
Maria merutuki dirinya karena lagi-lagi ia berada dalam kondisi mengindari dokter Theo, orang yang harus ia temui hampir setaip hari.
Catatan medis harian pasien Theo sudah ada ditangannya, tubuhnya juga sudah berada di depan pintu ruangan pria itu, tinggal memutar handle pintu nampaklah dokter Theo. Maria tidak mau masuk, tapi ia harus menahan rasa ketidak profesionalannya.
Maria memutar handle pintu, membuat pria berkemeja rapih itu beralih kearahnya. Ah, saking gugupnya Maria sampai lupa mengetuk pintu. "Maaf, dok. Ini check up nya." Maria menaruh map di tangannya.
"Maria, kamu menghindari saya lagi?" Pertanyaan Theo menahan langkah Maria.
Maria menelan selivanya dan berbalik menghadap Theo yang sudah berdiri didepannya. Tatapan mereka bertemu.
"Apa kita tidak bisa menjadi dekat." Maria diam tidak menjawab.
"Berikan saya waktu 1 bulan, kalau dalam waktu itu kamu tetap tidak merasakan apapun, saya akan menyerah dan berhenti mendekatimu."
Maria memikirkan perkataan Theo dan tidak ada salahnya mereka mencoba dekat. Lagi pula bisa saja selama satu bulan dokter Theo menemukan wanita yang di sukannya. Maria hanya harus tidak membawa perasaan apapun yang Theo katakan. Tapi Maria tidak bisa melakukan itu karena ia sudah memiliki Rion. Bagaimana jika Rion benar-benar menyukai Theo dan ternyata persaan Theo padanya hanya sebatas penasaran.
"dokter, untuk saya ini bukan hal yang bisa dijadikan main-main, seperti wanita diluar sana yang belum menikah dan memiliki putra. bagaimana kalau ternyata dokter hanya penasaran sama saya dan putra saya terlanjur menyukai dokter? apa yang akan dokter lakukan jika hal itu benar-benar terjadi? dokter akan menyakiti perasaan Rion."
Theo menatap ke dalam mata Maria. "Saya tidak melakukan hal seperti ini hanya karena saya penasaran sama kamu, Maria. Saya serius. Sekalipun nanti Rion benar menyukai saya dan kamu tetapi kamu tidak menyukai saya, kalau kamu tidak menolak saya, saya mau menjadi ayahnya Rion."
Perkataan Theo selalu membuat Maria tercengang. Sebenarnya apa isi pikiran Theo? Pria mapan seperti Theo bisa mendapat wanita diluaran sana yang lebih baik darinya dengan mudah, tapi kenapa pria di hadapannya ini bersikeras mau mendekatinya yang seorang janda beranak satu? Membuat hati Maria berdetak tidak biasa.
"Apa hal yang bisa kamu jaminkan? Kamu tahu aku sudah menikah dan aku tahu hal yang paling susah dilakukan pria adalah menepati janjinya. Kamu bisa memberikan semua harta kamu dan sisa kebagaiaan kamu, jika kamu tidak menepati janji kamu?"
"Kamu bakal miskin dan menderita kalau kamu tidak bisa tepati janji kamu?" Maria kembali meyakinkan Theo dan pria itu mengangguk lagi tanpa ragu.
Maria memebuang nafasnya dengan berat. "Janji?"
Theo tersenyum dan mengambil alih tangan Maria untuk digenggam. "Aku janji."
Maria membalas senyuman Theo dengan menujukan wajah kesalnya. Karena berbicara asal, ia sudah mengambil keputusan tanpa memikirkannya terlebih dahulu, semoga keputusan ini tidak membawanya dan Rion ke dalam tidak bahagiaan lainnya.
keduanya hanyut kedalam tatapan dalam dan tenpa sadar Maria benar-benar memberikan Theo kepercayaannya.
tok.. tok.. tok..
ketukan pintu menyadarkan mereka dari ketenggelaman mereka dari pesona masing-masing.
Maria membuka pintu ruangan Theo, mempersilahkan persilahkan suster masuk untuk memberikan catatan medis pasien pertama yang akan melakukan konsultasi pada Theo hari ini. Maria menjaga ekspresi wajahnya agar tidak tersenyum berlebihan yang akan menimpulkan gosip baru di grup chat satu devisi.
_
How you like that? 🤣
maaf sekali para pembacaku, kuliah online bikin aku banyak tugas sampe ga kepikiran buat up cerita. aku harap cerita singkat ini menghibur kalian. ^_^