
Alfy merasa tubuhnya seperti semua tulangnya remuk. Padahal dia kerja hanya duduk, membaca, mengetik, dan menandatangi berkas. Tapi kenapa rasanya dia seperti tulang kuli bangungunan yang kerjanya mengangkat semen, batu bata, besi dan apa lah itu. Ingin rasanya dia menjadi seorang pengangguran yang punya warisan.
Masuk kamar, Alfy langsung meleparkan tubuhnya ke atas kasur. Dia merasa ada sesuatu yang aneh. Mata Alfy menyusuri semua barang-barang di kamarnya. Apakah dia terlah kecurian?
Alfy kembali bangun dari tidurnya. Melepas jas birunya sambil mengabsen isi ruang kamarnya. Matanya menangkap handphone tergeletak di dekat dinding. Menghentikan tangannya yang berusaha membuka jasnya, Alfy malah melangkah mendekati handphone itu.
Handphone siapa ini? Kerutan di keningnya tidak bisa tertutupi. Alfy menyadari, pasti ada seseorang yang sudah mesuk ke dalam kamarnya. Alfy mengambil handphone nya sendiri di saku celana, mencari kontak yang selalu membantunya, dua bulanan ini.
Tanpa menunggu, seseorang langsung mengangkat telponnya. "Hello. How i can help you, Mr. Yoan?"
"Panggilkan manager mu, untuk datang ke kamarku!" Alfy langsung mematikan panggilannya, tanpa mendendengar jawaban. Itu tandanya Alfy tidak ingin di bantah.
Alfy masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh dan pikirannya. Dia sudah lelah dengan pekerjaannya, di tambah lagi keamanan hotelnya yang lemah membuatnya ingin memukul seseorang.
Masalah terus saja bermunculan, di saat masalah yang satu saja belum selesai. Masalah itu terus saja mengganggu pikirannya. Kenapa semuanya jadi tidak ada yang beres seperti ini? Semuanya menjadi diluar kendalinya. Dia ingin kehidupanya kembali normal, seperti di saat di belum mengenal Maria, wanita yang membuat semua masalah terus datang padanya.
Selesai mandi Alfy keluar dengan bathrobe putih berlebel hotel yang di tempatinya dan rambut hitamnya yang masih basah. Berjalan mengambil gelas di atas meja yang sudah terisi air, meneguknya sampai habis tak tersisa.
Bell berbunyi tanda orang yang di tunggu-tunggu Alfy untuk di maki-maki, sudah tiba. Ceklek.. Alfy membuka pintu kamarnya dan keningnya langsung mengkerut.
"Sedang apa kau disini?" Alfy tidak menemukan manager yang sedari tadi di tunggunya, melainkan wajah yang muncul kala ia membuka pintunya.
"Apa di dalam ada Maria?" Ryan mendongakan kepalanya, ke kanan, dan ke kiri. Mencari seseorang di belakang Alfy. Wajahnya menunjukan ke khawatiran.
"Kenapa kau bertanya? Maria ada di rumah, bukan disini." Jawab Alfy ketus dan melipatkan kedua tangannya di atas dada.
"Aku ser_"
"Permisi Tuan," Ryan menghentikan ucapannya, saat manager yang di tunggu Ryan datang. Fokus Alfy langsung pindah pada pria yang usianya hampir mendekati empat puluhan.
Alfy menatapnya garang. Dia ingin sekali menendang perutnya, bokongnya, semuanya. "Kenapa lama sekali?"
"Maaf, Tuan. Ad kewajiban yang tidak bisa saya tinggalkan begitu saja."
"Ryan, kau bisa menungguku di dalam. Aku ingin bicara dulu dengan dia," Alfy mendorong tubuh Ryan masuk ke dalam kamarnya dan langsung menutup pintu.
Alfy maju sedikit mendekati manager itu. "Kenapa bisa ada seorang yang masuk ke dalam kamarku TANPA IZINKU!" Alfy mengeraskan suaranya.
Di sudah tidah tahan lagi untuk memecat orang-orang yang tidak berguna seperti orang di hadapannya ini. Orang seperti ini, seharusnya tidak di pekerjakan di hotelnya. Kenapa HRDnya tidak becus dalam memilih para pekerja. Apa dia harus mengganti semua karyawan dan memilihnya sendiri secara langsung.
Alfy membuang nafas kasarnya, entah sudah berapa banyak nafas yang ia keluarkan sacara kasar seperti itu. Yang jelas sekarang dia ingin bertemu, Yunna nya yang mungkin bisa membantunya keluar dari hari kesialan ini.
Alfy mendapati Ryan terduduk dengan handphone hancur di tangannya, handphone itu handphone yang sama yang sudah Alfy lihat tadi. Sama seperti Alfy, Ryan juga melihat handphone hancur iti dengan kerutan di keningnya.
"Ini handphone mu?"
"Bukan. Ada seseorang yang masuk ke dalam kamarku dan aku melihat hendphone itu sudah tergeletak di lantai." Jawab Alfy sambil memencet tombol remote control televisi nya.
"Lalu handphone siap__"
Besok, agensi Maria Yoan akan memberitahukan konfirmasi berita tentang berhentinya Maria dari dunia permodelan. Berhentinya Maria dari dunia permodelan mengegerkan setiap acara televisi. Semua netizen tidak percayakan berita ini, karena netizen masih sangat mengaharapkan wajah Maria masuk ke dalam layar televisi.
Apakah ini ada hubungannya dengan larangan dari suaminya, Alfy Zael Yoan? Atau dia hanya akan berhenti di dunia permodelan sementara karena dia sedang mengandung? Semua itu akan kami tayangankan secara live__
Telilit...
Alfy langsung kembali mematikan kembali televisinya. Dia sedikit bingung dan tidak percaya. Alfy dan Ryan terdiam karena mereka berdua sedang memikirkan sesuatu, sesuatu yang baru saja dilihat dan didengarnya.
"Kau, menyuruh Maria berhenti menjadi model?"
"Tidak. Aku tidak menyuruhnya." Jawab Alfy.
"Lalu kenapa Maria..?"
Ryan berdiri dari duduknya. Berjalan memutari semua ruangan kamar Alfy dan matanya mendapati post it hitam yang menempel di atas nakas tempat lampu tidurnya Alfy.
"Alfy! Kemari." Dan Ryan baru sadar kalau orang yang di makasud Alfy kedalam kamarnya adalah istri pria itu sendiri.
Alfy mengikuti intruksi Ryan untuk mendekatinya. Ryan memberikan post it itu kepada Alfy.
"Ap.. apa ini..?"
Alfy menerima kertas yang di sodorkan Ryan. Setelah membaca post it itu Alfy merasakan ada rasa senang dan ada rasa tidak senang menghantui dirinya. Tapi dia kembali menetepkan perasaan senang sebagai pyoritas.
Alfy pulanglah ke rumah!
Aku akan mengabulkan
apa yang kau inginkan...:*
_Maria Ollify_