About My Pain

About My Pain
Chapter Twenty Three



Alfy memasuki rumah besar dan mewahnya. Dahinya berkerut mendapati rumah besarnya sangat sepi, seperti tidak ada kehidupan.



Tidak tahu ada angin apa, Alfy ingin cepat-cepat pulang kerumahnya. Tapi dengan kesunyian di rumahnya membuatnya semakin bingung.



Alfy melempar tas kerjanya begitu saja di sofa. Berjalan mendekati dapur, tampat yang jarang sekali di masukinya. Di sana Alfy melihat bu Mia sedang memasak makan malam.



"Bu Mia. Dimana dia?"


Panggilan Tuannya membuat bu Mia berhenti mengiris bawang merah dan bawang putih untuk cah kangkung yang akan di buatnya.



"Nyonya ada di kamarnya, Tuan."


Bu Mia tahu siapa 'dia' yang dimaksud Tuannya. Siapa lagi selalin Maria.



Dengan langkah besar Alfy mendekati kamar Maria. Mambuka pintu putih yang menutup itu. Alfy mengedarkan matanya ke seluruh kamar milik Maria, tapi Maria tidak terlihat. 'Kemana wanita itu pergi?'



Ceklek..


Maria keluar dengan handuk kimono yang mengikat di tubuhnya dan satu handuk di tangannya yang di gunakan untuk mengeringkan rambutnya.



Maria berhenti tepat di depan pintu kamar mamdinya dan tangan yang menggosok ramputnya pun ikut terhenti. Maria sangat terkejut ada Alfy di dalam kamarnya, tapi sekuat tenaga ia membuat dirinya biasa saja lalu berjalan memasuki walk in closet nya berada dan menguncinya.



Tubuh Maria merosot di belakang pintu. Ia sangat bekerja keras untuk menjauhi Alfy, tapi malah Alfy sendiri yang selalu muncul di depannya. Bagaimana Maria bisa mengambil jalan keputusan kalau seperti ini. Maria memilih baju apa yang akan di gunakannya, ia tidak ingin membuat Alfy menunggu lama. Maria tahu Alfy ingin membicarakan sesuatu karena itu pria itu mendatanginya.



Alfy menelan ludahnya dengan susah melihat istrinya yang baru saja keluar dari kamar mandi menggunakan handuk yang hanya menutupi seperempat paha putihnya. Sexy. Itu kata pertama yang mutar di otak Alfy saat Maria keluar pertama kali dari kamar mandi.



Kaki Alfy ingin mengikuti Maria masuk ke dalam walk in closetnya, tapi Alfy langsung menghentikan niat kakinya untuk melangkah mendekati Maria. 'Bodoh! Kenapa aku ingin mangikutinya.' Alfy merutuki dirinya sendiri.



Alfy duduk ruang TV. Yah, itu lebih baik dari pada menunggu di kamar Maria. Beberapa menit kemudian Maria keluar dari kamarnya dengan dress rumahannya, Alfy sedikit tercengang karena baru menyadari Maria selalu memakai dress walaupun di dalam rumah, tidak seperti Yunna yang menggunakan hotpans dan kaos polosnya. Perbedaan yang sangat jauh.




Maria mengambil duduk di samping Alfy dan ikut manatap televisi yang sedang menampilkan drama Korea yang biasa di tontonnya. Maria mengerutkan keningnya melihat chanel drama kesukaannya di tonton oleh pria seperti Alfy. 'Apa akhir-akhir ini pria juga suka nonton drama?'



"Kamu juga suka nonton drama Korea, Alfy?"



Alfy berhenti memperhatikan Maria, saat wanita bertanya dan melihatnya juga.



"O..o..oh.. ini aku juga baru nyalain, belum sempet ganti kamu udah nongol duluan." Bohong! Alfy sudah dari tadi menyalakan TVnya hanya saja fikirannya masih berkeliaran mengingat handuk perempat paha Maria.



Sejak kapan Alfy mengganti panggilannya? Maria sedikit merasa Aneh dengan sebutan yang Alfy gunakan. Sedikit senang dan sedikit terkejut mendengarnya.



"Kenapa kau melihatku seperti itu?" Maria menahan senyumannya melihat pipi Alfy yang sedikit memerah. 'Akhh... dia sangat lucu, bagaimana aku bisa melepaskan kucing besarku ini.' Maria juga menahan tanganya agar tidak mencubit pipi Alfy.



"Oh iya, kau punya sesuatu untuk disampaikan padaku?" Tanya Maria mengalihkan pembicaraan atau dia akan tertawa terbahak-bahak dan menggagalkan rencananya untuk menjauhi Alfy.



"Mmm.. tidak bisa kah kita bercerai saja?"



"..." Maria menatap kosong pada televisi lebar yang tipis itu. Petanyaan Alfy menohok hatinya, seolah perkataan, pertanyaan, pernyataan Alfy selalu menyadarkan siapa dirinya bagi Alfy.



Perceraian. Itu sangat mudah bagi Alfy, tapi bagi Maria? Dia bahkan tidak bisa mengucapkan kata itu apa lagi benar-benar melakukannya.



"Setelah kita bercerai, kau bisa hidup bersama orang yang kau cintai dan mencintaimu."



"..."



"Contohnya Yogi, dia sangat mencintaimu. Dulu waktu kami di Amerika, dia selalu memceritakan tentangmu."



"..." 'kenapa kamu belum mengerti juga, Alfy?'



"Wajahnya begitu bahagia saat dia bercerita tentangmu, mata dinginnya berubah begitu saja."



Alfy. Selangkah demi selangkah Alfy terus saja menjauhi Maria, tanpa ingin tahu apa yang di rasakan wanita sok kuat seperti Maria. Maria berdiri dari duduknya menghapus cepat air matanya sebelum Alfy melihatnya.




Alfy membuang nafas beratnya dan menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Dia harus bicara selembut apa lagi agar Maria mau menyetujui permintaan untuk menceraikannya.



●°●



Air mata terus saja turun dari mata Maria seperti rumah tanpa atap jadi rumah iti terus terguyur basahnya hujan. Sejak malam Maria tidak berhentinya menangis, air matany membasahi sepai yang di gunakanya


Maria yakin matanya sudah sangat bengkak dan hitam seperti panda karena Maria belum tidur dari tapi malam.



Semalam Maria terus memikirkan perkataan Alfy, ia mencari jalan keluar yang akan di ambilnnya dan jalan keluar yang di ambilnya ini mungkin akan menyakiti seseorang, tapi itu lah pilihan yang di ambil Maria jadi semua orang harus memaklumi pilihannya.



Setelah Maria membersikan dari lengketnya keringat dan air mata di tubuhnya, Maria keluar dari kamarnya. Ia memasukan dua sendok ke dalam lemari es untuk membekukan sendoknya. Setelah di lihat-lihat ternyata matanya benar-benar bengkak, jadi ini lah salah satu cara untuk menghilangkan bengkak di matanya.



"Milla, kau pernah sakit hati karena seseorang yang kau cintai?" Mella yang sedang memasak sarapan untuk Maria, melirik lalu kembali menatap pekerjaannya.



"Pernah."



"Lalu kau biasa saja? Tidak melakukan apapun?"



"Iyah, aku mengikhlaskannya karena dia mungkin bukan jodoh ku." Jawab Milla.



"Walaupun kau sudah menikah dan sangat mencintainya?"



"Menikah, belum tentu orang yang kita nikahi itu jodoh kita, mba. Dan walaupun mereka berpisah, jika mereka memang berjodoh mereka pasti akan di pertemukan kembali."



"..."



"Jadi kalau mba Maria sudah tidak kuat bersama Tuan Alfy, lebih baik mba berpisah. Karena kalau mba dan mas Alfy memang jodoh kalian pasti akan di pertemukan kembali."



Walaupun prekataan Milla sedikit kasar, tapi Milla ada benarnya. Kalau aku memaksakan ada di samping Alfy tetus, Alfy akan terluka dan Maria juga akan terluka. Jadi ada baiknya juga Maria berpisah dengan Alfy.



"Tapi sepertinya, aku memang bukan jodohnya Alfy. Mil,"



"Mba harus sabar, ya? Di luar sana pasti ada jodoh yang lebih baik dari Tuan Alfy dan kalau dia memang jodoh mba, Tuan Alfy pasti akan menyesal."



Milla mendekati Maria dan mengelus, mengpokpok punggung Maria dengan lembut. Seperti cara seorang ibu menenagkan anaknya, Maria jadi malu karena Mella lebih bisa berpikir dewasa tidak seperti dirinya.



"Terimakasih Mil." Milla membalasnya dengan menganggukan kepala.



"Oh iya, kamu mau ikut sama mba gak? kalo semisalnya mba keluar dari rumah ini. Mba kepingin hidup bareng kamu terus Mil, mba pengen ankat kamu jadi adik mba. Kamu mau kan Mil? Nnti kalo kamu tinggal sama mba, kamu lanjutin sekolah kamu. Kamu suka sekolah kan?"



"Tapi mb__"



"Gak ada tapi-tapian Milla! Pokoknya nanti kamu ikut mba. Kamu mau mata kamu tercemar?"



"Tercemar? Maksud mba?"



"Mereka itu sering berciuman, dimana pun! Kamu pengen, nganterin makanan buat mereka ternyata mereka lagi ciuman di meja makan? Atau kamu mau membereskan kamar mereka, ternyata mereka lagi__"



"Iyah mba. Milla mau tinggal sama mba, tapi gak gratis ya?" Mella memotong pembicaraan Maria. Milla tahu sebenarnya Maria tidak kuat membayangkan apa yang dibicarakannya.



"Terimakasih lagi, Mil. BTW, ini bau gosong gitu deh." Ucap Maria membuat Mella menepuk keras jidatnya, Maria meringis melihatnya 'itu pasti sakit.'



Mella buru-buru mematikan kompor yang tidak jauh dari mereka, saking seriusnya mereka bicara Mella sampai lupa sedang masak. "Milla lupa matiin kompornya mbaaa." Milla menatap telur yang sudah gosong dengan wajah lesunya.



"Hahaha." Maria malah menertawakan calon adiknya, pada hal ini semua juga salah Maria yang pake acara curhat segala saat lagi Mella sedang masak.



Dan akhirnya mereka tertawa keras memenuhi dapur, membuat bu Mia menggelengkan kepalanya melihat kelakukan mereka. Satu persatu luka dalam hati Maria sembuh, hanya dengan cara mengikhlaskannya.