About My Pain

About My Pain
Chapter Fifty Nine



Kebetulan macam apa ini? Siapa yang merencakan kebetulan ini? Mobil Maria tiba-tiba mati di tengah jalan menjemput Rion dan katanya Theo kebetulan lewat memberi tumpangan pada Maria.


Padahal Maria sudah berhasil menghindari Theo di rumah sakit karena rasanya Maria ingin bunuh diri setiap melihat wajah Theo yang biasa-biasa saja setelah mendengar ajakan menikah Maria.


Sungguh, itu hanya ajakan atau pertanyaan yang tidak serius. Pada awalnya Maria hanya ingin mamastikan bahwa tidak ada pria lajang --seperti Theo mau menikah janda beranak satu, tapi jawaban Theo meleset jauh dari apa yang sudah Maria pikirkan. Dan itu membuat Maria tidak tidur semalam.


"Jam kerja dokter sudah selesai, ya?" Dengan sedikit canggung Maria membuka suara untuk memecah keheningan dalam mobil Theo.


Theo melihat Maria sebentar, lalu kembali fokus pada jalan. "Belum, awalnya aku ingin makan siang dengan ibuku." Jawab Theo tanpa merubah ekspresi wajahnya.


"Ka...kalau begitu saya turun disini saja, dok. Kasihan ibu dokter, pasti nungguin." Maria melepas safety belt, sebelum itu perkataan Theo menghentikannya.


"Tidak. Setelah menjemput Rion, baru aku akan bertemu ibuku. Aku ingin mengenalkan kalian pada ibuku."


"APA?" Refleks Maria berteriak pada Theo. "U..untuk apa?"


Kenalkan? Kenalkan untuk apa? Aku dan ibumu tidak punya urusan, untuk apa kau menganalkan aku pada ibumu?


Theo melihat ke arah Maria. "Untuk apa lagi? Kau tahu jawabannya. Aku tidak mungkin menikah tanpa bilang dengan keluargaku, Maria."


Sial! Bodoh! Bunuh Maria sekarang juga! Bunuh! Tuhan cabut nyawa Maria sekarang juga! Tolong, cabut!


Maria memejamkan matanya, memijat keningnya yang tiba-tiba pening. Kenapa pria itu masih menganggap ucapan Maria serius? Apa yang harus Maria lakukan untuk menghadapi Theo? Bunuh diri atau bunuh Theo?


"Dokter, ucapanku yang kemarin itu hanya_"


"Hanya apa? Kita sudah sampai." Theo menghentikan ucapan Maria.


Maria baru sadar mobil Theo sudah berhenti di depan sekolah Rion. "Aku tidak serius dengan ucapanku yang kemarin, dokter. Kenapa dokter menganggap serius."


"Sudahlah, ayo turun. Rion sudah menunggumu." Theo melepas sabuk pengamannya dan keluar dari mobil.


Maria tercengang menatap kepergian Theo, lalu ikut keluar dari mobil Theo.


"Hai, Jagoan!" Theo berjongkok, menyapa Rion yang sedang berbicara dengan Alfy.


Rion, Alfy, dan Rasya menatap aneh Theo. Orang yang tidak mereka kenal tiba-tiba menyapa Rion, apa lagi dengan wajah datar dan senyum kecilnya. Huft... Theo memang dingin seperti es.


Maria berjalan cepat mendekati Theo, sebelum pria itu mengatakan hal yang tidak-tidak. "Hai, little boy." Sapa Maria pada Rion, menghentikan Theo.


"Mom!" Rion berlari kepelukan Maria, meninggalkan Theo yang masih terjongkok ke aranya.


Theo yang merasa di abaikan oleh Rion berdiri dari jongkoknya, melihat Alfy dan Rasya secara bergantian. Terutama terhadap Alfy yang memasang wajah tidak suka akan kehadirannya, tapi Theo membalas Alfy dengan senyum satu ujung bihirnya, kemudian mengulurkan tangan --mengajak Alfy kenalan.


"Theodor Zienlinski, calon suami Maria." Berani-beraninya pria di hadapan Alfy mengakui sebagai calon suaminya.


Alfy menatap benci uluran tangan Theo, membalas uluran Theo. Alfy meremas tangan Theo, hingga terlihat guratan menahan sakit di wajahnya. Bukan Theo selemah itu, hanya saja Alfy begitu mendadak. "Alfy Yoan," mantan suami Maria. Entah kenapa kata-katanya sendiri seolah meledeknya.


Kenapa bayak sekali pria di sekeliling Maria? Menyebalkan. Tunggu! Bukankah dulu Maria bilang akan mencintaiku? Wanita itu akan menunggu aku balik mencintainya? Tapi kenapa secepat itu Maria melupakan cintanya padaku? Apa semudah itu cintanya hilang? Apa itu bisa disebut cinta? Kalau Maria memang mencintaiku, dia akan menungguku bukannya malah akan menikah dengan pria lain yang tidak jauh lebih baik dariku.


"Maria bisa kita bicara? Ada yang ingin aku bicarakan padamu." Alfy mengalihkan pandangannya pada Maria, ia sudah muak melihat wajah Theo. Dia harus mengalihkan pandangan dan pikiran sebelum memberi Theo pukulan keras di depan Rasya dan Rion.


"Bisa," bukan. Bukan Maria yang menjawab pertanyaan Alfy, Thoe yang menjawab. "Tapi tidak hari ini, hari ini Maria sudah memiliki janji bertemu dengan keluargaku. Jadi kalau kau tetap ingin berbicara dengan Maria, luangkan waktumu di lain hari." Lanjutnya.


Sial! Gigi graham Alfy bergesekan, ia benar-benar ingin memukul wajah menantang Theo. Alfy tidak bertanya pada Theo, lagi pula siapa pria itu hingga bisa-bisanya menjawab pertanyaan untuk Maria.


Maria menyadari perubahan raut di wajah Alfy, menyadari Alfy pasti sedang menahan emosinya. Maria harus segera menghentikan suasana tegang tidak baik ini.


"Kau bisa temui aku kapanpun, Alfy." Maria merutuk bibir yang mengeluarkan kalimat seolah-olah ia memang akan menunggu Alfy menemuinya.


"Baiklah, aku akan mendatangimu." Senyum manis terpatri di wajah Alfy, sudah tidak ada lagi raut menahan amarah.


Tidak! Jangan senyum seperti itu padaku Alfy, dulu aku sangat menunggu senyuman tulus itu, tapi sekarang aku tidak mau karena mungkin aku akan menerimamu kembali. Maria berteriak dalam hati.


Alfy membawa Rasya berjalan mendekati mobilnya parkir, memasukan Rasya di samping kursi kemudi, Alfy berbalik kembali dengan senyumannya yang menandakan pamit pada Maria, lalu ia ikut masuk ke salam mobil.


Tidak. Maria tidak akan termakan perlakuan Alfy. Maria ingin bahagia bersama Rion, tanpa Alfy, tanpa orang asing lainnya, berdua dengan Rion selamanya.


"Ayo, kita pergi." Theo menyadarkan Maria dari lamunannya, mobil Alfy sudah tidak ada di tempatnya. Theo mengambil alih Rion yang menatap Theo aneh dari pangkuan Maria, mamasukan Rion di kursi belakang.


Maria ikut masuk di kursi belakang yang mendapati tatapan bertanya dari Theo. "Aku mau menjaga Rion." Alasan Maria.


"Aku mau duduk di depan." Mata Maria terbelalak, Rion duduk begerak melewati dua sela kursi untuk bisa duduk di sebelah Theo.


"Kau hanya alasan." Ujar Theo sembil berkontak mata dengan Maria melalui kaca spion tengah, sebentar, lalu menjalankan mobil.


Susana hening menemani setengah perjalan menuju restaurant tempat Theo bertemu ibunya. Maria tidak menolak untuk berkenalan dengan ibunya Theo, tapi bukan berarti ia bermaksud_ ya kalian tahu apa yang Maria maksud. Maria hanya ingin mengenal ibunya Theo karena sesama seorang ibu, Maria ingin belajar dari ibunya Theo menjadi ibu yang baik, yang bisa membuat anaknya sukses seperti Theo.


By the way, tumben sekali Rion tidak langsung menceritakan apa yang terjadi di sekolahnya hari ini. Apa karena Theo, putranya menjadi sangat pendiam seperti ini? Tapi itu lebih bagus, dari pada menanyakan pertanyaan yang aneh-aneh.


"Apa kau ayahku?" Maria meringis mendengar pertanyaan yang Rion berikan pada Theo. Baru saja ia bersyukur, tapu Rion sudah mengeluarkan pertanyaan aneh itu.


Sekarang perhatian Theo terbagi dua anatara jalanan dan Rion.


Maria tidak boleh membiarkan Theo menjawab pertanyaan Rion dengan aneh juga atau akan terjadi senam jantung. "Bu_"


"Aku akan menjadi ayahmu."


Tolong lempar Maria dari mobil ini sekarang juga.