About My Pain

About My Pain
Chapter Fifty



Maria berdiri di tengah ruangan besar. Matanya terpejam dan hidungnya menghirup campuran berbagai macam jenis aroma parfume.


Setelah dirasa cukup dengan itu. Maria membuang nafas kasarnya karena kembali mendapati pemandangan sama, seperti sebelum ia menuntup mata. Puluhan makhluk ciptaan Tuhan dari tanah, berpakaian rapih, indah, dan mahal.


Ini adalah hari yang Maria tunggu-tunggu. Seandainya Maria bisa, ia tidak ingin hari ini ada. Hari dimana, Maria harus berusaha melupakan semua kenangan tentang Alfy demi masa depannya.


Acara yang Maria buat sangat besar, sampai banyak media pers yang sengaja Maria undang untuk mengabadikan semua kejadian yang akan terjadi hari ini.


Maria berjalan mendekati salah seseorang yang sedang menyiapkan kameranya. "hallo, Bam. Bagaimana kabarmu?"


Pria yang di panggil Bam itu mengalihkan perhatian dari tripod kamera pada Maria. "Hallo, Maria. Kabarku baik. Bagaimana kabarmu?" Bam mengulurkan tangannya.


Maria menerima uluran tangan Bam. "Kabarku juga baik. Tolong rekam semua acara hari ini sampai selesai! Jangan sampai kau kehilangan barang sedetikpun dari acara hari ini."


"Tentu saja. Aku sudah menyiapkan beberapa harddisk, khusus untuk acara ini."


Maria tersenyum lebar mendengar jawaban dari Bam. Bam seorang photographer. Maria pernah beberapakali menjadi modelnya, karena Bam orang yang super easygoing membuat Maria tidak sungkan memintanya membawa media pers untuk acaranya. Bam pria berwajah yang tampan, tapi saayang sekali dia sudah memiliki istri.


"Sebenarnya ada acara apa hari ini? Di lihat dari gown yang kau gunakan, kau seperti wanita yang siap menikah. Apa Alfy ingin pernikahan kalian diulang, agar semua orang melihat pernikahan kalian?"


       



Maria tertawa, mana mungkin itu terjadi. Mungkin bisa terjadi, tapi di mimpi siang bolongnya.


Tawa Maria terhenti saat ada tangan yang mengehempaskan tangannya dan tangan Bam. Tangan itu milik Alfy. "Bukankah kalian terlalu lama berpegangan tangan?"


Maria terdiam tidak menjawab pertanyaan Alfy. Maria masih terpaku melihat Alfy dengan suit yang kemarin ia beri. Sangat tampan, bahkan jauh lebih tampan dari biasanya.


"Wow! Maafkan aku Mr. Yoan. Istrimu sangat cantik saat tersenyum, jadi aku lupa kami masih pegangan tangan." Ujar Bam dengan wajah yang sama sekali tidak bersalah, sedangkan Alfy memberi tatapan tajamnya.


Memang semua orang belum tahu bahwa Maria dan Alfy sebenarnya sudah bercerai. Tapi kenapa Alfy tiba-tiba merasa aneh, dia marah melihat Maria disentuh orang lain? Alfy menarik Maria menjauhi Bam yang menggeleng tidak percaya. 'pasangan yang lucu'


"Oh, Alfy. Kau sudah datang?" Maria baru bisa kembali dari lamunannya.


"ya." Jawab Alfy singkat dengan wajah tidak enak.


Seandainya__ stop! Jangan lagi menambahkan kata sendainya, karena semua itu sudah terlambat. Maria tidak mungkin kembali mengharapkan Alfy lagi, disaat dia sedang menunggu seseorang yang ditunggunya.


"kau terlihat tampan Alfy, tapi coba ada sedikit senyum dibibirmu, pasti kau terlihat lebih tampan." Maria mencubit kecil kedua sisi pipi Alfy.


"sebenarnya ada apa ini? Kenapa kau memakai gown dan interior wedding ini?" Alfy melihat sekeliling ruangan. "jangan bilang, kau ingin kembali memaksaku menikah lagi denganmu."


Maria tersenyum kecut. Alfy menjadi tidak enak hati melihat reaksi yang diberikan Maria dan dia menyesal sudah mengatakan hal itu.


Maria maju selangkah mendekati Alfy dan tangannya teulur memgang pipi kiri Alfy. "seandainya kau mau, aku akan sangat senang. Tapi sayangnya, aku sedang menunggu seseorang."


Kening Alfy berkerut, mencari maksud perkataan Maria.


"Maria." Suara berat itu mengentikan kerja otak Alfy. Alfy da Maria segera beralih mencari asal suara.


Senyuman dibibir Maria mengembang mendapati pria tampan yang ia tunggu-tunggu. Menghiraukan Alfy, Maria berlari dan memeluk orang itu. "aku sudah lama menunggumu." Bisik Maria.


"maafkan aku, baby girl!" pria itu membalas pelukan Maria.


Pikiran Alfy melayng terbang. Apa yang Maria maksud dengan ini semua? Dia akan menikah dengan pria asing yang sedang memeluknya? Jangan konyol! Alfy bahkan belum memikirkan pernikahannya dengan Yunna. Sial! Perasaan apa yang membuat Alfy tidak tenang saat ini.


'benar! Aku hanya marah karena mersa Maria pernah menjadi milikiku, tapi setelah hari ini, aku yakin tidak akan merasakan perasaan hal semacam ini lagi.'


Alfy menarik nafas panjang, menetralkan ekspresinya saat Maria berjalan bersama pria asing itu, mendekatinya.


"kenalkan dia Alfy." Maria mengenalkan Alfy pada pria itu.


"Alfy? Ah... pria ini yang kau maksud. Mantan suamimu?" Maria menjawab dengan anggukan.


Maria tidak mengenalkan Alfy pada pria ini, jadi Alfy berinisiatif mengulurkan tangannya mencari tahu sendiri, setidaknya siapa nama pria ini. "Alfy."


Dengan cepat pria itu menerima uluran tangan Alfy dengan senyum lebar. "Dane"


Alfy larut dalam memberikan tatapan tajam pada Dane, sampai ada suara lembut yang menyebut namanya. "Alfy?" Mata Alfy mendapati Yunna dengan gown tidak kalah indah dari milik Maria.


"kau sudah datang Yunna? Kau cantik sekali." Baru Alfy ingin pergi mendekati Yunna, tapi kalah cepat dari Maria.


"iya. Kau juga cantik, Maria." Senyum Maria melebar.


Maria menarik tangan Tama, mendekati Yunna. "Kenalkan. Dia Yunna, calon istrinya Alfy."


Yunna diam sebentar mendengar sebutan dari Maria untuknya, sungguh menjadi ada rasa tidak ada bersarang di hati Yunna. Yunna tersenyum ke arah Tama, sambil menundukan kepalanya memberi hormat. "Yunna."


"baiklah, karena semua orang sudah berkumpul, aku mulai saja acara ini." Maria pergi meninggalkan Alfy, Tama, dan Yunna ke tengah ruangan.


"attantion!" teriak Maria membuat semua orang yang masih sibuk berbicang menghentikan aktifitas mereka.


Senyuman manis tidak lepas dari bibir Maria, matanya mengitari seluruh ruangan mancari sesosok yang menatap sendu Maria. Seseorang yang membuat Maria berjanji untuk bahagia setelah hari ini berakhir, seseorang yang menggantikan angelnya.


Ya! Pemilik suara cempreng, yang selalu memanggilnya 'Ria'. Dengan gown yang digunakannya, semakin membuat ibu Alfy terlihat sangat muda.


"Aku akan menyampaikan hal yang belum kalian ketahui." Maria meneguk ludahnya. "Aku dan Alfy, kami... sudah lama bercerai. Dan aku harap hari ini akan menjadi hari bahagia kalian, Alfy, Yunna."


 Semua orang menatapnya tidak percaya dan orang yang sadar dari terkejutannya langsung berbisik, entah membicarakan apa yang jelas bisikan mereka memenuhi ballroom.


Tidak ada yang mengerti dengan apa yang Maria bicarakan. Begitu juga untuk Alfy dan Yunna, ini terlalu mendadak unutuk mereka.


Pikiran Alfy melayang pada isi surat yang Maria tinggalkan di Nikoi island. 'Aku ingin ikut berpasitipasi dalam pernikahanmu.' Shit! Alfy tidak suka dengan semua ini.


"Paman!" Semua orang mencari seseorang yang Maria panggil dengan kata 'Paman'.  Alfy menatap tidak percaya, Maria memanggil pria beranama Tama itu 'Paman'.


 "Paman. Tolong lanjutkan acara ini! Kedua pengantin sudah terlihat tampan dan cantik, jangan membuat riasan mereka rusak."


Alfy berjalan mendekati Maria, lalu menarik Maria menjauh dari keramaian.


Alfy menatap tajam Maria "apa maksud ini semua?" Tanya Alfy dan Maria masih bisa mendengar geraman saat Alfy sedang bicara.


"Pernikahanmu." Maria memberanikan diri melihat ke mata Alfy. "Aku sudah bilang sama Mamah. Aku sudah menceritakan semua apa yang terjadi pada kita dan Mamah bisa mengerti. Sekarang, Mamah mengizinkanmu menikah dengan__"


Plakk...


Perkataan Maria terhenti, begitu tangan besar Alfy yang pernah dipergunakan mengelus tangannya, sakarang tangan itu dengan kerasnya menabrak pipi kirinya.