About My Pain

About My Pain
Chapter Twenty Two



"Ayo mah, kita pergi!" Papah Alfy muncul dari pintu masuk. Maria yang menyadari papah merutanya, langsung berjalan mendekati papah lalu mencium tangan papah Alfy.



"Papah udah sarapan? Maria buatin sarapan ya, pah?" Tanya Maria. Maria selalu sopan kepada orang yang lebih tua. Mencium tangan atau salim adalah salah satu rasa hormat yang di berikan Maria.



"Enggak Maria. Papah sama mamah udah terlambat ke bandara" jawab papah Alfy. Maria mengerutkan keningnya.



"Ke bandara? Papah sama mamah mau pergi?" Tanya Maria penasaran.



"Iyah. Mamah sama papah mau bulan madu lagi, sayang! Ke Hawai" mamah yang menjawab pertanyaan Maria. Mamah merangkul Maria dari samping.



"Kalian harusnya pergi bulan madu, juga! Biar mamah bisa cepet punya cucu"



Pipi Maria memanas mendengar ucapan mamah. Maria juga ingin sekali punya anak, tapi Alfy sama sekali tidak ingin menyetuhnya. Jadi Maria harus menunggu sampai Alfy siap menyentuhnya. Seharusnya terbalik. Bukan Maria yang menunggu Alfy, Tapi Alfy yang menunggu Maria.



"Mamah sama papah mendingan pergi sekarang! Nanti ketinggalan pesawat" ujar Alfy mengalihkan pembicaraan.



Alfy memang paling anti memebicarakan tentang anak, karena Maria tahu Alfy ingin punya anak dari wanita yang di cintainya.


Yunna, hanya anak yang di lahirkan dari rahim Yunna yang Alfy inginkan.



Mengingat nama Yunna, senyum Maria menghilang seketika. Pipinya tidak lagi memanas, hanya ada kekecewaannya pada Alfy demakin bertambah. Uap air matanya sudah mulai terasa. Maria menarik nafasnya dengan teratus agar air matanya tidak terjatuh.



"Alfy benar. Lebih baik kita pergi kita pergi sekarang, sayang!" Papah Alfy merangkul pinggang istrinya dengan protectif dan berjalan menjauhi Maria dan Alfy. Maria dan Alfy mengikuti ke dua orang tua Alfy, untuk mengantar sampai depan rumah.



"Mamah, papah hati-hati di jalan. Nikmati bulan madu kalian. Siapa tahu setelah kalian pulang bulan madu, Alfy memiliki adik" ujar Maria. Mereka tertawa bersama, kecuali Alfy hanya diam tanpa bicara apapun.



Mobil yang membawa ke dua orang tua Alfy, sudah keluar dari perkarangan rumah. Maria yang tidak ingin berbicara dengan Alfy, pergi meninggalkan Alfy yang masih setia memandang ke arah luar. Entah memandang sesuatu atau melamun.



Alfy yang baru menyadari Maria yang sudah tidak di tempatnaya. Berjalan mendekati Maria dan dengan cepat meraih tangan wanita itu.



Maria berbalik menghadap Alfy yang menarik tangannya, tanpa menatap mata Alfy.


"Aku juga tidak ingin punya anak darimu Alfy! Jadi jangan khawatir. Kau puas?" Maria melepaskan tangan Alfy yang menariknya, tapi tidak bisa. Alfy tidak ingin melepaskankan tangannya.



Maria tidak akan berharap banyak pada Alfy, lagi. Alfy suatu yang melukainya, jadi Maria akan selalu terluka bila terus berharap banyak pada Alfy.



"Siapa yang akan membahas tentang itu? Aku ingin menyuruhmu mengambil tas kantorku di ruang kerja!" suru Alfy.



Maria ingin sekali membuang wajahnya. Dia malu karena salah mengerti tarikan tangan Alfy. 'kau memang tidak bisa di andalakan, brain' kutuk Maria dalam hati. Maria mencoba melepaskan tangan Alfy dan berhasil.



Di ambilnya tas kerja Alfy dari ruangan pria itu, lalu membawa tas itu mendekati pemiliknya.



"Ini tas kerjamu!" Maria menyodorkan tas hitam yang berisikan dokumen-dokumen penting, dengan malas dan matanya lebih memilih memperhatikan sendal rumah yang di gunakannya.




"Bawakan tas itu kemari!" suara perintah itu membuat Maria tersadar bahwa dia tidak berhayal. Alfy memang tidak mengambil tas dari uluran Maria dan malah pergi dari tempatnya.



Maria mencari sumber suara itu berasal. Ternyata Alfy sudah berdiri di depan pintu sambil memasang dasi biru mudanya dan handphone yang di apit, antara kepala dan pundak lebarnya.



"Aku tahu, Rian!"



"Iya, aku akan segera ke sanah"


Entah dengan siapa Alfy berbicara di handphone, tapi ia tahu saat ini Alfy sedang membutuhkan bantuannya.



Maria berjalan mendekati Alfy. Menaruh tas pria itu di dalam mobil. Setelah menarus tas, Maria masih melihat Alfy belum juga selesai dari 2 hal yang di kerjakannya secara bersamaan. Dengan sedikit ragu, Maria mengambil salah satu pekerjaan Alfy yang dia yakin Alfy akan menerima bantuannya.



Alfy yang memang membutuhkan bantuan, membiarkan Maria memasangkan dasinya. sedangkan ia sibuk memfokuskan dirinya dengan handphone di telingannya.



Alfy mengutuk Rian dalam hatinya. Masih pagi, tapi Rian sudah menelfon untuk mengingatkannya tentang meeting bersama para investor jam 10. Tanpa Rian mengingatkannya pun, ia sudah ingat dengan janjinya.



"Sudah selesai" Ucap Maria lalu melihat Alfy, tetapi dengan ucapan Maria Alfy melihat ke arahnya dan pandangan mereka bertemu. Tidak terlalu dekat, namun Maria bisa melihat dengan jelas wajah Alfy.



Menyadari ada tatapan tidak suka dari Alfy, Maria langsung memundurkan dirinya. Mamperbesar jarak di antara mereka. Maria ingin sekali memegang jantungnya, agar tidak berlebihan saat berdetak. Tapi itu tidak mungkin, karena ia akan merusak dirinya sendiri.



Alfy sedikit terkejut melihat Maria yang langsung menjauhkan darinya, tapi ada rasa bersyukur Maria menyadari ketidak sukaannya dalam berdekatan dengan dirinya. Ia tidak mempermasalahkan hal itu dan lebih memilih memasuki mobil kerjanya.



Alfy duduk di bangku penumpang dan pak Retno yang menyetirkanya. Selama perjalan ke kantor, Alfy tenggelam dengan kumpulan bahan-bahan untuk meeting.



Seperti apa yang di katakan Rian, pagi ini ia akan mengadakan meeting dengan orang-orang penting di Indonesia. Jadi ia ingin mempersiapkan segalanya dengan matang dan tanpa ada kesalahan sedikitpun. Kariyawan tahu Alfy tidak suka kalau seseorang melakukan kesalahan, karena itu kariyawan yang sudah pernah kena semprot oleh Alfy, lebih berhati-hati dalam melakukan apapun.



"Kau tidak akan keluar, barstard?" Kata-kata kasar itu membuat Alfy melihat ke arah jendela dan wajah Rian sudah berada diantra jendela.



Alfy mengerutkan alisnya melihat ada Rian diluar jendelanya dan saat itu juga ia baru tersadar bahwa mobil kerjanya sudah terparkir cantik di parkiran kantornya.



Huft...


Alfy membuang bafas kasarnya. Beranjak keluar dari mobilnya dengan semua keperluan kantornya. Alfy baru memasuki perusahaan, tapi setiap orang yang melihatnya menurunkan kepalanya sebagai tanda hormat pada atasannya atau sekedar menyapa. Sedangkan Alfy tidak memperdulikan sapan orang.



Rian menggelengkan kepalanya melihat kelakukan atasannya. 'Dia terlalu tidak peduli.' bisik Rian kepada dirinya sendiri. Ia mengikuti boss besarnya menuju kursi kebesarannya.



Rian sahabatnya bisa menjadi semengerikan ini. Alfy sama sekali tidak bisa tersentuh. Bahkan dengan istrinya sendiri, Alfy tidak bisa mencoba membuka dirinya.



__________


Jangan lupa kasih aku like ya, kawan.^_^