About My Pain

About My Pain
Chapter Seventy Two



"Serius?" Tanya Rian meyakinkan cerita Maria yang memberikan Theo kesempatan.


"Ya," Jawab Maria. Tanpa disadari masa lalu yang berhubungan dengan Alfy membuat Rian menjadi temannya. Maria sangat mensyukuri disaat seperti ini ada teman yang bisa mendengarkan ceritanya.


"Ehmm... ya... itu hal yang bagus." Rian mengangguk kecil. Meskipun awalnya ia terkejut, tapi Rian bisa mengerti mengapan Maria ngambil keputusan tersebut.


"Hanya itu?" Maria tidak puas dengan balasan Rian.


"Apa lagi?" Rian bertanya balik.


"Maksudku, beri tanggapan lain." Maria memajukan sedikit bibirnya, kecewa. Sedangkan Rian menahan tawanya melihat Maria yang cemberut mirip kucing tidak diberi makan.


"Ehem.." Rian menetralkan suaranya. "Yaaah.. ku fikir itu pilihan yang benar. Siapa tahu Rion benar-benar bisa menyukai dokter Theo dan semoga nantinya hatimu juga bisa ikut terbuka." Jawab Rian sepanjang mungkin yang ia bisa.


Maria mengigit bibirnya dan dalam hati ia mengucapkan 'ya, semoga pilihanku buka pilihan yang buruk'.


"Kalau dokter Theo benar mengingkari janjinya, jangan hanya mengambil semua harta dan kebahagiannya ambil  nyawanya juga perlahan-lahan."


Plak!


Maria memukul bahu Rian yang berbicara seenak mulutnya.


"Mom, may i have a snack?" Rion keluar dari kamarnya mendekati Maria, sambil mengucek matanya.


"You are done with your home work?" Maria bangun dari duduknya, berjalan mendekati lemari tempat menyimpan makanan ringan milik Rion.


"Not yet." Jawab Rion.


"What do you want to eat?" Tanya Maria.


"Potato chips, please."


Kening Maria mengkerut melihat kelakuan Rion yang berbeda dari biasanya. "Ada apa?" Rion menjawab dengan gelengan.


Maria menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi pada putranya, ayahnya bilang kalau laki-laki berubah artinya ia sedang dalam masa pubertas. Tapi Rion masih terlalu kecil untuk mendapatkan masa itu.


Rian mengambil snack dari tangan Maria dan membuka kan bukus snack untuk Rion. "Rion udah nonton film spider man yang baru?" Tanya Rian dan dijawab dengan gelengan oleh Rion.


"Gimana kalau kita nonton?" Ajak Rian, membuat mata Rion melebar terlihat exited akan ajan Rian.


"No. Besok Rion Ujian Tengah Semester." Maria menolak ide Rian mentah-mentah dan membuat guratan kecewa muncul di wajah Rion.


"Heii! Rion bukan hanya butuh belajar untuk menghadapi ujian, tapi juga healing. Lagi pula ia sudah belajar dan pekerjaan rumah nya masih lama di kumpulkan." Ujar Rian dan langsung diangguki oleh Rion menatap Maria dengan mata berbinar.


Akhirnya Maria memberikan izin, karena tidak kuat melihat wajah Rion yang memelas dan terlihat tidak sabar mendenar jawaban diperbolehkan darinya. Yaa, anggap saja ini hiburan sebelum besok mulai ujian.


***


"Hai, Rion." Sapa Theo pada Rion.


Hari ini Theo berniat mendekatkan dirinya pada Rion dengan mengajaknya ke taman hiburan. Pagi-pagi sekali Theo sudah sampai di rumah Maria, berpakaian santai.


Rion yang baru turun dari kamarnya, tanpa menutupi rasa tidak suka menatap Theo dengan tajam. Maria yang menyaksikan perubahan wajah Rion, menghela nafas dengan berat, ia tahu ini akan terjadi.


"Rion mau jalan-jalan sama Rasya. Om papah Rasya bilang tanya mommy dulu. Rion bukan mau jalan-jalan sama om Theo." Ujar Rion.


Maria menelan ludahnya dengan susah, kemudian melirik dokter Theo untuk mendapat bantuan.


Mendapati siratan Maria, Theo ikut mendekati Rion dan berjongkok menyeimbangi tinggi Rion. "Kalau gitu, boleh om ikut?" Tanya Theo dan Rion hanya menjawab dengan anggukan, kemudian pergi ke kursinya.


Setelah sarapan pagi, Maria dan Rion pergi dengan mobil Theo. Dalam perjalanan Theo mencoba membuka obrolan dengan Rion, seperti film yang Rion tonton bersama Rian minggu lalu atau mainan apa yang Rion suka. Akan tetapi obrolan itu tidak berlangsung lama, karena Rion menjawabnya dengan singkat. Sangat jelas Rion menunjukan rasa tidak sukanya pada Theo.


Sesampainya ditaman hiburan, Theo langsung turun dari mobil, membukakan pintu untuk Rion dan membawakan tas kecil berisi baju ganti Rion, jikalau basah karena bermain.


Maria berjongkok memakaikan topi kesukaan Rion. "Let's go!" Maria memberikan sorakan semangat pada Rion, guna menghilangkan badmoodnya.


Maria berjalan menuju pintu masuk, tempat janji untuk bertemu Rasya dengan memggandeng tangan Rion dan Theo mencoba melalukan hal yang sama, tapi ditolak mentah-mentah oleh Rion. Maria hanya bisa menahan tawanya saat melihat wajah Theo yang tidak percaya akan kelakuan Rion.


Ternyata Alfy, Yunna, dan Rasya sudah sampai lebih dulu. Rasya yang melihat Rion, berlari karahnya dan memberi pelukan yang diterima hangat oleh Rion.


Jujur melihat Alfy dan Yunna membuatnya teringat akan kejadian masa lalu, akan tetapi masalalu selalu menjadi pelajaran hidup.


Senyum Maria terpatri saat bertemu dengan mata Yunna. Maria maju mendekati Yunna memberinya cipika-cipiki yang diterima dengan sangat baik. Sudah lama tidak terbesit rasa benci dihati Maria untuk wanita didepannya.


"Bagaimama kabarmu?" Tanya Maria.


"Baik sekali, bagaimana denganmu?" Yunna berbalik bertanya keadaan Maria.


"Aku juga baik."  Maria beralih pada Rasya, mengelus rambut halusnya. "How are you, Rasya?"


Rasya tersenyum dengan manisnya dan menjawab dengan riang. "Good!"


"Rion, kamu sudah pernah kesini?"


"Belum," jawab Rion, membuat Maria menyadari kalau Rion memang belum pernah ia ajak ke taman hiburan satu ini.


"Di dalam ada dinosaurus besar sekali." Rasya memberitahu dengan gerakan tangan yang menunjukan betapa besarnya dinosaurus yang ia maksud.


"Oh, ya? Dinosaurusnya hidup?" Mata Rion berbinar-binar.


"Hidup, dia bergerak. Tapi ada ikan hiu juga."


"Ikan hiunya besar juga?"


"Iya besar juga, sebesar dinosaurus."


Maria yang melihat keasikan keduanya tersenyum dan dua pria dewasa diantara mereka terpaku melihat senyum manis nya. Senyuman yang tidak lagi Alfy dapatkan dari Maria. Sejak sampai Alfy tahu Maria menghindarinya, tetapi ketika melihat keneradaan dokter Theo diantara Maria dan Rion, mata Alfy menajam persis seperti mata Rion.


Tanpa mau membuang tenaga Alfy memberi salam dan berbincang basa-basi pada Theo, ia lebih memilih berjalan ke antrian pembelian tiket. Dalam hati Alfy bekecamuk, mempertanyakan kenapa Maria membawa Theo. Apa Maria sengaja membuatnya cemburu? Atau ada hal lain yang Alfy tidak tahu, hal yang tidak Alfy inginkan.


Maria mengambil botol minum didalam tas yang digendong Theo dan memberikannya pada Rion. Rion yang mengetahui maksud ibunya, menerima dan menegak minuman itu. Rion selalu melupakan rasa haus atau laparnya ketika ia sedang asik bermain, jadi Maria selalu mengingatkan.


Setelah Alfy kembali dengan tiket yang melingkari tangan, mereka langsung masuk melalui jalur cepat. Rasya menggenggam erat tangan Rion. Maria senang melihat keduanya, akan tetapi sedikit takut kejadian dimasa depan yang bisa membuat mereka berubah.