About My Pain

About My Pain
Chapter Twenty One



Maria membuka selimut yang menutupi seluruh tubuhnya, lalu bengkit mendekati pesanannya yang sudah tersedia di nakas.


Es batu, teh dan Handuk? Melihat handuk yang tersedia dari pesanannya, Maria tersenyum kecil. Milla mengetahui apa yang ada di pikirannya.



Terkadang Maria mengaggap Milla sebagai adiknya. Karena Milla selalu tahu apa yang terjadi pada Maria tanpa bertanya. Milla sangat mengerti dengan keadaan Maria.



Milla orang yang sangat peka. Maria suka dengan sifat Milla yang mudah peka, tapi dia juga sedikit malu dengan Milla. Sikap Milla yang seperti itu membuat Maria menganggap dirinya sangat cengeng.



●°●



Maria mencoba membuang kebosanannya di dalam kamar. Sudah satu minggu Maria tidak keluar dari kamarnya dan selama satu minggu Maria memikirkan bercerai atau tidak dengan Alfy.



Dia makan dengan makanan yang di antar Milla atau bu Mia. Terkadang Maria melewatkan waktu makannya dan pada akhirnya makanan yang tidak di sentuh Maria, di buang. Maria tidak mood melakukan apapun dan dia juga sedang tidak mood melihat wajah tampan Alfy.



Maria sangat dilema dengan ke dua pilihan sulitnya. Bercerai, Maria tidak tahu bisa hidup tanpa Alfy atau tidak. Tidak bercarai, Maria harus menahan sakit dengan melihat Alfy bersama Yunna saat di kantor pria itu.



Kreekkk...



Tiba-tiba saja pintu kamarnya terbuka, dengan cepat Maria menutup matanya seolah dia sedang tidur. Maria sedikit tenang, karena saat ini dia sedang membelakangi pintu. Jadi siapapun yang masuk, tidak akan melihat wajahnya secara langsung.



"Apa kau akan seperti ini terus?" Suara itu membuat Maria menegang, suara yang sangat di rindukannya memenuhi kamarnya.



"Bermalas-malasan. Kau pikir ini rumahmu? Atau kau memang sengaja tidak menunjukan wajahmu di depanku agar aku merasa bersalah?"



Tes...


Air mata saat Alfy selesai berbicara akhir kaliamatnya. Maria sama sekali tidak ke pikiran dengan kalimat yang di ucapakan Alfy. Membuatnya merasa bersalah? Tidak sama sekali.



Maria hanya menengkan dirinya tidak ada pikiran untuk membuat Alfy merasa bersalah. Alfy salah paham pada Maria. Maria tidak mengelak apapun yang di bicarakan Alfy. Dia memang salah kerena bermalas-malasan, tapi Maria tidak tahu apa yang harus di lakukan di rumah ini.



Memasak? Siapa yang ingin makanan masakannya. Alfy? Jangankan Alfy. Kucing saja mungkin tidak mau makan masakannya. Berkebun? Maria sudah tidak memiliki angel yang akan mengobatinya di saat jari terluka kerena duri menusuk.



Memang Maria terlalu egois. Dia tidak memikirkan orang lain, dia hanya memikirkan dirinya sendiri. Dia tidak mau terluka, tapi membuat orang lain yang terluka.



Dengan dia menahan Alfy. Secara tidak langsung dirinya tidak terluka, tapi membuat Alfy terluka.


Maria akan menghentikan semua ini. Dia tidak akan egois lagi, dia tidak akan menahan Alfy lagi. Dengan cara? Maria akan menceraikan Alfy, saat Alfy memintanya untuk bercerai.



"Bersikaplah seperti biasa! Mamah ada di bawah, dia menunggumu." ujar Alfy lalu pergi dari kamar Maria.



Air mata Maria berhenti seketika, saat mendengar mamah ada di bawah. Untuk apa mamah Alfy ke sini? Ini masih sangat pagi, Alfypun belum pergi jam segini.



Maria membersikan bekas air matanya dengan cepat dia memasuki kamar mandi dan membersikan seluruh tubuhnya.



Setelah selesai mandi dan pakaian santai sudah menggangung cantik di tubuhnya. Maria turun ke bawah untuk menemui mamah.



"Mamah... ada apa mamah ke sini, pagi-pagi sekali?" Maria mencium tangan mamah lalu memeluk mamah. Mencium wangi mamah yang khas membuat Maria menahan air matanya agar tidak terjatuh saat memeluk mamah.



"Mamah ingin sarapan di sini, sayang" jawab mamah. Maria melepas pelukannya. Mengajak mamah mendekati meja makan.



"Alfy di mana sayang?" Tanya mamah. Mamah tidak melihat Alfy sejak Alfy naik ke atas untuk memanggil Maria.




"Jam segini sudah berangkat? Ini masih terlalu pagi." lanjut mamah.



"Dia pasti sangat sibuk dengan pekerja__"



"Aku di sini mah." perkataan Maria terpotong saat Alfy keluar dari dapur. Maria terus melihat mamah, tanpa menengok melihat le arah Alfy. Maria tidak ingi meliahat Alfy saat ini.



"Mamah duduk aja di kursi! Maria yang akan buatin mamah makanan. Mamah maukan mencoba makanan buatan Maria?" Tanya Maria pada mamah, Maria takut mamah akan menolak masakannya.



"Masakan aku sarapan juga! Kau masih ingin memasak sarapan untukkukan Maria?" Maria melihat ke arah Alfy yang memperlihatkan senyuman terpaksanya.



Hati Maria tertusuk dengan ucapan Alfy. Alfy berbicara seolah-olah Maria tidak ingin memasakannya makanan. Padahal setiap Maria membuat makan untuk Alfy, Alfy tidak pernah menyentuhnya sama sekali.



"Baik. Aku akan memasakannya untukmu." jawah Maria lalu pergi meninggalkan Mamah dan Alfy yang terduduk di depan meja makan.



Maria mendekati bu Mia yang sedang memotong sawi. "Bu Mia, aku akan membuatkan mamah makan. Bu Mia yang membuat makan untuk Alfy ya? Aku tahu Alfy sebenarnya tidak ingin masakanku" ujar Maria sambil mengumpulakan bahan-bahan untuk membuat nasi goreng untuk mamah.



Bu Mia merasa kasihan mendengar pernyataan yang Maria rontarkan. Bu Mia juga kagum dengan Maria yang sangat sabar menghadapi sikap Alfy.



Setelah selesai dengan nasi goreng yang di buatnya, Maria membawa 2 masakan.


Maria memeberikan masakannya ke pada mamah dan memberikan masakan bu Mia untuk Alfy.



"Ini untuk mamah dan.. ini untuk kau."



Mamah mencoba masakan Maria lalu mengagguk. Maria senang mamah menyukai masakannya. Maria sangat berusaha sekali belajar nasi goreng agar menjadi enak.



Alfy memasukan nasi goreng ke dalam mulutnya. Tapi rasa ini sangat di kenalnya. Masakan ini masakan yang selalu di makannya dari kecil. Alfy sangat tahu ini masakan bu Mia, bukan masakan Maria.



Alfy melempar kecil sendoknya. Suara yang di akibatkan sendok bertabrakan dengan piring, berhasil membuat Maria melihat ke arah Alfy.



"Aku tidak ingin masakan ini! Aku ingin masakanmu." Ujar Alfy sambil menatap tajam Maria. Maria tercengang mendengat kalimat ke 2 Alfy. Alfy ingin masakannya? Tapi bisanya dia menolak masakanannya.



"Alfy kau ini." mamah bersuara.



"Aku akan membuatkannya." dwngan cepat Maria mengalihkan pembicaraan, karena akan gawat kalau Alft berbicara lagi.



Maria membawa piring Alfy ke dapur membawa masakanannya di piringnya. Awalnya piring makanan ke tiga untuknya sarapan.



"Ini." Maria menaruh piring di depan Alfy.



"Masakanmu sangat enak, sayang." puji mamah. Maria senang di puji mamah, karena sejauh ini belum ada yang memiji masakannya. Maria merasa sangat beruntung memiliki mamah yang menggantikan mamihnya memuji masakannya.



Karena setidak enak apapun masakannya, Maria yakin mamihnya akan memuji masakan yang di buatnya.



__________


Jangan lupa kasih like aku ya, kawan.^_^