
Sebelum masuk ke dalam cerita, aku mau ngomong...
Aku merasa di cerita aku hanya terfokus pada pemeran utama, jadi cerita ini akan menjadi panjang karena aku bakal memperlihatan bagaimana kehidupan karakter aku yang lain. Ada beberapa diantara kalian yang nanyain Yogi, Theo, Rian, bahkan laki-laki yang di pantaipun ada yang penasaran.
Jadi komen dibawah! Kehidupan siapa yang bikin kalian penasaran. Chapter selanjutnya bakal di slangi kisah tentang pemenan terbanyak yang kalian sebut di komen cerita ini.
Aku gak bisa janji update setiap hari, tapi aku bakal usahain update, dan informasi yang pasti, cerita ini akan menjadi lebih panjang.
Tungguin terus karya aku. Aku minta dukungan dari kalian, supaya mood nulis aku ada terus. Kasih aku like yang banyak, kalau chapter ini lebih dari 500 like aku bakal langsung update. 🤣
Apa lagi kalau vote dari kalian bisa buat cerita ini bisa masuk ranking 10, bahagianya aku. Kok terkesan rada nyogok ya..ðŸ¤. Jangan merasa berat yaa... kalian hanya bacapun sudah buat aku senang. Cukup kasih like aja, kasih jejak kalian yang sudah baca cerita aku.😆
Oke! Happy reading...
____________________
Setelah turun dari roller coaster karena paksaan Rion, kepala Maria seperti berputar. Maria sudah memprediksikan ini akan terjadi, tapi kenapa? Disaat dulu hal seperti ini tidak menyentuhnya sama sekali.
"Ughhmmp." Maria menutup mulutnya dengan tangan. Menahan cairan perut bercampur makan siang, yang memaksa ingin keluar.
"Mommy, payah. Masa gitu aja muntah sih." Sempat-sempatnya Rion meledek Mommynya, minta dijitak saja. Ini jugakan karena paksaan dirinya.
"Rion tunggu sini, ya? Dad_ om mau ngaterin mommy ke kamar mandi dulu." Alfy memukul bibirnya, hampir saja ia keceplosan mengatakan kata Daddy.
Alfy mendudukan Rion di kursi panjang yang tersedia. Setelah mendapat persetujuan -anggukan dari Rion.
"Ayo," Alfy merangkul Maria.
"Aku udah gak kuat, hughmp." Maria kembali menutup mulutnya.
"Tunggu sebentar," Alfy terus menggiring Maria mendekati toilet.
"Ugh~"
"Tahan!"
"Ugh~"
"Sebentar lagi,"
"Sana masuk!" Alfy mendorong punggung Maria ke dalam toilet. Mengambil alih tas kecil Maria. Tapi tali yang terbuat seperti rantai itu tersangkut kancing.
"Emmm!" Maria melotot pada Alfy, menyuruh pria itu melakukan sesuatu. Cairan muntahan sudah memenuhi mulutnya.
"Pake nyangkut segala," Alfy menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Kemudian membantu Maria melepaskan sangkutan tali tasnya, secepat mungkin. "Udah bawa aja dulu," Alfy hendak ikut ke dalam memeganggi tas Maria, tapi...
"Huek.." dorongan dalam perut tidak bisa Maria tahan.
Alfy melihat ke langit-langit. Kepalanya ikut pusing. Karena bau aneh menyerbak masuk ke hidungnya, bersama rasa basah di kemejanya.
Maria belum puas dengan muntahan pertamanya masuk ke dalam toilet melanjutkan muntahnya, meninggalkan Alfy yang membeku. "Huft," Alfy membuang nafas beratnya.
Orang-orang yang lewat sesekali melirik Alfy. Hingga Maria keluarg dari toilet dengan wajah legannya. Wajah lega itu tidak bertahan lama, melihat kemeja putih Alfy yang ternodai. Maria tidak membutuhkan waktu untuk berpikir noda apa yang mengancurkan penampilan Alfy. Maria segera mengeluarkan tisu basah yang selalu di bawa kemana-mana.
"Maaf, aku tidak sengaja." Maria membersihkan kemeja Alfy yang tentu saja tidak menghasilkan seperti sebelum kena muntahannya. "Di dekat sini ada toko sofenir. Kamu tunggu sini, biar aku beli baju buat kamu. Ya?" Alfy mengagguk pasrah. "Kamu gak marahkan? Eh, kamu boleh marah sama aku." Ujar Maria sambil sibuk membersihkan kemeja Alfy.
Alfy menarik wajah Maria, agar melihatnya. "Aku enggak marah." Alfy tersenyum menahan tawa. Pengalaman seperti ini hanya satu kali Alfy dapat dari Maria. "Cepet beli bajunya, dari tadi orang-orang ngeliatin aku. Mungkun mereka berpikir, cakep sih, tapi..."
Bugh!
Maria memukul Alfy yang dalam keadaan seperti ini tingkat kepercaya diriannya masih tinggi. "Hump.. gak lucu!"
"Gak lucu, tapi kamu nahan ketawa."
"Udah ah, kamu tunggu sini! Mau beli celana juga? Celana kamu kena juga, tuh." Maria menunjuk sedikit noda di celana Alfy.
"Gak usah, cuma dikit."
"Ya udah," Maria pergi meninggalkan Alfy.
"Nih,"
Alfy mengambil baju yang Maria sodorkan. "Baju kamu juga kena muntah,"
"Aku juga beli buat aku," Maria menunjuk tas belanjanya.
"Ayo, Rion." Alfy menggandeng Rion masuk ke toilet pria dan Maria masuk ke toilet wanita.
Alfy keluar dari toilet Maria belum keluar dari toilet. Saat Maria keluar, Alfy terpaku pada kaos Maria yang sama sepertinya.
Maria mendapat tatapan Alfy dan menyadari apa yang pria itu pikirkan. "Bajunya hanya ada yang seperti ini, cuma beda ukurannya saja. Kamu tidak nyaman?"
Senyum kecil di bibir Alfy. "Enggak kok. Yuk, lanjutin mainnya." Alfy merangkul Maria dan menggandeng Rion.
_
"Alfy biar aku yang menggendong Rion ke atas, lebih baik kamu check in, dan cepat beristirahat." Maria bergerak ingin mengambil alih Rion yang tidur digendongan Alfy.
"Enggak. Biar aku aja yang bawa, aku bisa turun lagi nanti buat check in."
Lelah menaiki semua wahana yang ada di Lotte World, Rion tertidur dalam perjalanan pulang. Dan Alfy menamani Rion menaiki semua wahana.
"Kamu pasti lelah, harusnya cepet istirahat, besok kan kamu harus kerja." Maria kembali mencoba mengambil alih Rion lagi, tapi Alfy beregerak menjauhi Rion dari jangkauannya.
"Tidak lebih lelah darimu," ucap Alfy sambil menunjuk tombol lift dengan pandangannya. Maria mengerti dan langsung memencet tombol ke atas. Dari pada semakin lama perdebatan mereka, semakin lama juga Alfy istirahat.
Ting
Lift sampai menghampiri lantai dimana kamar Maria berada. Di depan pintu Maria menjulurkan tangannya, tapi ditangkis kecil oleh Alfy.
"Biar aku yang menggengongnya sampai kasur."
Maria menempelkan kartu pada hendel pintu. Maria membuka pintu dengan lebar memberikan Alfy jalan lebih dulu.
Alfy manaruh Rion ke atas kasur perlahan. Maria menunggu Alfy di depan pintu kamar.
"Maria__"
"Alfy kamu bisa bertemu Rion kapan saja. Aku tidak akan melarangmu. Sekarang, pergi check in dan istirahat." Maria melipat tangan di atas dadanya. Maria bicara dengan suara rendah.
Maria menaha kesal karena dari tadi Alfy bersikap seperti tidak akan bisa bertemu dengan Rion lagi.
"Aku hanya merasa berat melepas Rion."
"Aku sudah bilang, kamu bisa__" Alfy menghentikan uncapan Maria.
"Tapi pertemuan seperti itu akan selalu ada perpisahan. Aku ingin Rion terus bersamaku."
"Maksudmu?"
"Aku akan bercerai dengan Yunna, aku ingin kembali bersamamu."
"Alfy hentikan pembicaraan ini!" Suara Maria sedikit mengeras. "Aku benar-benar sudah muak dengan pembicaraan ini." Maria kembali merendahkan suaranya.
Alfy tidak ingin menggeleng, batal mengatakan hal yang akan kembali menghancurkan situasi aman seperti sekarang.
"Tidak. Aku pergi." Alfy mengelus rambut Maria. Berbalik keluar dari unit kamar.
Maria memeperhatikan punggung Alfy hingga habis dimakan pintu. Maria mengerti perasaan Alfy.
______________________________
**Share + like + vote (poin) + komen \= Banyak yang baca cerita aku. (Mood menulis bertambah) 😅
JANGAN LUPA KOMEN SIAPA KISAH SIAPA YANG BIKIN KALIAN PENASARAN**!