About My Pain

About My Pain
Chapter Fourty Three



Mata Maria tidak bisa lepas dari pulau yang semakin kecil dipandangannya. Pulau itu, pulau yang paling indah sekaliguus paling menyeramkan untuk Maria. Bukan karena keindahan atau kemistisan yang pulau itu miliki, tapi karena mimipii indah sekaligus mimpi buruk yang pernah Maria alami. Ya, semua yang terjadi di pulau itu serasa mimpi yang akan terus melekat di otaknya, yang akan ikut mengiri kemanapun kakinya melangkah pergi.



Seharusnya Maria berhenti memikirkan Alfy. Setelah hari ini tidak ada lagi 'Alfy suami Maria' yang ada hanya 'Alfy mantan suami Maria', jadi dia harus belajar berhenti memikirkan Alfy. Tidak. Saat ini Maria tidak sedang memikirkan Alfy, dia hanya memikirkan apa yang harus dilakukannya untuk mengisi hari tanpa Alfy. Dan sekarang, Maria merasa, perlahan bumi mulai menenggelamkan dirinya, seolah dunia sudah tidak membutuhkannya.



"apa yang kau pikirkan?"



Suara berat membangunkan Maria dari lamunannya. "huh?" matanya masih belum bisa lepas dari pulau milik Alfy.



"Kalau seperti ini jadinya, kenapa kau ingin meninggalkannya?"



Entah bagian mana yang jelas perkataan itu membuat hati Maria tergores."aku bukan ingin, tapi aku harus."



"setidaknya kau menunggunya hingga dia bangun, bukan malah melarikan diri seperti ini."



Maria mulai kesal dengan pria di sampingnya. Dia memutuskan melihat lawan bicaranya. "Aku tidak melarikan diri, papi. Waktuku sudah habis, aku harus menepti janjiku."



"apa ayah tidak ikhlas menjemputku? Kalau tudak mau, seharusnya papi bilang tidak mau." Mungkin dengan marah Maria bisa menahan air matanya dan sedikit melupakan Alfy.



Pada awalnya Maria ingin pulang sendiri, tapi mengingat pria mesum menjijikan yang menciumnya sembarangan, membuat Maria takut dan memilih meminta ayahnya menjemput.



Maria pikir Alfy akan terbangun sebelum heli ayahnya tiba, tapi takdir berkata lain. Alfy mesih saja memeluk gulingnya. Tahu begitu dia tidak akan menukarkan dirinya dengan guling.



"buk.. bukan. Bukan seperti itu Mari -"



Maria menghabur kedalam pelukan ayahnya. "besok aku akan ke pengadilan, aku tidak tahu harus bersikap seperti apa saat bertemu Alfy, Ayah."



Tubuh ayah Maria menegang, ini pertamakalinya Maria memanggilnya dengan sebutan ayah. Baginya sebutan 'ayah' membuat ayahnya begitu berarti di kehidupan Maria.



Mr. Ollyfi membalas pelukan putri sematawayangnya. Dia memeluk tubuh rapuh Maria, seolah membantu menahan sesuatu yang mungkin akan hilang dari tubuh Maria.



Air mata juga turut jatuh dari matanya dan mulai membasahi pipi yang sudah sedikit keriput. Pikirannya berterbangan memikirkan rasa sakit yang istrinya rasakan semasa hidupnya.



Tuhan sudah begitu baik dengan memberikan istri yang begitu sempurna hingga dan melahirkan putri secantik Maria. Tapi dengan tidak tahu dirinya, dia menghancurkan hati angel Maria dan perjanjian yang sudah dia buat di hadapan Tuhan. Hanya karena menuruti nafsu setan yang indah sesaat.



Semua pertanyaan mulai bemunculan.


Kenapa dia berbuat, perbuatan yang sangat fatal?


Kenapa bukan dia saja yang menerima karma atas kesalahannya sendiri?


Kenapa harus putrinya yang merasakan?


Apa tidak ada kesempatan kata maaf bisa membebaskan putrinya dari karma?



Serasa cukup dengan pelukan ayahnya yang memberinya kehangatan sekaligus energi, Maria mengahpus jejak air matanya yang entah kapan jatuhnya dan melepaskan pelukan dari ayahnya.



Maria menatap dalam mata yang memiliki warna yang sama dengannya. "Papi. Kau sudah membawa Milla ke rumah baruku?"



Mr. Ollyfi mengelus rambut putrinya dan mengangguk. Semua akan dia lakukan untuk membuat putrinya kembali merasakan bahagia. Dia tidak akan lagi membiarkan seseorang yang menyakitinya mendekat.



Dunianya sekarang hanya putrinya. 'Tuhan. Berikan aku kekuatan untuk memberikan kebahagian pada putriku dan jangan ambil nyawaku sebelum putriku merasakan bahagia dengan hidupnya. Putri yang pernah aku sakiti.' Doanya. Selalu. Sebelum tidur dan sesudah tidur.




Mr. Ollyfi menangkup wajah Maria. "Jangan menatap matanya! Jangan pernah menatap matanya lagi atau kau akan gagal mengontrol air matamu."



"Tatap saja papi kalau air matamu mulai bandel dan tidak bisa dikendalikan. Jangan lagi, kau tunjukan air matamu pada Alfy." Lanjutnya.



Dia ingin sekali membunuh Alfy karena sudah berani membuat air mata putrinya terus turun. Tapi Maria akan sangat kecewa kalau dia menyentuh Alfynya, barang sedikit saja. Betapa baiknya, hati putrinya.



Tuhan akan memberikan putrinya jodoh terbaik dan Mr. Ollyfi sangat percaya dengan itu. Tidak akan ada pelangi dilangit, tanpa ada hujan sebelumnya. Tuhan juga tahu batasan umat kesabaran hambanya.



"Buka mata! Buka hati! Jangan jadikan rasa sakit dihatimu menjadi dendam. Maafkan papi, karena kesalahan papi, kamu harus merasakan karmanya. Maafkan papi, Maria."



Maria manahan tangan ayahnya yang ingin terlepas. Dia menggeleng. "Bukan. Ini bukan salah papi. Ini sudah takdir yang Tuhan berikan untuk aku. Asalkan papi selalu berada di sampingku, aku yakin bisa melewati itu semua."



"Kau bisa Maria. Papi tahu itu. Mungkin saja, saat ini jodohmu sedang berjalan mendekatimu." Mr. Ollyfi mencium dan mencubit pipi Maria.



Saat mata Alfy terpejam dan tidak bisa melihat kehadirannya, seseorang pasti menyadari kehadirannya.



Tuhan tahu yang terbaik untuk hambanya. Mungkin Alfy memang bukan yang terbaik untuk Maria, tapi jangan kira Maria tidak punya seseorang baik yang menjagannya. Tuhan sudah memilih siapa jodoh dan rejeki manusia dan hanya Tuhan yang tahu.



Tuhan akan mempertemukannya dengan seorang yang mebuatnya bahagia. Percayakan itu!



"Ah... papi sudah mendapatkan pengecara untukmu." Suara Mr. Ollyfi kembali memcahkan keheningan halikopter dan kembali menghilangkan pikiran-pikiran Alfy di kepala Maria.



"Memang sidang perceraian harus ada pengecara juga, papi? Setahuku kalau ada hanya untuk merebutkan harga gono gini dan hak asuh. Aku kan tidak punya anak dan aku juga tidak butuh harta gono gini, jadi untuk apa ada pengecara?" Kerutan dikening mulus Maria mulai terbentuk.



Mr. Ollyfi mengulas senyumnya dan mengelus rambut halus Maria. Lihat putrinya sangat polos, sampai dia tidak tahu kalau perceraian juga butuh pengecara. Memang bisa saja bercerai tanpa ada pengecara, tapi bukan keluarga Ollyfi yang bertindak tanpa berpikir. Semua apa yang akan terjadi sudah ada di dalam otaknya, meskipun belum tentu terjadi.



Silahkan saja Alfy bersenang-senang dengan perceraiannya, tapi Mr. Ollyfi akan membuat Alfy menyesal karena sudah menyakiti hati putrinya dengan meminta bercerai dengan Maria.



"Seperti sholat duha dalam ajaran islam. Bercerai tanpa pengecara hukumnya bukan wajib, tapi sunnah. Kalau dikerjakan mendapatkan sesuatu, jika tidak kerjakan, juga tidak masalah."



"Papi terlalu muter-muter, padahal intinya hanya untuk melengkapi persidangan." Sahut Maria kesal. Bibirnya maju beberapa centi dan itu membuat maria terlihat sangat lucu.



Mr. Ollyfi jadi teringat dengan Maria saat kecil. Putrinya itu mudah sekali merajuk, apa lagi kalau kemauannya tidak dipenuhi, dia akan mogok makam sampai mendapatkan kemauannya.



Pria yang mulai menua itu ingin sekali kembali kemasa lalu dan memperbaiki kesalahannya. Tapi sekali lagi, itu tidak akan pernah terjadi.



"Baiklah. Papi pasti tahu apa yang terbaik untukku, jadi aku akan mempercayakannya pada papi." Maria memeluk sayang ayahnya dan menghirup wangi tubuh ayahnya yang sangat berbeda dengan wangi tubuh Alfy.



'JANGAN MULAI!" Bentak Maria pada otaknya sendiri, karena berani-beraninya memikirkan Alfy lagi.



"Papi, setelah ini tolong antarkan aku ke salah satu stasiun TV. Aku sudah punya janji untuk wawancara."



"Baik, tuan putri."