About My Pain

About My Pain
Chapter Twenty Five



"Jadi restoran ini punya kamu?"



Wajah kagumnnya tidak bisa tertutupi, saat mata Maria menjelajahi seluruh benda yang ada di dalam restoran milik Fanny.



Sungguh interior yang sangat mengesankan bagi yang berada di restoran Indonesia. Maria sangat bangga pada temannya, Fanny. Maria jadi berfikir kalau seandainya ia tidak berhenti belajar bisnis, mungkin ia juga memiliki restoran indah seperti milik Fanny.



Fanny mengangguk dengan bangga. "Iya restoran ini punyaku dan aku membangunnya dari nol."



"Kamu benar Fanny temanku, kan?"



Maria masih sedikit tidak percaya karena dulu Fanny sangat mudah membuang uangnya untuk hal yang tidak penting, tapi wanita yang berdiri di depannya saat ini sangat berbeda jauh dari masa lalunya.



"Kamu masih tidak percaya? Apa perlu aku mengeluarkan kartu identiasku agar kamu percaya?"



Fanny menarik tas selempangnya yang kecil di samoing tubuhnya untuk mengeluarkan dompetnya, tapi tangan Maria lebih dulu menahanya.



"Iya, iya, aku percaya."



"Duduklah! Emang kamu gak cape bediri terus?." Fanny menarik salah satu kursi yang ada di dekat mereka berdiri.



Maria mengikuti perintah Fanny untuk duduk.



"Lui! Bawakan menunya kemari!" Fanny menyuruh seseorang wanita bernama Lui dan dengan cepat wanita muda bernama Lui itu mengambilkan apa yang di perintahkan bossnya.



Isi menu yang di berikan wanita bernama Lui itu berisi makanan asing yang Maria tidak tahu, jadi Maria menunjuk makanan dan minuman yang menurutnya tidak asing.



"Tapi kenapa restoranmu sepi sekali? Apa kau sengaja mengusir pembeli untuk ku?"



Yah, tidak ada pelanggan satu pun yang terlihat di restoran ini. Hanya ada staf dan beberapa koki yang bertugas yang ada di sini.



"Kamu percaya diri sekali." Jawab Fanny yang bukan jawaban dari pertanya Maria.



"Jam segini memang belum waktunya buka." Lanjut Fanny.



Maria mengerutkan keningnya "apa maksud mu? Ini sudah jam setengah tiga, tapi kau belum buka?"



"Apa restoran ku kurang terkenal sampai kau tidak tahu restoranku?" Fanny malah menjawabnya dengan pertanyaan lagi.



"..."



"Kau bingung ya? Baiklah, akan memberi tahukannya. Restoran ku hanya buka di jam-jam makan."



"Maksud mu, sehari tiga kali?"



Maria menunjukan tangan yang ibu jari dan jari kelingkingnya sudah dilipatnta.



Fanny mengangguk sambil memasukan kacang almond ke dalam mulutnya.



"Huh, seperti minun obat saja." Maria mengendus, sedangkan Fanny hanya terkekeh kecil.



"Emang kamu tidak rugi, bukanya cuman tiga kali sehari?"



"Tidak aku malah untung."



"Apa nama restoran mu ini?" Maria sudah menyiapkan handphone nya untuk mencari informasi tentang restoran Fanny.



"FR(ESTO)" jawab Fanny.



"Apa? Presto? Panci presto?"



Telinga Maria sedikit bermasalah saat Fanny menjawabnya, Fanny menjawabnya dengan suara pelan jadi Maria tidak tetlali mendengarnya.



"Bukan bodoh. FR esto." Fanny meneloyor kepala Maria.



"FR? Seperti tidak asing. FR? Membuatku bingung saja." Gumam Maria untuk dirinya sendiri, tapi Fanny mendengarnya.



"Tidak asing apanya? F dari Fanny, namaku dan Resto. Apanya yang harus kau bingunkan." Fanny terus memasukan kacang-kacangnya.



"R-nya bukan Romeo kan, Fanny?"



'Ukhh..'



Fanny tersedak dengan kacangnya sendiri.




Maria sedikit aneh karena Fanny menjadi gugup seperti itu, apa lagi pipi wanita itu memerah.



"Masa bodo. Kau diam aku sudah mendapatkan informasi retoran mu."



Fanny lega saat Maria sibuk dengan handphonenya, hampir saja rahasianya terbongkar. Fanny mengipaskan wajahnya yang memanas dengan tangan letiknya.



"WHAT!!" Teriakan Maria membuat Fanny terkejut.



"A__" Maria berhenti berbicara saat Lui membawa pesananya. Setelah Lui pergi.



"Aku tidak mau makan, makanan ini." Maria menatap ngeri dan tidak percaya ke makanan yang sudah tersedia didepannya.



"Kenapa?"



Fanny bingun dengan sahabatnya. Semua makanan di retorannya ini halal seratus persen, tapu lihat reaksi Maria yang seperti habis makan daging babi.



"Apa kau gila? Bagaimana bisa makanan ini harganya sampai satu juga dua ratus ribu." Ujar Maria sedikit berteriak.



Semua karyawan Fanny melihat ke arah Maria.



Fanny memijat keningnya tidak percaya. Fanny kira ada sesuatu di dalam makanan dan ia berniat memarahi, maneriaki, memaki semua karyawan. Tapi semua pikirannya salah.



Fanny baru ingat bahwa sahabatnya ini selalu membuat sensasi yang di luar batasnya. Sama hanya karena harga makanan Maria bisa berteriak seperti itu. Sungguh tak terduka.



"Pantas saja kau tidak rugi." Lanjut Maria di iringi dengan tertawa keras.



Fanny menggelengkan kepalanya tidak percaya.



●°●



Maria melihat Alfy yang baru memasuki rumah, wanita itu mendekat ke sofa dan mendudukinya.



Wajah lelah Alfy sedikit mengurai niatnya untuk membicara, tapi Maria tidak punya wakti lagi untuk menunggu.



"Alfy aku ingin bicara!"



Alfy berhenti sebrang sofa yang di duduki Maria.



Alfy melempar tas kerjanya di sofa itu. Bagai slow motion, Alfy melepas jas formalnya dan menaruhnya di sofa. Kemudian melonggarkan dasi merah darahnya, di susul dengan jarinya membuka dua kancing tetatas.



Maria dengan susah payah menelan salivanya.



"Apa yang ingin kau bicarakan?" Suara Alfy menyadarkannya dan ternyata Alfy sudah duduk di sofa yang penih dengan benda ke kantornya.



"Ehem.. aku sudah bicata dengan papi dan papi tidak mengizinkan kita bercerai."



Dengan cepat Maria berbicara, Alfy memijit pangkal hidudungnya, lalu memandang Maria dengan tatapan dindingnya membuat wanita itu tidak berani melihatnya dan mengalikan pandangan pada dress yang dikenakannya. Maria seperti memilin-milin bajunya menunggu respon yang akan Alfy berikan.



"Yang ingin bercerai itu siapa?"



"Hhem?" Maria bingung dengan Alfy.



Sedikit rasa hangat menyebat ke seluruh tubuh Maria.


'Apa Alfy akan jadi meminta percaraian dariku? Yah seperti inilah hidup, asal aku bertahan sebentar tuhan akan membayarnya dengan lebih'



"Yang ingin bercarai itu kau dan aku, bukan aku dengan papi mu. Jadi kenapa kau harus bertanya dulu pada papi mu!?"



"..."



Semua kata yang sudah Maria susun untuk ia katakan pada Alfy bubar begitu saja, ketika mendengar ucapan Alfy yang tidak memperdulikan keputusan papinya.



"Apa kau bodoh? Yang menikah adalah kita dan yang berhak memilih bercerai atau tidak adalah kita, jadi apa perlunya izin dari papi mu?"



Maria bergeming, dia tidak bisa membalas ucapan-ucapan Alfy. Maria kira Alfy akan membatalkan perceraian di anatara mereka, tapi ternyata bukan ide pokok dalam ucapannya.



"Tapi Alfy_" Maria menghentikan bicaranya dan ikut berdiri saat melihat Alfy yang berdiri dari duduknya.



"Terserah kau saja." Alfy pergi meninggalkan Maria.


Alfy bukan pergi ke kamarnya, tapi Alfy pergi mangambil kunci mobilnya lalu pergi meninggalkan rumah.



Maria tidak bisa berbuat apa-apa, ia hanya bisa dirinya agar air matanya tidak keluar dan lagi-lagi menghancurkan pertahanannya.