
"Irit sekali." Jari telunjuk Maria menyentuh pipi Alfy, lalu menjauhkan tangannya sebelum mendapat hentakan dari tangan Alfy.
"Apa semahal itu senyum mu? Baiklah, itu tidak penting. Sekarang, ayo lihat kamar kita."
Maria berbalik dan kembali berjalan sambil merana dada kirinya. Astaga, degup jantungnya mulai kembali tidak normal, dia merasa akan pinsan sekarang juga. Reaksi yang luarbiasa hanya untuk Maria setiap bersentuhan dengan kulit Alfy.
Maria kembali melihat sekitarnya. Hati Maria mencelos saat semua orang di sekelilingnya memperhatikannya dan tertawa mereka mentertawakan Maria.
'Ada apa ini? Apa teriakan ku sangat keras, sampai menarik perhatian mereka? Atau karena aku yang tiba-tiba naik kedalam gendongan Alfy? Apapun alasannya, itu memalukan.'
Maria menutup wajahnya, seperti hormat. Kemudia berlari cepat mendekati salah satu bilik kamar yang disewakan.
Alfy yang melihat Maria berkelakukan aneh, mencari penyebab ke anehan Maria. Ternyata orang-orang memperhatikannya, pantas saja dia bersikap aneh seperti itu. Tapi Alfy hanya biasa saja mendapatkan perhatian seperti itu, karena tidak akan berpengaruh untuknya.
●°●
Waktu hampir menunjukan waktu petang. Tidak ingin tertinggal sunset, setelah mandi dan mengeringkan rambutnya, Maria langsung bergegas meninggalkan villa sederhana.
Yah, Villa. Dan kamar kita yang di maksud Maria adalah kamar mereka masing-masing, karena dia tahu Alfy tidak ingin tidur satu kamar dengannya, padahal Maria sangat ingin.
Bagi Maria, libur berduaan bersama Alfy seperti ini, dia sudah sangat bersyukur. Walau semua orang tahu ini saja tidak cukup untuk mendapatkan junior Alfy di dalam perutnya.
'Jangan memulai!'
Langit indah menyapa Maria dan matahari yang seakan mengatakan 'selamat tinggal, untuk hari ini san kita akan bertemu besok hari.'. Bukan itu hanya saja, burung-burung beterbangan turut menyapa Maria dengan suara khasnya.
Sayang sekali pemandangan indah seperti itu akan semakin indah kalau ada seseorang yang menemaninya, siapa lagi kalau bukan Alfy.
Saat sedang memperhatikan matahari yang akan habis di makan lautan, seseorang berlari ke arahnya.
Bruukk...
Tubuh Maria terseok dan jatuh ke tanah. "Sorry, Ms!" Seorang yang tidak sengaja menabrak Maria mengulurkan tangannya berniat membantu Maria berdiri.
Tanpa pikir banyak Maria merah tangan besar dan membantunya berdiri. Bukankan Maria harus menerima uluran tangan itu? Karena itu sebagai bentuk tanggung jawabnya sudah menabrak Maria.
"Kau tidak apa-apa?" Suara berat berasal dari belakang tubuh Maria. Itu suara Alfy.
Ternyata Alfy mengikuti Maria saat melihat istrinya keluar tanpa bicara apapun padanya. Dia bukan khawatir, dia hanya tidak ingin Rene memarahkannya karena Maria hilang diculik monster laut.
Tidak berapa lama Alfy mengikuti Maria, dia melihat seseorang berlari ke arah Maria dan seperti disengaja pria itu menubruk tubuh Maria.
Alfy kesal melihat pria asing itu mencoba mendekati Maria dengan cara yang murahan seperti itu. Kekesalannya bertambah kala Maria menerima uluran tangan pria itu
'Sial! Berani-beraninya.' Dengan cepat Alfy berlari mendekati Maria, memeriksa tubuh Maria apa ada yang terluka. Dia tidak akan diam saja kalau tubuh Maria tergores sedikit pun.
"Kau seharusnya hati-hati." Kulit di kening Maria bekerut. Dia tidak percaya dengan Alfy yang tiba-tiba muncul dan menanyakan keadaannya, dia bertingkah seolah suami yang khawatir pada istrinya.
"Maafkan, aku." Ucapan maaf lagi dari pria itu.
"Tidak. Aku tidak apa-apa." Sahut Maria cepat sebelum Alfy menarik tangannya menjauhi pria itu.
"Bagaimana bisa kau ada di sini, Alfy? Bukankan kau ada dikamarmu?"
Alfy masih menarik tangan Maria, entah Alfy akan membawa Maria kenama yang jelas dia tidak ingin Maria berdekatan dengan orang asing itu. Bagaimana kalu pria itu melakukan yang tidak-tidak pada istrinya.
"Jangan banyak bicara! Dan jangan sok akrab dengan orang asing!"
"Itu bukan jawaban dari pertanyaanku Alfy." Maria sangat bingung. Hanya karena pria asing itu, membuat sifat Alfy yang tidak pernah di tunjukan pada Maria keluar.
Entah kenapa, perlakuan Alfy sekarang ini membuat rasa hangat menyebar keseluruh tubuhnya. Senyuman dibibirnya pun mulai muncul. Sebenarnya Maria bukan hanya senyum, tapi dia juga ingin tertawa melihat sifat posesifnya seorang Alfy. Sangat manis...
Mata Maria terpaku pada tangan Alfy yang menarik tangannya. Dia ingin Alfy tidak akan pernah melepaskannya, karena hanya dengan digandeng seperti ini membuat kupu-kupu bertebaran di perut Maria.
Maria ingin menjadi Yunna, yang bisa bebas menggengam tangan Alfy. 'Suatu saat tangan ini yang akan menarikku untuk menahanku pergi.' Harap Maria dalam hati.
"Hentikan! Aku lelah," Maria ingin melihat reaksi seperti apa yang akan Alfy berikan, kalau dia berkata seperti itu. Tapi Alfy tidak menghiraukan Maria dan terus menarik tangannya.
Sampai mata Maria mendapati bugatti yacht di dekatnya. "Naik!"
Maria menggaruk tenguk belakangnya yang tidak gatal, lalu mengikuti perkataan Alfy untuk naik ke atas yacht itu.
Setelah Maria naik yacht, Alfy mengikuti Naik naik ke atas yacht.
"Bagaiman bisa kita asal naik seperti ini, Alfy." Maria berbisik pada Alfy setelah salah satu penjaga yacht berkulit hitam khas anak pantai menjalankan yacht menjauhi pantai.
"Bagaimana kalau pemilik yacht ini, marah?" Lanjutnya.
"Diam saja!"
Maria sedikit memajukan bibirnya. Pikiran tentang Alfy yang memiliki banyak uang terlintas di otaknya. "Jangan bilang yacht ini kau belikan untuk Yunna juga?" Tebak Maria.
"Ya."
Huft... tidak bisakan Alfy berbohong sedikit saja? Apa dia tidak tahu hati Maria sudah sakit dengan kenyataan suaminya membelikan Yunna pulau dan sekarang suaminya membelikan yacht mahal ini.
Kalau Maria anak yang cengeng, sudah pasti air mata menetes dari matnya. Tapi Maria bukan anak cengeng yang tidak bisa menahan tangisaannya. Maria hanya bisa berdoa, supaya Alfy akan menyesali semuanya dan meminta maas padanya.
'Jahat sekali doa mu, Maria.'