Alaska

Alaska
Part 6



Julian menghampiri orang yang telah berhasil mengalahkan adiknya tersebut. Ia pun duduk di sebelah pria itu dan menyerahkan jajanan yang ada pada tangannya ke Alaska. Alaska hanya mengambil sedikit jajanan itu dan menyerahkannya kembali pada Julian.


"Alaska? Nama yang bagus, kau hebat juga bisa menandingi kembaran ku."


"Oh," ucap Alaska santai dan melanjutkan mengerjakan tugas.


"Aku dengar dari adik kau kau sama sekali tidak belajar tapi kau cukup hebat juga," ucap Julian yang sejujurnya selain Julia ia juga merasa sangat penasaran dengan kehebatan Alaska.


"Hm," ucapnya dengan santai dan juga sangat padat.


Hal itu cukup mengejutkan Julian, ternyata benar pria ini memang sukar untuk didekati. Julian menarik napas panjang dan lalu menepuk pundak Alaska beberapa kali.


"Ah santai saja, aku bisa menjadi teman baikmu." Alaska hanya tertawa mendengar celotehan Julian.


Ia pun berhenti belajar dan memandang serius ke arah Julian. Julian pun menyeringai melihat tatapan yang dilemparkan oleh pria itu.


"Apakah kita akan berkenalan lagi? Bukankah kita sudah menjadi teman sejak lama? Aku berterimakasih karena kau membantu ayah ku mendapatkan pekerjaan. Hanya saja aku tak menyangka jika dia adalah adik mu," ucap Alaska yang memang sebenarnya ia dan Julian sudah kenal sejak lama.


Julian lah yang membantu Alaska agar bisa sekolah di sini dan mendapatkan beasiswa. Karena dulu Alaska pernah menolongnya dan hingga mereka pun menjadi teman dan Julian ingin membalas kebaikan Alaska.


"Dia memang sedikit berisik, kau abaikan saja," ucap Julian kepada pria itu.


Alaska hanya mengangguk dan kemudian ia pun lanjut belajar. Sedangkan Julian merasa jika dirinya sangat berbeda dengan Alaska sebab ia adalah tipe pria yang tidak menyukai pelajaran. Sebenarnya Alaska pun memiliki sifat yang sama, hanya saja pria itu lebih pintar dari Julia sehingga ia bisa mengalahkan adiknya. Maka dari itu Julian pun merasa heran kenapa Alaska bisa sepintar itu.


"Apakah kau masih tak ingin mengatakan apa apa yang membuat mu sepintar ini? Jujur saja aku merasa heran."


"Mungkin sudah menjadi takdirnya, kenapa kau jadi sangat cerewet seperti ini? Apakah kau ingin seperti adikmu?"


Sontak saja Julian membulatkan matanya dan menggelengkan kepalanya. Sampai kapanpun ia tak akan bersikap seperti sang adik. Sebab ia tahu betul sifat Julia itu benar-benar menjengkelkan.


"Kau sendiri tahu jika dia sangat menjengkelkan, bagaimana bisa aku bangga memiliki sifat sama sepertinya."


Alaska hanya terkekeh mendengar kalimat yang diberikan oleh Julian. Ia sering mendengar nama Julia dari Julian, karena Julian kerap kali menceritakan wanita itu kepada Alaska. Dan kali ini ia benar-benar bertemu dengan adiknya Julian, dan ia menganggap jika adiknya Julian sungguh memang tidak cocok untuk dekat dengannya.


Sementara itu Julia yang sedang mencari kakaknya tak sengaja menemukan pria itu di parkiran sembari menemani Alaska yang sedang mengerjakan tugas. Julia membulatkan matanya melihat kedekatan pria itu. Sejak kapan Julian bisa berteman dengan Alaska? Kenapa ia tidak tahu.


"Julian? Alaska?" heran Julia dan menghampiri mereka berdua.


Alaska mendengar suara wanita itu lantas beranjak dan langsung merapikan buku-bukunya ke dalam tas lalu kemudian pergi mengambil sepedanya yang terparkir.


Julia yang melihat itu langsung tercengang dan melirik ke arah Julian. Tampaknya Julian juga tidak ingin mengatakan apapun kepadanya.


"Kak pulanglah lebih dulu, aku masih ada urusan."


Urusan Julia adalah ia ingin menguntit pria itu.


__________


Pemandangan tersebut cukup mengharukan. Sepertinya Alaska juga tidak menyadari bahwa Julia mengikutinya dari belakang.


Alaska melajukan kembali sepedanya. Julia juga turut mengikuti pria tersebut. Hingga pada akhirnya ia masuk ke dalam sebuah gang kecil dan sangat sempit. Julia terus menjaga jarak dengan Alaska agar tak ketahuan oleh laki-laki itu.


Jujur saja ini adalah hal ternekat yang pernah dilakukannya. Tidak apa-apa, ini semua demi ia bisa mengetahui rahasia kepintaran Alaska. Sudah beberapa hari ini ia terus menguntit pria itu. Namun pada hari inilah ia melancarkan aksinya untuk mengutip pria tersebut sampai ke rumahnya.


Julia terkejut melihat rumah Alaska yang tampak seperti sebuah gubuk. Ia tak menyangka jika Alaska dan keluarganya tinggal di tempat yang seperti ini. Niat ingin mengetahui rahasia Alaska malah dirinya yang merasa sedih dengan kondisi keluarga Alaska.


Saat di luar pun ia mendengar bahwa orang tua Alaska sedang kesusahan ekonomi dan ibunya sakit-sakitan. Julia melihat bagaimana Alaska memberikan perhatian penuh kepada orang tuanya. Ia benar-benar seperti seorang laki-laki idaman.


Semua perhatian yang diberikan oleh Alaska menyentuh perasaan Julia. Ia pun jadi betah memperhatikan pria itu dari lobang-lobang kecil di luar rumahnya.


"Neng?!" sapa warga di sana yang heran melihat gerak-gerik Julia yang mencurigakan.


Bak seperti ketangkap basah, Julia langsung membalikkan tubuhnya dan melemparkan senyum canggung ke arah ibu-ibu yang sedang menghampirinya. Dalam situasi ini benar-benar membuat Julia kebingungan. Wanita itu menggaruk kepalanya sembari terkekeh pelan.


"Eh, ada apa ya Buk?"


"Neng yang ada apa? Kenapa mengintip diam-diam? Pencuri yah?"


Dituduh seperti itu sontak membuat Julia panik. Ia menggelengkan kepalanya dan memberikan isyarat bahwa dirinya bukanlah pencuri. Bagaimana mungkin ia menjadi seorang pencuri, namun dipikir-pikir lagi aksi yang telah ia lakukan tadi memang sangat mencurigakan dan bisa menimbulkan fitnah.


Mendengar keributan di luar, Alaska bersama ibunya pergi keluar. Yang paling terkejut adalah Alaska karena melihat Julia yang ada di depan rumahnya. Terlebih lagi ia melihat jika wanita itu dalam keadaan kalang kabut serta memberikan penjelasan kepada para warga yang sudah berkumpul di depan rumahnya.


Alaska yang melihat wanita itu yang tampak sudah sangat menyerah dengan keadaan tersebut, lantas memberikan pembelaan kepada Julia.


"Maaf ibu-ibu dia bukan pencuri tapi teman saya sekolah."


Mendapatkan klarifikasi dari Alaska, para warga yang berkumpul pun lantas membubarkan diri. Sedangkan orang tua Alaska terpana melihat Julia yang tampil sangat elegan dan juga sangat cantik. Ia melirik ke arah Alaska dan sangat bangga anaknya akhirnya bisa bersosialisasi.


"Temen kamu yah? Silakan masuk Neng," ungkap Ibunya Alaksa dengan semangat.


Julia masih dalam keadaan terkejut. Dia melirik ke arah Alaska. Tapi Alaska juga tengah menatap dirinya dengan pandangan tajam. Julia pun merasa sangat bersalah kepada pria itu.


"Maafkan aku, aku bisa menjelaskannya."


"Jelaskan saja di dalam, Mama sedang menunggu mu. Jangan membuat Mama sedih."


Setelah mengucapkannya Alaska masuk ke dalam rumah begitu saja. Julia yang sudah merasa bersalah dan tak tahu akan melakukan apapun turut membuntuti pria itu dari belakang.


________


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.