
Gaji yang diberikan oleh Julia lumayan jadi Alaska mendapat bantuan ekonomi dari Julia. Setiap hari Alaska datang ke rumah wanita itu untuk mengajarinya dasar-dasar melukis. Julian sendiri hanya menatap mereka berdua dari sofa. Ia melihat keduanya benar-benar dekat dan bahkan membuatnya iri.
Julian pun mendekati mereka dan duduk di tengah-tengah Alaska dan Julia. Tentu saja aksi tiba-tiba Julian tersebut membuat lukisan yang tengah dilukis oleh Julia itu tak sengaja belepotan dan rusak. Tangan Julia pun mengepal dan menatap nyalang ke arah kembarannya itu.
Alaska yang melihat betapa kesalnya Julia, hanya bisa tertawa kecil. Memang sedikit menyesalkan jika diganggu oleh orang lain pada saat kita tengah fokus.
"JULIAN KAM...VRET!!" teriak Julia dan lalu kemudian dengan sangat kesal mencoretkan kuas cat tersebut ke wajah Julian sehingga wajah pria itu belepotan dengan cat.
Tidak terima dengan apa yang dilakukan oleh Julia, Julian pun hendak membalas kembaran itu. Sadar akan bahaya yang sedang mengintainya, Julia segera berlari sebelum kakaknya mencoret-coret wajahnya dengan kuas itu. Alhasil mereka pun kejar-kejaran di ruangan tersebut.
Dan di ruangan itu penuh dengan cat yang berlepotan sana-sini. Jika ada orang tua mereka pasti akan marah besar. Alaska yang tidak salah apa-apa tiba-tiba dikejar oleh Julian yang juga hendak mencoret kan kuas yang terdapat cat tersebut ke tubuh pria itu.
Sontak saja melihat hal tersebut Alaska segera berlari. Julia serta Julian tubuhnya telah dipenuhi oleh coretan cat sana-sini. Hanya dirinya sendiri yang di dalam ruangan ini yang masih rapi. Tentu saja mereka berdua merasa tidak adil dan ingin melimpahkan kekesalan mereka kepada Alaska yang tidak salah apapun itu.
Dan pada akhirnya Alaska menyerah dan membiarkan kedua kakak beradik tersebut mencoret-coret tubuhnya. Mereka bertiga penuh dengan cat saling mencoret kan ke tubuh masing-masing. Pada akhirnya mereka lupa dengan lukisan yang tengah dibuat oleh Julia.
Keduanya ngos-ngosan akibat kejar-kejaran. Tidak ada kondisi yang baik di antara mereka bertiga. Ketiganya penuh akan cat sehingga membuat penampilan mereka sangat terlihat lucu. Julia menertawakan Julian dan Alaska tanpa tahu jika penampilannya lebih mengerikan dari mereka berdua.
"Jika sudah seperti ini bagaimana untuk membersihkan cat ini? Pasti membutuhkan waktu yang cukup lama. Tidak mungkin kan kita sekolah besok dengan kondisi tubuh yang seperti ini."
Akhirnya mereka bertiga sadar dengan kesalahan tersebut. Menghilangkan cat dari tubuh bukanlah sebuah perkara yang mudah.
"Jadi kita harus bagaimana?"
"Mandi saja terlebih dahulu. Kebetulan ada sabun yang bisa menghilangkan kotoran hingga cat kamar mandi ku. Alaska kau mandi di sini saja dan pakai bajuku terlebih dahulu."
"Di mana kamar mandinya?"
"Ikut aku."
Tinggallah Julia di sini sendirian. Lantas bagaimana dengan nasibnya? Sementara sabun itu hanya ada di kamar Julian dan ia tak memiliki sabun seperti itu. Wanita itu mendesis marah kepada kembarannya tersebut yang meninggalkan dirinya seorang.
"Julian jadi aku bagaimana? Aku tidak ada sabun nya."
"Ikut saja, nanti kau ambil sebagian sabun ku. Jadi jangan marah-marah lagi kaya nenek lampir," sindir Julian yang bermulut pedas kepada adiknya itu.
Julia menarik nafas panjang melalui kemudian mengacak rambutnya frustasi.
__________
Penampilan mereka bertiga lebih segar dari pada sebelumnya. Alaska hendak pulang dan saat ini ia tengah mengenakan pakaian yang diberikan oleh Julian. Sedangkan hari sudah sangat larut yang membuatnya harus cepat-cepat pulang ke rumah.
"Julian, bawa dia masuk ke dalam kamarnya. Sepertinya dia sangat lelah sekali."
"Aku tahu," ucap Julian dan lalu kemudian menepuk pundak Alaska. "Aku senang kau sudah bisa menerimanya. Dulu demi berteman dengan mu dia rela sakit-sakitan untuk belajar. Kau harus membuatnya bahagia. Kita adalah sahabat, kan? Lebih baik seperti itu meskipun kau tak mengakuinya."
Alaska hanya terkekeh dan wajahnya yang biasanya datar itu tiba-tiba berubah menjadi pria yang friendly. Kebetulan sekali memang Alaska adalah tipe pria soft boy.
"Ya sekarang aku mengakuinya setelah kegigihannya untuk mengalahkan ku. Tapi aku tak akan pernah mengalah darinya," ucap Alaska yang membuat Julian menghembuskan napas lelah.
"Kenapa kau tidak ingin sama sekali mengalah dari adik ku."
"Kita tak boleh mengalah dalam hal nilai. Kau tahu sendiri orang yang tak berada dan hanya bisa mengharapkan bea siswa," ucap Alaska yang disetujui oleh Julian.
"Hem jika seperti itu maafkan aku yang terlalu memaksa mu. Ya tapi mau bagaimana lagi karena aku kasian kepadanya. Demi Julia mendapatkan pujian dari ibu aku bahkan rela berada di bawahnya. Kau tahu aku tak sebodoh itu, kan?"
Seketika Alaska menjadi sangat terharu dengan Julian. Tampaknya hati mereka benar-benar bersatu sebagai saudara kembar.
"Aku salut dengan effort mu. Kau adalah kakak yang hebat bagi Julia."
Dipuji sedemikan rupa hanya membuat Julian terkekeh dan kemudian menarik napas panjang. Julia adalah segalanya baginya. Ia hanya hidup demi adiknya.
"Ya begitulah. Jika tak ada dia aku juga merasa mati. Jadi walaupun aku sering menjahilinya tapi aku sangat menyayanginya dan tak ingin membuat dia terluka sama sekali. Aku sengaja membuatnya marah karena dia terlihat lucu."
"Baiklah. Jika begitu jaga adik mu dengan baik. Aku akan pulang terlebih dahulu. Selain itu untuk membalas kebaikan mu selama ini aku juga akan menjaga adik mu dengan baik demi mu."
Julian sedikit lega mendengarnya. Laki-laki tersebut mengangguk percaya dengan apa yang telah diucapkan oleh Alaska.
Alaska pun pulang ke rumah dan keluar dari pekarangan rumah Julian. Ia menanjak sepedanya di tengah malam buta dan untungnya ada lampu jalanan yang menerangi nya. Melihat betapa sayangnya Julian kepada Julia membuatnya merasa tidak tega.
Apalagi hal yan paling membuatnya ingin berteman dengan Julia adalah karena ia mengetahui jika Julia yang memiliki imun lemah dan ia mudah terserang penyakit. Selain itu ia sering mengalami anemia. Bisa disebut ia merasa kasihan kepada wanita itu dan memutuskan untuk menjadi teman bagi Julia.
Sedangkan di dalam rumah Julian mengangkat tubuh kembarannya tersebut ke dalam kamar dan lalu kemudian meletakkan tubuh Julia di atas ranjang dan menyelimutinya.
"Tidur yang nyenyak. Kau adalah wanita yang rapuh, aku tidak ingin kehilangan mu jadi jaga kesehatan mu dengan baik." Julian mengecup kening Julia.
_______
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.