
"Papi, aku mau menceraikan Alfy." Maria meremas-remas tangannya sendiri dan seperti yang di katakan Maria, inilah keputusan yang di ambil Maria untuk masalah rumah tangganya.
"..."
Tapi pria itu hanya diam dengan ekspresi dingin yang memenuhi wajah ayahnya. Maria semakin takut melihat ayahnya seperti ini. Sebenarnya Maria juga tidak mau bercerai, tapi Alfy tidak suka hudup bersamanya jadi ia tidak bisa menahan Alfy lebih lama lagi.
"Papi. Maria bilang, Maria mau menceraikan Alfy." Maria mengulang ucapannya, takut ayahnya tidak mendengarkan ucapannya.
"Apa kamu serius dengan ucapanmu ini Maria?" Maria menjawab ayahnya dengan menganggukan kepalanga. Ayah Maria membuang nafas berat, seperti orang yang menahan amarahnya.
"Tidak. Ayah tidak mengizinkan kamu bercerai. Kamu lupa, baru berapa bulan kamu menikah dengannya? Kalau ada malah kamu harus membicarkan dengannya secara baik-baik Maria, bukannya malah meminta beecerai seperti ini."
"..."
"Dulu kamu yang meminta Papi untuk menjodohkanmi dengan Alfy, tapi apa ini? Papi bahkan belum mendengar kami hamil, tapi kamu sudah minta cerai. Apa menurutmu pernikan itu sebuah mainan, Maria?"
Maria ingin mengelak perkataannya, tapi semua yang di katakan ayahnya tidak semuanya salah. Siapa orang yang tidak akan mengatakanpernikahan itu mainan, kalau baru beberapa bulan menikah sudah ingin bercerai?
Maria ingin sekali menceritakan masalah rumah tangganya pada ayahnya dan salahkan dirinya yang belum berani bercerita tentang Alfy.
"Kamu tidak akan bercerai apa lagi tanpa alasan yang jelas seperti ini."
"Tapi Papi_"
"Tidak ada tapi-tapi Maria! Sekarang kamu pulang ke rumahmu dan bicarakan baik-baik dengan Alfy!"
Ayah Maria bangit dari duduknya pergi ke dalam kamarnya meninggalkan Maria di ruang tamu yang besar dan sepi.
Maria akan keluar dari rumah besar ayahnya. Mr. Ollify mengintip dari pintu kamarnya, ia tidak kuat melihat putri satu-satunya dengan air mata yang menggenang di matanya. Kenapa tuhan memberikannya cobaan yang berat sampai putrinya? Apa ini semua karena kesalahan masa lalunya?
'Maafkan aku sayang, karena membuat putri kita menangis.'
●°●
"Hallo mami. How are you?"
"..."
Tidak ada jawaban dari sapaannya Maria.
"Pasti mami baik-baik aja, di sanakan?"
"..."
"Aku baru saja bertemu dengan papi. Aku bicara kalau aku ingin menceraikan Alfy, tapi mami tahu? Dia sangat marah mendengar ucapanku."
Maria mengusap lembut batu nisan yang bertuliskan nama, tanggal lahir, dan tanggal wafat ibunya. Seolah ia sedang memegang ibunya, seolah ia sedang beebicara dengan ibunya.
Tanpa terasa air mata Maria sudah menetes membasahi pipinya. "Apa aku salah mami? Bukankan mami yang menyuruhku menjauhi sesuatu yang melukaiku?" Maria mencium batu nisan ibunya.
"Aku sangat merindukamu mami, aku rasa papi juga begitu. Dan aku juga yakin papi sangat mencintaimu mami karena sampai sekarang papi tidak mau mencari penggantimu, pada hal aku sangat tahu dia kesepian tinggal di rumah besar milik kalian."
Ingatan-ingatan bersama sang ibu membuat air mata Maria terus turun menghancurkan benteng pertahan yang selama ini Maria buat, hancur seketika. Hanya di depan ibunya Maria berani mengungkapkan semua perasaan sakit yang di rasakannya, meski ibunya sudah tidak ada di dunia ini, ibunya masih ada di dalam hati Maria terdalam.
"Mami.. bagaimana rasa mempunyai anak? Apa punya anak membuat mami bahagia, mempunyai aku misalnya?"
"..."
Tetap tidak ada balasan, tapi pikirannya menjawab seolah-olah yang ada di pikirannya adalah jawaban yang di berikan ibunya. 'Mami sangat bahagia sayang, apa lagi kamu yang menjadi anak mami. Mami sangat beruntung bisa memiliki Maria, anak mami yang manis.'
"Benarkah? Kalau begitu Maria juga ingin mempunyai anak yang manis, tapi apakah tidak apa-apa tanpa seorang ayah?"
"..."
"..."
"Kenapa mami ga_"
"Maria?" Suara lembut yang memanggil namanya dari belakang membuat Maria menghentikan ucapannya, dengan cepat Maria menghapus jejak air mata di pipinya.
Maria berdiri dari duduknya dan berbalik melihat perempuan yang sedang berdiri di belakangnya. Walau kacamata hitam sedikit menutupi wajah cantik itu, tapi Maria sangat tahu siapa wanita cantik di depannya ini.
"Ternyata benar, kau Maria." Wanita cantik itu menarik ujung bibirnya. 'Senyuman itu,'
"I..ya.. Sedang apa kau di sini.., Fan..ny?"
Sudah lama sekali mereka tidak bertemu. Sejak Maria yang memilih dunia modeling dan meninggalkan dunia bisnis, membuat mereka tidak lagi bisa bertemu. Walau sesekali Fanny melihat sahabatnya di televisi, namun Fanny sama sekali tidak punya waktu untuk bertemu, begitupun Maria.
"Aku? Oh, aku ke sini untuk melihat makam ayahku. Udah selesai, tapi melihatmu di sini aku ingin menyapamu lebih dulu. Bagaimana kabarmu?"
Wanita keturunan Kanada dan Korea itu bisa tinggal di Indonesia karena ayahnya yang sangat mencintai Indonesia. Walaupun tidak ada darah Indonesia menurun di ayahnya, pria tua itu langsung jatuh cinta saat berlibur ke Indonesia dan memutuskan untuk menghabiskan umurnya di Indonesia.
Maria tersenyum dengan tulusnya. " kabar ku baik, kabar mu?"
"Aku juga baik. Aku dengar, kau sudah menikah. Apa kau bahagia setelah menikah?"
Senyum Maria luntur seperti terkena air, wanita itu terdiam sejenak. Memikirkan apa yang akan di katakannya pada sahabat baiknnya ini, dia berkata jujur atau dia berkata bohong. Jika ia berkata bohong
"Tidak. Aku memang berfikir semuanya akan berjalan baik setelah aku menikah dan aku bahagia, tapi ternyata tidak semudah itu."
Maria menjawab menatap kosong, sambil membayangkan wajah Alfy bersama dengan Yunna.
Fanny mendekat ke arah Maria dan memeluk sahabatnya.
"Terimakasih kau sudah memelukku, Fanny."
Maria sangat membutuhkan pelukan, dia bahagia sekali masih ada orang yang ingin memeluknya.
"Kau bisa datang padaku kapan pun kau mau, Maria!"
Fanny melepaskan pelukannya dan menghapus jejak air mata di pipi Maria.
"Aku sangat ingin menjadi guardian angel mu, Maria." Lanjut Fanny.
Fanny beralih jongkok dan melihat gundukan tanah.
"Tente. Bolehkan, sekarang Fanny yang jadi guardian angel nya Maria? Tante tahu sendiri bagaimana hidup Maria tanpa guardian angel, seperti ku! Bukankah aku sangat cocok tante? Seperti nama tengahku Angelin."
Ucap Fanny dengan nada yang sedikit bercanda.
Pluk..
"Akhhh... kau ini apa-apan sih. Lihat tante! Anak mu ini sudah seperti singa yang lepas dari kandangnya,"
Fanny memegangi punggungnya dapat pukulan keras dari Maria.
Dengan rasa percaya diri yang di miliki Fanny selalu bisa membuat Maria tertawa. Bahkan dengan rasa percaya diri itu yang membuat Fanny sukses, hingga sekarang.
Hanya pertemuan pertama, semua orang akan bagitu suka dengan pribadi Fanny.
Sayang sekali pria yang memilih meninggalkan Fanny. Ya! dan dia itu pria bodoh yang tidak tahu diri.
"Hei.. bodoh, Ingat! Nama mu Afanny Mulea Awlyeen, dari mana Angelin-nya!?"
"Hehehehe... benarkah." Fanny dan Maria tertawa bersama. Angelina adalah panggilan pria bodoh yang meninggalkan Fanny. 'Dasar pria itu, aku akan membunuhnya kalau aku melihatnya lagi.'