About My Pain

About My Pain
Chapter Fourty Two



'Alfy... bangun...'


Suara lembut yang tidak asing membangunkan Alfy yang masih bergelut dengan guling di pelukannya. Entah kapan terakhir kali Alfy bisa merasakan tidur yang sangat nyenyak seperti hari ini, rasanya dia tidak ingin beranjak dari kasur dan terus memeluk gulingnya. Tentu saja suara lembut itu sangat mengganggu tidur Alfy.


Seperti mengerti apa yang dirasakan Alfy, suara lembut itu hilang dan memberikannya waktu tidur lebih lama lagi. Tanpa sadar, muncul senyuman lembut yang manis dibibirnya.


Setelah rasa kantuknya hilang, sinar matahari yang masuk dari jendela tanpa penghalang berhasil membangunkan Alfy. Sebenarnya Alfy tidak ikhlas tidur indahnya hilang begitu saja, tapi dia harus kembali pada rutinitasnya sehari-hari.


Dengan mata yang masih terpejam, tangan Alfy meraba kasur sebelahnya, seolah tangannya tahu apa yang dia carinya. Kerutan di kening Alfy terbentuk sangat jelas. Rasa kantuk yang tersisa hilang tanpa sisa, ceoat-cepat dia membuka matanya, bangun dari tidurnya, memakai celana semalam yang dia pakai, dan berjalan mendekati dapur.


Lagi-lagi kerutan dikeningnya muncul dan perasaan aneh mulai menyeruak masuk kedalam hati Alfy, perasaan aneh yang membuat hatinya tidak nyaman. Karena dia tidak mendapatkan apa yang dicarinya.


'Dimana wanita itu? Ah... apa ada di dalam kamarnya.' Alfy baru ingat, semalam dia membawwa Maria ke kamarnya.


Tapi setelah membuka pintu kamar Maria, Alfy masih tidak bisa menemukan wanita itu.


'Berikan aku dua puluh empat jam milikmu. Selama itu kau harus mengikuti kemanapun aku pergi dan menganggapku seperti istrimu, istrimu yang sebenarnya. Dan setelah itu aku akan melepaskanmu.'


Suara Maria menggema di telinganya dan terus berputar seperti kaset kusut yang memenuhi otaknya. Tanga Alfy terkepal sampai buku putihnya muncul dan rahangnya mengeras.


Dengan cepat mata alfy mengelilingi setiap dinding, mencari jam yang menempel indah, tapi tidak bisa dia dapatkan di ruangan ini. Jadi dia lebih memilih melihat jam yang tersedia di hendphonenya di kamar.


Tangannya berhenti mengambil handphone, tapi malah mengambil kertas-kertas yang ada di atas mejanya.


Kertas yang selama ini dia tunggu-tunggu akhirnya berada ditagannya. Ada sesuatu yang meledak-ledak didalam perutnya, membuat jantngnya berhenti berdetak. Dia tidak bisa mendekrisipsikan perasaannya saat ini, egonya bahagia, tapi di egonya yang lain tidak menyukainya.


Surat perceraian sudah lengkap dengan tanda tangan Maria, tapi kerutan di kening Alfy mucul melihat kolom tanda tangantempatnya sudah terisi. Seingatnya dia tidak pernah menandatangani surat seperti ini, dari mana Alfy mendapatkan tandatangannya.


Alfy terkekeh dengan apa yang Maria lakukan tanpa sepengatuhannya. Sampai kekehannya hiilang karena kertas lain jatuh dari selipan surat perceraian itu. Tidak mau membuang waktu Alfy lengsung membuka kertas itu. Jantungnya berdebar entah karena apa.


*Dear myhusband yang sebentar lagi menjadi myex-husband...


Jadi suara lembut yang membangunkannya pagi ini adalah Maria. Sedikit rasa sesal tubuh di dalam hatinya.


*Aku mau menyampaikan sesuatu yang harusku sampaikan padamu sebelum hari ini, karena kamu yang belum juga bangun, aku memutuskan untuk menulis surat sebelum waktu janjiku habis dan menjadi wanita pengingkar janji.


Pertama, aku sangat berterimakasih padamu. Kau sudah mau mencoba hidup bersamaku, padahal aku tahu kau sangat tidak ingin hidup denganku. Dan pada akhirnya perceraian sampai pada kita. Kalau boleh aku jujur, aku tidak pernah memikirkan perceraian. Tapi aku sadar melihatmu hidup tanpa ada senyum yang membuatku jatuh hati padamu itu lebih menayakitkan dari apapun. Maafkan aku yang membuat neraka di duniamu.


'Yunna wanita yang sangat beruntung.' Bukankan kata itu lebih dari dua kali aku mengatakannya? Karena itu memang benar adanya. Yunna wanita yang sangat beruntung bisa mendapatkan hatimu yang keras. Lebih keras dari batu, mungkin.


Sama seperti Yunna. Kalau aku sudah mendapatkan hatimu, aku juga tidak akan memberikannya pada siapapun. Sekarang aku sudah sadar dan aku sudah menerima permohonanmu saat berada dirumah mamah.


Mungkin aku tidak perlu menyampaikan ini, karena aku yakin kau akan tetap melakukannya.


Jangan pernah kecewakan Yunna, jaga dia baik-baik jangan biarkan dia pergi dari duniamu. Dia wanita yang baik dan cocok terus berada di sampingmu. Jangan pernah menyakitinya karena itu akan membuatku benci dengan diriku sendiri. Aku melepaskanmu untuk behagia bersama Yunna, bukan malah menyakitinya.


Satu lagi, di dalam amplop itu ada undangan pernikahan, pilihkan yang paling kau suka. Tolong bantu aku untuk menjadi temanmu yang baik. Setelah perceraian boleh akukan aku menjadi temanmu? Aku ingin ituk berpatisipasi dalam pernikahanmu. Tenang saja aku tidak akan mengacaukannya.


Ah... kau pasti bingung dari mana aku mendapatkan tandatanganmu, kan?


Aku minta Rian untuk menyelipkan kertas itu didokumen yang akan kau tanda tangani. Aku tidak berani memintanya langsung darimu, karena aku yakin kau akan meminta sidang secepatnya setelah itu.


Sekarang aku sudah siap dan persidangan akan dimulai besok. Aku sangat menunggu mu di persidangan, Alfy.


**Maria Nuan Ollyfi***


Setelah membaca surat Maria, dia tidak bisa berkata apapun. Alfy memikiran hal yang tidak sama sekali Maria bahas dalam suratnya. Kejadian semalam, seolah Maria tidak pernah tahu kejadian semalam, yang membuatnya bimbang.


Alfy mengambil undangan yang dimaksud Maria. Kekehan tidak senang keluar dari Alfy melihat undangan-undangan yang Maria suruh untuk memilihnya.


Bukan nama Maria dan nama seseorang yang ada diundangan itu, melainkan namanya dan nama Yunna.