About My Pain

About My Pain
Chapter Fourty Four



Semua sorotan tidak pindah dari Maria Nuan Ollyfi. Mulai dari kamera, lampu, sampai semua mata yang ada di dalam studio menatapnya.



Bukan karena ada yang salah dengan wajah atau penampilannya. Mereka semua penasaran dengan jawaban apa yang akan Maria berikan dari semua pertanyaan di kepala mereka.



Saat ini dunia maya memperhatikannya. Apa lagi setelah kejadian di caffe tersebar keseluruh internet. Berita itu menjadi hot news yang paling banyak dicari sepanjang tahun ini.



Maria terus menelan ludahnya, sedangkan bibirnya membentuk senyuman manis yang terntu saja berupa paksaan. Ia merasa ingin mati sekarang juga.



Maria berpikir Alfy bisa menangani masalah itu dengan benar, tapi ternyata tidak. Bagaimana bisa berita itu bocor ke dunia pres yang sangat gila, kalau Alfy bisa menangani masalah ini dengan baik.



Ingin sekali dia membuang wajahnya ke laut Mati. Wawancara yang Maria datangi ternyata menjebaknya ke dalam mulut buaya. Tidak ada pertanyaan 'kenapa berhentinya Maria dari dunia hiburan.' Yang ada hanya 'apakah semua kejadian di caffe itu benar adanya?' Dan segala ***** bengeknya.



Setelah ini, bisa dipastikan Maria akan langsung mencekiki leher produser acara yang saat ini sedang tersenyum licik, seolah dia sudah mendapatkan santapannya.



"Jadi apa benar di caffe itu anda, Maria Yoan?" Pembawa acara wanita itu terus saja menyudutkannya dengan pertanyaan yang bisa membunuhnya secara perlahan-lahan.



Sebisa mungkin Maria memberikan senyum termanisnya. Entah di depan kamera atau semua orang yang mamatapnya.



Berbohong untuk menyangkalpun rasanya sudah tidak bisa, karena mereka memiliki video yang dimana Alfy sedang manaparnya.



"Iya, itu benar. Saat itu aku sedang berkonflik dengan Alfy." Jawab Maria setenang mungkin. Dia berpikir keras untuk mejawab setiap pertanyaan. Keringat dingin sudah membasahi telapak tangannya yanga mengepal.



"Tapi Alfy menamparmu. Benar, bukan?" Lagi-lagi pertanyaan itu menyudutkannya.



"Iyaaa.. karena aku lebih dulu menampar temannya dengan alasan yang tidak jelas dan itu membuat Alfy marah."



"Alasan apa itu?"



'BUKAN URUSAN MU!' Maria ingin sekali meneriaki wanita yang lebih muda dua tahun darinya, seperti itu.



"Saat ini kami sudah berbaikan dan itu bukan lagi menjadi permasalahan." Hening. Semua orang mendengarkan cerita Maria. Jadi Maria terus mengarang bebas seakan semua itu benar-benar terjadi padanya.



"Sesampainya di rumah, Alfy langsung meminta maaf padaku karena sudah berlaku kasar padaku. Dia mengatakan cintanya berulang-ulang, sampai membuat hatiku tenang." Masih hening. Maria akan sangat beruntung kalau Alfy melakukan apa yang aku katakan.



"Alfy terus memelukku, tidak ada alasan yang bisa membuat Alfy melepaskan pelukanya dan kata-kata manisnya mengantarku ke dalam tidurnya di dalam pelukannya.



Di pagi harinya, dia menghujaniku dengan ciuman, mmasakanku nasi goreng ke sukaanku. Kemarin dia mengajakku ke pulau yang sangat indah, berdua. Kalian tahu? Sebenarnya dibalik wajahnya yang dingin hatinya sangat hangat. Hahaha... bahkan dia tidak membiarkan pria mendekatiku, sedikitpun."



Air mata menguap dimatanya. Semua orang mengaggap dia menangis bahagia, tapi pada kenyaannya dia menangis merutuki dirinya yang terlalu banyak menghayal hal indah bersama Alfy.



Alfy nya begitu jauh digapai. Bahkan bintangpun kalah jauh darinya. Alfy terlalu sempurna untuk Maria yang banyak kekurangan.




'Mom! Apa kau melihatku hari ini? Di sini? Dihadapan semua orang,  aku berbohong. Apa aku salah memberi tahu mereka keinginan terbesarku? Dan Mom tidak bisakah, Mom meminta pada Tuhan untuk mewujudkan keinginanku? Mom yang saat ini berada di dekat Tuhan. Berita tahunya, Mom!'



Tangan Maria bergerak menghapus air mata yabg jatuh dari matanya. Dia menatap semua orang yang ada. Apa mereka percaya dengan apa yang Maria katakan?



Ya, mereka percaya. Bukan Maria kalau tidak bisa berakting sangat baik dibalik kamera live yang menyorotnya.



Apa yang saat ini semua orang rasakan? Bahagia? Senang?



"Hahahaa.. aku jadi malu karena bicaraku tidak disaring lebih dulu." Maria menutup wajahnya menahan air matanya agar tidak jatuh lagi.



Di lain sisi. Alfy sedang meremas remote control televisi. Kalau tangan seseorang yang saat ini berada di genggamnya, tangan itu pasti sudah mengeluarkan darah segar.



Alfy menekan handphone mencari kontak seseorang dan memanggilnya.



Dalam dering pertama orang itu lansung mangangkatnya.



"Hal__"



"KAU BODOH?" Sebelum orang itu menyapa Alfy lebih dulu menyemprotnya dengan kata kasar.



"BAGAIMAN BISA BERITA ITU TERSEBAR? BUKANKAH AKU SUDAH MENYURUHMU MEMBAYAR LINTAH DARAT ITU?"



"Mana aku tahu, Alfy? Aku sudah menutup mulut mereka dengan uang, tapi apa boleh buat? Tidak semua mau menerima uangmu."



Rian sangat kaget dengan teriakan Alfy di handphone nya. Ini pertama kalinya Alfy sangat marah, biasanya dia bisa menahan amarahnya. Walaupun saat sendiri Alfy akan mengacurkan semua barang yang ditemuinya.



"SIAL!" Alfy mematikan panggilannya. Dia memang salah karena menyepelekan hal ini dari awal.



Alfy kembali mengetuk kasah handphonenya, mencari kontak seseorang yang saat ini memenuhi kepalanya.



Dalam dering ke empat, orang itu baru mengangat panggilannya.



"Hallo..." suara lembut itu sedikit menyiram kobaran api dihatinya.



_____________________________


Instagram Author : @dalaeliani


(kalian bisa teror aku disana, disini blm ada notif kalo kalian teror aku🤭)