wanita itu setelah selesai melukis langsung mengerjakan tugas-tugas sekolah yang membuatnya merasa sangat pening. Maka dari itu ia menahan Alaska di sini untuk membantunya mengerjakan semua tugas-tugas tersebut agar bebannya sedikit ringan.
Julia merenggangkan tubuhnya yang terasa otot-ototnya cukup kencang. Bahkan terdengar bunyi retakan dari tubuhnya akibat dari tulangnya yang tergeser. Namun sangat merasa nyaman setelah dilakukan seperti itu.
"Hari ini banyak sekali tugasnya. Entahlah, tapi aku merasa hari ini juga cukup melelahkan dibandingkan dengan hari-hari lainnya. Apakah kau juga merasakan hal yang sama?" tanya Julia kepada pria itu seraya memperbaiki poninya yang menutupi matanya.
"Ku rasa tidak sama dengan mu."
"Kau sama sekali tidak seperti Julian. Aku cukup beruntung dekat denganmu dan kau seperti Abang yang baik untukku tidak seperti laki-laki itu."
Seketika itu juga Alaska langsung tersadar dan memandang ke arah Julia dengan sangat terkejut. Namun alih-alih ingin membalas ucapan wanita itu malah ia terpana dengan kecantikan Julia. Entah kenapa ada desiran di dadanya dan hal tersebut membuatnya tidak bisa tenang dan wajahnya memerah. Laki-laki tersebut pun berusaha untuk tenang semaksimal mungkin dan menjauhkan jaraknya sedikit dari Julia.
Julia yang tidak paham dengan apa yang telah dilakukan oleh Alaska tentu saja akan merasa salah paham kepada pria itu. Terlihat dari wajah Julia yang langsung terkejut dan berubah menjadi penuh kesedihan.
"Kenapa kau melakukan itu? Apakah kau tidak ingin menjadi kakakku?"
Alaska menarik napas panjang dan Kemudian tersenyum ke arah wanita itu untuk membuktikan bahwa ia baik-baik saja di depan wanita tersebut.
"Tidak apa-apa Julia. Hanya saja aku merasa telah lancang melakukan itu kepadamu. Kau adalah murid ku dan kita hanya sebatas itu walaupun aku juga akan menjadi kakakmu. Tapi tampaknya apa yang telah kulakukan sangat lancang."
Julia pun menghela napas dan lalu kemudian tertawa membuat Alaska merasa tidak mengerti dengan apa yang telah dilakukan oleh Julia. Laki-laki itu bertanya-tanya dan dilihatnya Julia memandang dengan senyuman yang tak pernah luntur dari wajahnya.
"Kau pasti sangat canggung, kan? Tenang saja dan anggap aku sebagai adik kandung mu. Lagi pula hubungan ini cukup seru, kan?"
"Kau benar."
Julia pun menutup semua buku-buku belajarnya dan menyusunnya dengan rapi. Lalu perempuan itu beranjak dari kursinya dan membawa Alaska keluar dari dalam kamarnya. Laki-laki itu kemudian mengikuti Julia dari belakang.
Julia tahu bahwa Alaska dari tadi hendak pulang. Namun sebelum melepaskan kepergian Alaska, wanita tersebut menyerahkan beberapa lembar uang.
"Apa ini?"
Julia tahu jika mengatakan uang itu untuk Alaska pasti pria itu tak akan menerimanya. Maka dari itu ia pun beralibi bahwa uang tersebut untuk ibu Alaska.
"Uang ini buat orang tua mu jangan menolak." Alaska benar-benar ditutup akses penolakannya oleh Julia.
_________
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.