About My Pain

About My Pain
Chapter Twenty Six



Sinar matahari tidak lagi membangunkan Maria, malahan bisa dibilang Maria yang memnabgunkan matahari. Kenapa bisa begitu? Karena Maria tidak lagi bisa tidur. Bukan ia tidak ingin tidur, tapi matanya yang tidak bisa tidur di tambah pikirannya melayang ke Alfy yang belum juga pulang.



Sekarang rasa kantuk itu menghantui Maria, ia masih bersukur Tuhan masih memberikannya rasa kantuk.



Baru saja cahaya putih ingin hilang sepenuhnya, suara handphone kembali membangunkannya.



"Shit!! Bagaimana aku bisa tidur kalau seperti ini," Maria mengacak rambutnya yang tidak gatal dengan kesal.



Dengan terpaksa Mari mengulukan tangan ke kasur kosong sebelahnya mencari benda yang terus berbunyi tanoa henti itu.



Tanpa melihat id si penelpon Maria menggeser ke samping tombol berwarna hijau, kemudian menenpelkannya ke telinga.



"Siapa ini? Apa kau tidak tahu ini masih pagi? Ganggu tidurku aja,"



'Jadi jam segini kau masih tidur. Ada apa, tidak biasa sekali?'



Suara berat itu membuat mata Maria melebar, tidak ada lagi ngantuk menghantui matanya.



"..."



'Ck ck ck, kelakuan kids jaman now.'



"Apa niat papi menelpon untuk meledek ku?"



Maria tidak terima ayahnya memasukannya ke dalam anggota kids jaman now yang katanya suka gadoin mecin, ia kan termasuk kids jaman old.



"Tidak. Papi hanya ingin menyampaikan sesuatu,"



Maria bangun dari tidurnya. "Papi ingin aku ke rumah?"



Maria berdiri ingin bersiap-siap ke rumah ayahnya.



'Tidak usah, papi akan menyampaikannya sekarang.' Jawab Mr. Ollify, membuat Maria kembali duduk di pinggiran kasurnya.



'Kamu sudah besar dan papi yakin, kamu sudah bisa menentukan pilihan yang terbaik untuk diri mu sendiri.'



Mr. Ollify terdiam sebentar, sedangkan Maria ia tidak ingin memotong perkataan ayahnya.



'Tentang perceraian mu, papi sudah memikirkannya semalaman. Keputusan ada di tanganmu, papi akan mendukung semua pilihan yang kamu pilih. Tapi jangan lupa, pulang ke rumah papi saat kamu sudah lelah berada di luar. Rumah papi selalu terbuka untukmu, sayang.'



Kata manis itu, pertama kalinya Maria dengar dari ayahnya. Ayahnya adalah orang yang susah mengutarakan perasaannya, ia hanya akan memendam perasaannya sendiri.



Maria merasa menemukan angel nya yang baru.


Papi. Dulu kata itu seperti duri yang pernah melukai tangannya, tapi sekarang kata itu angel ke duanya.



"Terimakasih papi." Hanya dua kata itu yang Maria bisa keluarkan dari mulutnya. Tapi dihatinya 'aku sayang papi, angel ku yang ke dua.'



'Oke. Kita sudahi pembicaraan kita kali ini, papi masih harus mengurus pekerjaan papi yang menumpuk di kantor. Sampai jumpa Maria,'



"Baiklah, sampai jumpa juga papi."



Baru Maria ingin menjauhi handphone dari telinganya, suara ayahnya mengehentikan Maria menjeuhi handphone dari tangannya.



'Oh iya, sering-seringlah kunjungi orang tua ini.' Pinta Mr. Ollyfi pada putrinya.



"Iyah, nanti siang Maria bawain masakan Maria untuk papi."



"Akhh... tidak. Papi tidak ingin makan masakanmu yang buruk itu," tolak ayahnya.



"PAPI!! Sekarang aku sudah masak tahu. Papi aja yang ketinggalan info." Bela Maria.



"Papi tunggu."



Tut.. tut.. tut..


Orang tua itu sudah menutup telpon lebih dulu.


Maria sedikit menggerutu perbuatan ayahnya. Maria mulai merasa kantuk menyerang matanya lagi, ia harus segera tidur.




●°●



Maria menatap bangunan tinggi di depannya, ia membuang nafasnya. Sudah lama sekali ia tidak masuk ke dalam bangunan bertingkat banyak itu, setelah ia menikah dengan Alfy ia tidak lagi mengunjungi ayahnya di kantor.



Dengan atasan belang hitam putih dan androk merah yang menutupi dengkulnya, Maria berjalan memasuki perusahan ayahnya.




Tidak berbeda dengan kantor Alfy, setelah karyawan menyadari kehadirannya semua orang mulai memperhatikannya atau berbisik pada teman sebelahnya.



Maria memberi senyum termanisnya, walaupun di dalam hati tidak baik Maria tetap harus menutupi perasaannya. Demi ayahnya, demi suaminya atau demi siapa pun yang ada di hidupnya ia berani untuk memberikan fake smile di luar dan membiarkan mereka tahu bahwa Maria baik-baik saja.



Lift membawa tubuh Maria ke lantai dimana ruangan ayahnya berada, dengan lunch box di tangannya.



Maria membuatkan makanan spesial untuk ayahnya, meskipun tetap ada campur tangan bu Mia. Berbeda dengan Alfy yang suka makanan retoran, ayahnya lebih menyukai makanan rumahan. Jadi Maria membuat makanan yang biasanya ibunya masakan untuk ayahnya yaitu, sayur asem dan segala kawanannya.



Di bukannya pintu berwana abu-abu dengan name tag CEO (Chief Executive Officer). Setelah pintu kembali tertutup dan dirinya sudah berada di dalam ruang kerja ayahnya, Maria mendaratkan pantatnya ke salah satu sofa coklat empuk di mana tempatnya menghabiskan waktu saat berada di kantor ayahnya.



"Hallo, ayah."



Pria yang mendapat sapaan itu mengerutkan keningnya bingung.



"Ayah? Sejak kapan kau memanggilku ayah?"



Maria mendongakan kepalanya sambil senyum manis. Ayahnya kini sudah berada di depannya.



Sambil menarik tangan ayah agar duduk di sebelahnya "emang ga boleh aku manggil papi ,ayah? Aku hanya merasa dekat kalau aku memanggil papi, ayah."



"Boleh si, tapi sedikit aneh aja."



Maria membuka lunch box yang di bawanya, lalu menjejerkan menjadi beberapa tempat di depan ayahnya.



"Kau yang memasak semua ini?"



"Benar ayah," Maria meyakinkan ayahnya.



Tangan Mr. Ollyfi mengambil sendok untuk mencoba sayur asem, memang sayur asem itu lah yang pertama kali mengambil perhatianya. Dengan takut-takut rasanya buruk Mr. Ollyfi memasukan sendok berisi kuah sayur asem ke mulutnya.



"Tidak buruk," Mr. Ollyfi menganggukan kepalanya.



"Aku sudah bilang, sekarang aku sudah bisa masak. Walaupun masih di bantuin bu Mia." Maria sedikit tertawa saat mengatakan ujung kalimatnya dan ayahnya Maria juga ikut tertawa.



"Ayah. Ayah tidak memiliki niat untuk menikah lagi?"



Maria tahu ayahnya tidak suka saat sedang makan di ajak bicara, tapi ia penasaran dan tidak tahan untuk tidak bertanya.



"Kenapa kau bertanya hal itu?"



Ayahnya melepaskan sendok dari tangannya.



"Aku bertanya karena aku ayah masih membutuhkan orang yang mengurus ayah dan melihat kondisi rumah ayah yang besar, aku yakin sekali ayah pasti kesepian."



"Aku tidak akan pernah menikah lagi, Maria."



"Kenapa? Apa ayah masih merasa bersalah pada mami?"



Mr. Ollyfi diam tidak menjawab pertanyaan Maria dengan ucapan maupun bahasa tubuh, seperti anggukan atau gelengan.



Maria menarik dan menggenggam tangan ayahnya.



"Maria yakin mami sudah bahagia di atas sana dan papi di sini juga harus bahagia. Jangan menjadikan mami sebagai beban karena mami juga pasti ingin melihat ayah bahagia."



Maria ingin melihat ayahnya bahagia. Mungkin dengan menikah lagi bisa membuat ayahnya bahagia dan tidak terlalu memikirkan rasa bersalahnya pada mami.