
Air mata belum juga berhenti mengalir dari mata Maria. Seakan dia ingin menunjukan pada setiap orang kalau dirinya sedang terluka, dan dia juga seakan sedang menunjukan sangat besar perasaan cinta yang di miliknya untuk Alfy.
Air matanya terus membasahi kain putih yang menyelimuti bantalnya. Dunia telah berbalik menjauhinya.
Berharap dunianya akan indah seperti surga setelah menikah dengan Alfy, malah membawanya pada neraka dunia. Maria merasa dunia terus memohon pada Tuhan, agar Tuhan tidak membiarkan dia merasakan keindahan dunia.
Membuka mata pada dunia, sekarang terasa lebih sulit bagi Maria. Dalam alam bawah sadarnya, ada suara yang membisikinya untuk pergi menjauhi dunia. Dunia yang tidak memberikannya tersenyum, setelah angel nya pergi dari dunia ini.
Apakah karena ada kesalahan di masa lalu, yang membuatnya merasakan karma?
Setelah Maria kembali dari hotel Alfy, dia langsung mengurung dirinya di dalam kamar. Tidak ada lagi yang bisa dilakukannya dengan dada yang sakit dan tubuh yang lemas.
Di perjalanan Maria mencari obatnya, tapi dia tidak menemukan obat itu. Seingatnya dia selalu membawa obat itu, entah lah kapan terakhir obat itu ada di dalam tasnya.
Ceklek...
Suara pintu kamar Maria, menandakan akan ada seseorang yang masuk. Maria cepat-cepat memejamkan matanya dan memasang baik-baik telingannya, untuk mengetahui siapa dan ingin apa orang itu.
"Maria, kau ingin makan sesuatu? Dari tadi siang kau belum makan."
huft...
Maria membuang nafas leganya. Yang masuk ke dalam kamarnya adalah Milla. 'Lagi pula siapa lagi yang kau pikir akan masuk ke dalam kamarmu, Maria. Kau pikir Alfy yang akan masuk ke dalam kamarmu? JANGAN MIMPI!'
Maria mengeluarkan kepalanya dari selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. "Pergilah, Milla. Aku sedang ingin makan apapun."
"Bagaimana kalau kau nanti sakit, Maria?" Milla membawa kakinya mendekati Maria dan tangannya menahan tangan Maria yang akan menutup kepalanya lagi dengan selimut.
"Tidak akan. Lagi pula aku sudah makan tadi siang."
Bohong! Milla tahu Maria sedang berbohong padanya. Tapi bisa apa lgi kalau memang Maria tidak ingin makan, dia tidak bisa memaksa Maria. Milla ingin kembali menjauhi Maria, tapi Maria sudah menarik lebih dulu tangannya dan menariknya untuk duduk di pinggir kasurnya. Milla tidak ingin menolak, dia mengikuti Maria untuk duduk di pinggir kasur Maria. 'empuk, sekali.'
Pikiran Milla tentang kasur Maria yang empuk terhenti saat tiba-tiba Maria duduk dan langsung memeluknya. Dia hanya terdiam tidak melakukan apapun, sampai di rasa baju dasternya basah. Lagi-lagi hati Milla terenyuh saat mengetahui Maria menangis di pelukannya. Milla membalas pelukan Maria, semoga pelukannya memberikan sedikit kekuatan untuk Maria. Mengelus punggung wanita itu.
Entah kenapa setelah melihat Maria yang menahan sakit dan menahan tangisnya sendirin, membuat Milla tersadar bahwa hidup dengan orang yang kita cintai belum tentu akan bahagia. Padahal Milla yakin Maria bukan orang yang jahat atau semacamnya, tapi kenapa Maria terus mendapatkan siksaan seperti ini.
Maria melerai pelukannya setelah merasa puas dan lelah menangis di pelukan Milla. "Milla, boleh aku meminta sesuatu padamu?" Tanya Maria masih dengan suara serak habis nangisnya.
Milla menyetujui permintaan Maria dengan menganggukan kepalanya, walaupun sedikit merasa ragu untuk bisa melakukan permintaan Maria.
"Aku sudah menganggapmu sebagai adikku sendiri, jadi... maukah kamu untuk selalu berada di sampingku?"
Milla terdiam, tidak bisa menjawab pertanyaan Maria. Dia juga sedikit tidak percaya Maria mengaggapnya sebagai adik dan mengingkannya untuk selalu bersama Maria.
"Aku sudah memutuskan untuk berhenti dari dunia permodelan dan sekarang aku ingin menjelajahi dunia ini denganmu, kau mau menemanikku kan?" 'karena aku harap dengan memutari dunia, aku bisa melupakan cintaku pada Alfy.' Lanjut Maria dalam hati.
"Ta.. pi aku tidak punya uang sabanyak itu untuk bisa mengelilinngi dunia bersamamu," Milla memberikan alasan yang masuk akal.
Maria menegakan duduknya. "Kau tidak perlu memikirkan itu, aku yang akan membayarkannya untukmu. Bagaimana?" Maria menaik turunkan alisnya.
Milla terlihat berpikir dengan keningnya yang sedikit mengerut. "Apa jawabanmu?" Maria tidak sabar menunggu jawaban Milla, menggoyangkan tangan Milla.
"Aku akan menjawabmu, kalau kau ingin makan." 'Nice shoot, Milla' Milla membanggakan dirinya yang sedikit cerdas untuk memaksa Maria agar tetap ingin makan.
Milla bangun dari duduknya, kemudia pergi keluar dari kamar Maria untuk membawakan nyonyanya itu makan.
"Aku suudah bilang tidak mau makan, Milla. Jangan me__"
Pintu kamar Maria kembali terbuka dan perkataan Maria terhenti saat tidak menemukan Milla di depan pintu, melainkan Alfy yang berdiri di depan pintu.
Seluruh tubuh Maria menjadi kaku. 'Dia pasti kembali karena pesan yangku tinggalkan di kamar hotelnya. Apa sebegitu senangnya dia sampai tidak bisa menahan diri sampai besok untuk menemuiku.' Air mata kembali menumpuk di matanya.
Dia sangat merindukan suaminya. Sudah dua bulan dia tidak melihat wajah Alfy, tapi rasa tindu itu hilang saat mengingat Alfy menemunya untuk menagih janjinya. Kecewa, itulah perasaan yang dia rasakan dan Maria tidak sanggup menggambarkan bagaimana perasaannya.
Maria ingin sekali memeluk Alfy, tapi Alfy pasti tidak akan menyukainya. Tanpa sadar Manggigit bibir dalamnya, pandangannya jatuh pada tangan Alfy yang memegang handphone hancur miliknya.
Apa hari ini Maria akan mendapatkan teriakan lagi dari Alfy dan Maria terima jika hari ini Alfy akan meneriaknya lagi karena dia memang salah memasuki kamar Alfy tanpa izin darinya lebih dulu.
"Maa..af,"
"Maaf? Untuk apa?"
Ucapan Alfy membuat Maria mendongakan kepalanya menatap mata Alfy. "Untuk meninggalkan handphonemu? atau untuk masuk ke kamarku tanpa seizinku?"
Maria melihat Alfy mengeraskan rahangnya, membuat Maria paninik dengan apa yang akan di lakukan Alfy. Maria meremas tangannya yang sudah basah.
"Jangan pernah masuk kekamarku!"
Prangg...
Maria memejamkan matanya saat Alfy membanting handphonenya. Tubuh Maria bergetar dan air tumpah begitu saja dari matanya.
Maria berlari dan memeluk Alfy dari belakang. "Maafkan aku, maafkan aku. Lalu siapa yang boleh masuk ke kamarmu? Yunna? Aku yang istrimu, tapi kenapa Yunna yang boleh masuk ke kamarmu?"
Maria mengingat resepsionis yang tidak percaya padaku saat Maria ingin ke kamar Alfy, karena setahu resepsionis itu Yunna lah wanitanya Alfy. Pernyataan iyu membuat air mata terus turun.
"Baiklah. Aku akan mengabulkan keinginmu, tapi dengan satu syarat, berikan aku dua puluh empat jam milikmu. Selama itu kau harus mengikuti kemanapun aku pergi dan menganggapku sebagai istrimu, istrimu yang sebenarnya. Dan setelah itu aku akan melepasmu." Melepaskanmu untuk bahagia.